<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Doktertomi.com &#187; Jakarta Undercover : Sex n&#8217; The City</title>
	<atom:link href="http://www.doktertomi.com/category/best-seller-books/jakarta-undercover-sex-n-the-city/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.doktertomi.com</link>
	<description>Free Inspirations, Informations, News, Guides, Tips and Tricks</description>
	<lastBuildDate>Tue, 27 Apr 2010 13:59:31 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Epilog: Gairahnya EMKA</title>
		<link>http://www.doktertomi.com/2008/03/29/epilog-gairahnya-emka/</link>
		<comments>http://www.doktertomi.com/2008/03/29/epilog-gairahnya-emka/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Mar 2008 07:02:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>antz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jakarta Undercover : Sex n' The City]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://doktertomi.com/2008/03/29/epilog-gairahnya-emka/</guid>
		<description><![CDATA[Seks, uang dan kekuasaan merajut sedemikian rupa dan mendominasi kehidupan manusia kontemporer, khususnya pada kaum urban. Nilai kenikmatan biasanya muncul jauh lebih besar dan dengan demikian dikejar ketimbang nilai ideal tentang kebenaran. Spontanitas keindrawian seringkali menampik atau mendesak potensi refleksif untuk mundur sehingga apa yang kita rasakan atau saksikan, realitas keseharian kita menjadi semacam permainan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fwww.doktertomi.com%2F2008%2F03%2F29%2Fepilog-gairahnya-emka%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=tahoma&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<p>Seks, uang dan kekuasaan merajut sedemikian rupa dan mendominasi kehidupan manusia kontemporer, khususnya pada kaum urban. Nilai kenikmatan biasanya muncul jauh lebih besar dan dengan demikian dikejar ketimbang nilai ideal tentang kebenaran. Spontanitas keindrawian seringkali menampik atau mendesak potensi refleksif untuk mundur sehingga apa yang kita rasakan atau saksikan, realitas keseharian kita menjadi semacam permainan gairah (desire) semata. Logika kehidupan dalam kota metropolitan sebagaimana halnya Jakarta kurang lebih seperti itu. Segala hal yang menyangkut dengan kebutuhan fisik maupun spiritual, sarana komunikasi-transportasi, rekreasi, fantasi, dan Iain-lain, tersedia dan terusmenerus dipercanggih. Dengan tujuan apalagi kalau bukan untuk meninabobokkan masyarakatnya dalam kenikmatan. Tepatnya masyarakat dalam menghadapi dua hal; mimpi dan kenyataan.</p>
<p>Bermimpi dulu apabila potensi kita masih belum mampu menjangkau dan melampiaskan hasrat dan nikmatilah sepuas-puasnya jika memang sudah saatnya untuk itu. Para pemilik modal, produsen dan pengelola usaha semakin cerdas membangkitkan hasrat lewat media-media imajinasiestetik yang bertebaran di mana-mana. Di kota metropolitan memang bertebaran dengan semaraknya slogan atau iklan-iklan audio-visual. Semuanya merupakan serbuan atas wilayah rangsarigan indrawi. Dari sana cara pandang seseorang, secara sadar atau tidak dibangun untuk menghadapi dunia yang memang senantiasa mengundangnya untuk melampiaskan hasrat sehabishabisnya jika mungkin. Pemenuhan hasrat mungkin saja hanya terfokus pada wilayah seksualitas. Suka atau tidak, setuju atau tidak, wilayah inilah yang paling ditekan, terselubung tapi sekaligus diumbar-umbar dalam keseharian manusia urban kontemporer.</p>
<p>Moammar Emka, mungkin salah seorang yang sangat unik bagi begitu banyak penulis dan wartawan yang sedemikian intens membidik wilayah seksualitas dan prakteknya di Jakarta. Usahanya terlihat gigih dalam melakukan investigasi ke ruang-ruang praktek seksual yang hampir tak terbayangkan oleh masyarakat umumnya. Dan patutlah kita syukuri karena dari usahanya itu sekarang bisa menghasilkan sebuah buku yang diberinya judul Sex n&#8217; the City, JAKARTA UNDERCOVER. Bagaimanapun, buku yang ditulis dari hasil observasi dengan tema seperti itu masih cukup langka kita temukan di negeri ini apalagi ditulis oleh orang kita sendiri. Membaca artikel buku ini sepertinya mengundang kita untuk mempertanyakan lagi, apakah teori psikoanalisa Sigmund Freud tentang libido (energi seksual) merupakan hal yang paling mendasar dalam kehidupan manusia adalah benar? Freud bukanlah seorang yang sembarangan berspekulasi di atas pengamatan yang binal karena sudah terang bahwa seksualitas merupakan bagian dari sejarah manusia dan kehidupan.</p>
<p>Betapa pun banyak para ahli menyerang dan menghujat Freud, namun kenyataannya seksualitas masih saja hadir segar dan dominan dalam dimensi historis manusia sekarang. Fenomena yang dibuka oleh Moammar Emka dalam buku ini benar-benar menjadi sesuatu yang menarik, terutama jika kita tempatkan dalam skala yang luas, yakni menyangkut problematika kultural. Cara pandang tentang seksualitas jelas menyangkut dengan konstruksi sebuah kultural tertentu. Ketika Freud mengungkapkan bahwa hidup manusia ditentukan oleh bawah sadar, yakni libido, ia langsung berhadapan dengan norma viktorian yang benar-benar kontradiktif dengan teorinya itu. Kultur viktorian menganggap seks merupakan unsur yang paling mengancam dalam peradaban atau moralitas dan karena itu harus direpresi sedemikian rupa oleh rasionalitas. Justru Freud membuka dan mendobraknya dengan mengesampingkan aspek rasionalitas. Akibatnya, Freud dianggap manusia paling berbahaya dan harus disingkirkan, yang membuat Freud memang harus melarikan diri dari negaranya.</p>
<p>Namun kembali lagi, sejarah pula yang nampaknya berpihak pada Freud. Manusia seolah-olah selalu disadarkan bahwa seksualitas tidak mudah direpresi karena dia akan bangkit terus mencari ruang-ruang yang hidup di manapun dan bagaimanapun itu manusia berada. Atau mungkin, thesis Michel Foucault sangat tepat bahwa sebenarnya seks tidak pernah direpresi karena praktek dan wacana mengenainya selalu muncul dalam setiap zaman. Moralitas yang menganggap seks itu berbahaya dan karena itu dimarjinalkan memang lahir dibekali oleh paham filosofis tertentu. Sudah sejak Plato yang meremehkan tubuh (body) dan mengistimewakan jiwa, seksualitas sepertinya tak dirninati oleh para filsuf untuk dijadikan target perdebatan filosofis. Apalagi paham agama-agama modern sedikit-banyak menerima filsafat Plato, soal tubuh dan seks semakin marjinal. Hanya kemudian muncul filsafat fenomenologi dari Maurice Merleau-Ponty, keberadaan tubuh mulai mendapat perhatian besar.</p>
<p>Pada abad ke-XX, ketika dipertemukan dengan psikoanalisa, tubuh dari pandangan fenomenologi Merlau-Ponty, menjadi sebuah kajian filosofis dan psikologis yang sangat menantang. Tubuh tidak lagi didiskreditkan sebagai sesuatu yang bisa menjerumuskan manusia ke dalam keambrukan peradaban, namun tubuh menjadi subjek dari kesadaran manusia itu sendiri atas dunia kehidupannya. Seksualitas yang senantiasa hadir dalam tubuh pun menjadi sesuatu yang tidak lagi harus diturup-tutupi dan dipandang negatif. Dari seksualitasnya, manusia mendapatkan gairah untuk hidup, gairah untuk menantang hidup atau mencengkerami kehidupannya sendiri. Persoalannya kemudian terletak pada pertanyaan yang sangat mendasar, sampai di mana batas-batas seksualitas bisa membangkitkan kegairahan dan kesegaran untuk menghayati kehidupan? Pertanyaan ini akan kembali lagi mengarahkan perhatian kita pada konteks kultur-kultur tertentu. Seks dan kota, terutama metropolitan, di dalam praktek-praktek tertentu tidak lepas dari persoalan akumulasi modal.</p>
<p>Seks menjadi sesuatu yang mencuat atau terselubung, hal itu tergantung dari bagaimana teknik atau taktik dagang. Secara optimis, apalagi membaca artikel-artikel Moammar Emka dalam bukunya ini, seksualitas lebih sering dipraktekkan dalam rangka akumulasi modal. Maka seks, uang dan kekuasaan sebagaimana disinggung di muka, merupakan rajutan yang membangun sebuah peradaban tertentu. Mungkin kita bisa terperangah atau ragu-ragu, apakah praktek-praktek seksual yang dikemukakan Moammar Emka di sini benar-benar terjadi? Mungkinkah ini&mdash;kalau tidak semua, mungkin sebagian&mdash;rekayasa penulis untuk membuat persoalan ini menjadi sangat sensasional? Apakah kita percaya begitu saja, misalnya pada praktek seksualitas seperti dalam cerita pesta orgy a la pengusaha lalim Caligula terjadi di Jakarta? Pesta seks ganti pasangan dan kelamin? Seks dan makanan, pijitan, yang diramu sedemikian rupa sehingga pelanggan tak ragu mengeluarkan uang jutaan Rupiah dalam satu paket? Yakin atau ragu itu bisa dikembalikan pada diri kita masingmasing.</p>
<p>Praktek seksualitas yang bisa kita tarik dari buku ini menampakkan bahwa gejala paling mencolok dalam kehidupan kaum urban adalah terfokus pada permainan imajinasi dan fantasi. Seks adalah unsur yang sangat dikejar, tapi sekaligus begitu mudah ditinggalkan karena bosan, jenuh, muak manakala itu tinggal dilakukan secara monoton. Ketika sepasang kekasih atau suami-istri tak bisa lagi menjalin kasih dengan intens, kemungkinan paling besar ialah karena praktek seks mereka tak lagi dilakukan secara imajinatif. Di sini seks menjadi sebuah praktek repetitif, kegiatan tanpa &#8216;gerak&#8217;, ritus tanpa makna, sebuah tubuh tanpa organ yang tak lagi receptif dan eksplosif menghayati kehidupan. Maka tak heran, praktek seksualitas yang bervariatifimajinatif dan sensasional di luar pasangan yang lazim, seringkali dilakukan mereka yang sebenarnya sudah punya pasangan, sebagai suami-istri, sebagian oleh mereka yang karena kesepian saja. Untuk mengejar kenikmatan tak peduli seberapa besar uang yang mereka keluarkan, bahkan ada harga yang tak lagi rasional. Mereka tak peduli.</p>
<p>Sekali lagi, punya uang, punya kuasa untuk memiliki kenikmatan seksual yang hendak dikejar. Buku ini memberikan banyak informasi yang mengejutkan tentang praktek seksualitas di Jakarta.</p>
<p>
<ul>
<li><a target="_blank" href="http://www.doktertomi.com" title="Free Inspirations, News, Guides, Tips and Tricks" target="_blank">Doktertomi.com</a> : Free Inspirations, News, Guides, Tips and Tricks</li>
<li><a target="_blank" href="http://www.botolempangan.info" title="Everything You Need To Know About Makassar" target="_blank">Makassar Today</a> : Everything You Need To Know About Makassar</li>
<li><a target="_blank" href="http://www.masterbiznet.com" title="Masternya Bisnis Internet" target="_blank">Masterbiznet.com</a> : Masternya Bisnis Internet</li>
<li><a target="_blank" href="http://www.workinthewebsite.com" title="News, Guides, Tips and Tricks on Website Monitization and Advertising" target="_blank">Work in The Website</a> : News, Guides, Tips and Tricks on Website Monitization and Advertising</li>
</ul>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center shr-bookmarks-bg-shr">
<ul class="socials">
		<li class="shr-blogger">
			<a href="http://www.blogger.com/blog_this.pyra?t&amp;u=http://www.doktertomi.com/2008/03/29/epilog-gairahnya-emka/&amp;n=Epilog%3A+Gairahnya+EMKA&amp;pli=1" rel="nofollow" class="external" title="Blog this on Blogger">Blog this on Blogger</a>
		</li>
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://www.doktertomi.com/2008/03/29/epilog-gairahnya-emka/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://www.doktertomi.com/2008/03/29/epilog-gairahnya-emka/&amp;t=Epilog%3A+Gairahnya+EMKA" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-myspace">
			<a href="http://www.myspace.com/Modules/PostTo/Pages/?u=http://www.doktertomi.com/2008/03/29/epilog-gairahnya-emka/&amp;t=Epilog%3A+Gairahnya+EMKA" rel="nofollow" class="external" title="Post this to MySpace">Post this to MySpace</a>
		</li>
		<li class="shr-technorati">
			<a href="http://technorati.com/faves?add=http://www.doktertomi.com/2008/03/29/epilog-gairahnya-emka/" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Technorati">Share this on Technorati</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Epilog%3A+Gairahnya+EMKA+-+http://b2l.me/bffra&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Epilog%3A+Gairahnya+EMKA&amp;body=Link: http://www.doktertomi.com/2008/03/29/epilog-gairahnya-emka/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Seks%2C%20uang%20dan%20kekuasaan%20merajut%20sedemikian%20rupa%20dan%20mendominasi%20kehidupan%20manusia%20kontemporer%2C%20khususnya%20pada%20kaum%20urban.%20Nilai%20kenikmatan%20biasanya%20muncul%20jauh%20lebih%20besar%20dan%20dengan%20demikian%20dikejar%20ketimbang%20nilai%20ideal%20tentang%20kebenaran.%20Spontanitas%20keindrawian%20seringkali%20menampik%20atau%20mendesak%20" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

<p><img src="http://wptextads.s3.amazonaws.com/images/press/wpta-20x20.jpg" alt="WP Text Ads" border="0" /> <a rel="nofollow" href="http://www.doktertomi.com/wp-content/plugins/wptextads1/wpta.php?wpta_form=1&wpta_cmd=buy&wpta_id=1506" onclick="window.open('http://www.doktertomi.com/wp-content/plugins/wptextads1/wpta.php?wpta_form=1&wpta_cmd=buy&wpta_id=1506', 'nehemiah_window', 'width=550,height=530,scrollbars,resizable'); return false;">Want visitors to your site? Buy an ad here.</a></p><img src="http://www.doktertomi.com/?ak_action=api_record_view&id=1506&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.doktertomi.com/2008/03/29/epilog-gairahnya-emka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kencan Bule-bule Impor (Dari Stripsis, No Hand-Service Sampai 1 Nite Stand)</title>
		<link>http://www.doktertomi.com/2008/03/28/kencan-bule-bule-impor-dari-stripsis-no-hand-service-sampai-1-nite-stand/</link>
		<comments>http://www.doktertomi.com/2008/03/28/kencan-bule-bule-impor-dari-stripsis-no-hand-service-sampai-1-nite-stand/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Mar 2008 07:00:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>antz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jakarta Undercover : Sex n' The City]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://doktertomi.com/2008/03/28/kencan-bule-bule-impor-dari-stripsis-no-hand-service-sampai-1-nite-stand/</guid>
		<description><![CDATA[Bisnis pelesir cinta makin menggila. Sejumlah tempat hiburan malum di Jakarta yang berskala internasional, saat ini tidak hanya menggunakan jasa wanita lokal, tapi juga menggunakan wanita-wanita impor sebagai magnet dan jualan utama. Mereka tidak saja berasal dari negeri-negeri tetangga yang terdapat di kawasan Asia seperti Cina, Taiwan, Philipina atau Thailand, tapi lebih dari itu, banyak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fwww.doktertomi.com%2F2008%2F03%2F28%2Fkencan-bule-bule-impor-dari-stripsis-no-hand-service-sampai-1-nite-stand%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=tahoma&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<p>Bisnis pelesir cinta makin menggila. Sejumlah tempat hiburan malum di Jakarta yang berskala internasional, saat ini tidak hanya menggunakan jasa wanita lokal, tapi juga menggunakan wanita-wanita impor sebagai magnet dan jualan utama. Mereka tidak saja berasal dari negeri-negeri tetangga yang terdapat di kawasan Asia seperti Cina, Taiwan, Philipina atau Thailand, tapi lebih dari itu, banyak yang didatangkan dari negerijauh seperti Rusia, Meksiko sampai Spanyol. Trend bisnis prostitusi makin menjadi-jadi di era globalisasi dan informasi, di milenium ketiga.</p>
<p>Sudah jadi rahasia umum, kalau sejumlah tempat hiburan malam yang terdapat di Jakarta, entah itu yang menggunakan embelembel sebagai diskotek, klub, panti pijat, rumah penampungan dan nama-nama lain. Sebagian besar di antaranya berjualan &#8211; utamanya tak jauh dari jasa wanita penghibur. Dan harus diakui, itu menjadi &#8216;daya tarik&#8217; yang luar biasa bagi tamu lakilaki. Wanita penghibur inilah yang menjadi aset dan jualan utama. Berawal dari pertemuan saya dengan salah satu pengusaha muda, sebut saja Nicolas, 34 tahun -bukan nama sebenarnya, yang mempunyai usaha di bidang entertainment dan advertising. Usaha yang dikelola Nicolas sejak delapan tahun lalu itu, makin hari makin menangguk sukses saja. Setiap bulan, Nicolas menggelar sejumlah acara dari kafe ke kafe, klub ke klub, dan diskotek ke diskotek. Nicolas tidak saja bermain di wilayah Jakarta, tapi juga merambah di kota-kota besar seperti Surabaya, Bandung, dan Medan.</p>
<p>Sebenarnya, perkenalan dengan Nicolas sudah berlangsung cukup lama. Maklum, sebagai pengusaha entertainment, Nicolas nyaris tak lepas dari dunia clubbing. Wajahnya sangat familiar di sejumlah tempat-tempat hiburan trendsetter di Jakarta. Hanya saja, siapa sangka kalau Nicolas ternyata adalah sosok yang menjadi &#8216;creator&#8217; di dunia malam. Acara-acara yang dibuatnya selalu inovatif dan kaya ide. &#8220;Sebagai orang hiburan, saya mesti tahu trend yang terjadi. Pergi ke kafe atau diskotek itu bagian dari sosialisasi diri. Lagi pula, saya kan masih bujangan,&#8221; tukasnya, bercanda.</p>
<p><strong>Menu Bule.</strong></p>
<p>Pertemuan dengan Nicolas tersebut, banyak membawa keberuntungan, paling tidak dari sisi pengetahuannya tentang dunia malam. Dalam beberapa kesempatan, dia kerap mengundang beberapa rekan dekatnya untuk menghadiri beberapa acara yang digelarnya di sejumlah tempat hiburan malam. Pada pertengahan Maret 2002 misalnya, Nicolas mengajak saya menghadiri acaranya di salah satu tempat hiburan ternama, sebut saja SS, di kawasan Kota. Acara tersebut, sebenarnya sederhana saja idenya. Selain menghadirkan sejumlah model cantik untuk ber-catwalk dengan baju-baju seksi, juga ada tiga orang DJ kenamaan.</p>
<p>Hanya saja, untuk menambah gereget, Nicolas menggunakan enam penari striptis yang dengan goyangan dan liukan seksi di tengah-tengah publik. Jarang-jarang, penari striptis berani ditampilkan secara &#8216;open public&#8217; seperti itu. Yang ada, biasanya ya di private room, kalau tidak di karaoke, ya di kamar hotel atau rumah pribadi. Acara tersebut cukup sukses dan mampu memikat sekitar 600 tamu yang datang. Di lain kesempatan, kira-kira pada awal Juni 2002, Nicolas mengundang saya untuk bersantai di ruang karaoke, bertempat di SS -sebuah tempat hiburan. Kebetulan, Nicolas tengah ada sedikit surprise lantaran teman dekatnya datang dari Batam, sekalian dia membuat pesta kecil untuk merayakan suksesnya. Maklum, dalam tiga bulan, Nicolas bertabur duit lantaran bisa membuat setidaknya 12 acara di tempat hiburan yang berbeda dan rata-rata menangguk sukses besar. &#8220;Ya, itung-itung perayaan kecil-kecilan. Bagi-bagi kesenangan dengan teman kan nggak ada salahnya,&#8221; ujarnya singkat sambil tersenyum.</p>
<p>Sekitar pukul 22.00 WIB, saya bertemu dengan Nicolas di ruang VIP. Untungnya, saya pernah berkunjung ke SS, jadi tak perlu susah mencari lokasinya. SS berada di satu kawasan bisnis. Gedungnya berada di tengah-tengah pusat perniagaan. Selain itu, gedung SS juga diapit gedung bertingkat yang dijadikan kantor sebuah bank kenamaan. Di siang hari, area di sekitar SS, sangat ramai karena dipenuhi orang-orang yang berbelanja dan bekerja kantoran. Bagi orang awam pun, sebenarnya tak begitu susah menemukan SS. Maklum, di sekitar kawasan Kota dan Mangga Besar, SS termasuk dalam jajaran tempat hiburan yang namanya masuk tingkat atas. Saya tiba di SS sekitar pukul 22.30 WIB. Dari pembicaraan di ponsel, Nicolas mengatakan sudah &#8216;stand by&#8217; dengan dua orang teman lelakinya. Setelah memarkir mobil di lantai 4, saya langsung menuju ruangan karaoke. Di pintu masuk, saya disambut dua resepsionis wanita yang dengan ramah menyilakan saya masuk.</p>
<p>Sebelum sampai di ruangan karaoke, saya melintasi sebuah restoran Cina yang didesain secara terbuka. Restoran itu tampak ramai oleh tamu laki-laki dan wanita. Pemandangan tersebut pasti akan ditemui setiap tamu yang ingin masuk ke diskotek atau pun berkaraoke. Yang menarik, di restoran tersebut, tampak jelas puluhan wanita cantik dengan busana seksi duduk bergerombol. Ada yang asyik berbincang-bincang, ada juga yang hanya duduk santai sambil mata mereka tak henti-hentinya mengamati tamu yang masuk. Saya tak berlama-lama mengamati situasi restoran yang&#8211;terus terang, sangat menggugah hasrat laki-laki untuk mampir. Bagaimana tidak? Paling tidak, sambil makan dan minum, setiap tamu bisa melihat pemandangan gadis-gadis cantik&#8211;banyak yang berdandan super seksi, dari jarak dekat. Ruangan karaoke terletak berdampingan dengan diskotek. Begitu masuk, tamu bisa melihat sebuah pintu masuk, tepatnya tak jauh dari pintu diskotik.</p>
<p>Lampu di lobi menyala terang hingga nampak interior ruangan. Pertama-tama, tamu bisa menemukan restoran yang tertata rapi. Biasanya, banyak tamu yang bersantai sambil makan dan minum. Dari restoran, ada lift yang menuju ke basement. Di situlah ruangan karoeke berada. Begitu sampai di meja resepsionis, para pramusaji akan menyambut kedatangan para tamu dengan ramah. Pemandangan menarik dan yang pasti langsung membuat mata pria melirik adalah kursi di ruang tunggu yang banyak dipenuhi gadis-gadis cantik. Mereka tak lain adalah para &#8216;singer&#8217;, &#8216;madame&#8217; atau menurut istilah SS disebut GRO (Guest Relation Office). Ada yang asyik bercengkrama, bercanda, dan tertawa. Ada juga yang menonton aneka hiburan yang dilansir dilayar televisi. Menariknya, ketika ada tamu datang, mereka biasanya langsung pasang aksi dengan memamerkan wajah dan senyuman. Maklumlah, apalagi yang mereka harapkan kalau tidak &#8216;order&#8217; kencan di ruang karaoke. Tentu saja, setiap tamu laki-laki yang datang tak melewatkan pemandangan super menarik tersebut.</p>
<p>Seorang pramusaji, akan mengantar tamu ke ruangan yang sudah dipesan. &#8220;Wah, lo telat setengah jam. Untung pestanya belum dimulai,&#8221; sergah Nicolas begitu melihat saya masuk ruangan. Ruangan VIP tersebut sedikit temaram. Di tengah terdapat sofa warna cokelat muda dan meja kayu memanjang. Di depannya, ada 4 TV ukuran 29 inci. Pesawat TV tersebut ditata rapi di sebuah lemari panjang. Persis di belakang TV, terdapat meja makan dan sebuah kamar tidur eksklusif layaknya di hotel-hotel berbintang. Sebuah kamar mandi lux, terletak tak jauh dari kamar tidur. Uniknya, tamu mesti melewati kamar mandi sebelum akhirnya bisa masuk ke kamar tidur. Hawa dingin menyebar ke setiap sudut ruangan. Yang tak kalah menarik, di samping TV terdapat dua pintu panjang tak terkunci. Sekilas tak ubahnya seperti pintu lemari pakaian yang biasa terdapat di hotel-hotel. Tetapi begitu dibuka, astaga, yang ada hanyalah kaca tembus pandang ke kamar mandi. Bisa dibayangkan, sambil duduk di sofa tamu bisa memandang denga jelas &#8216;isi&#8217; kamar mandi, tanpa terkeuali.</p>
<p>Dari sisi peralatan audio yamg disediakan, SS boleh dibilang selangkah lebih maju di banding karaoke-karaoke yang lain. Empat pesawat TV yang dipajang misalnya, punya fungsi yang berbeda. Dua TV melansir tiap lagu yang dipesan, sementara dua TV lainnya berfungsi sebagai &#8216;guide tour&#8217; dan operator pribadi. Tamu tinggal mengoperasikannya lewat &#8216;remote control&#8217;. Dari pesan lagu, melihat menu makanan favorite sampai aneka pelayanan dan fasilitas yang ada di SS. Tak kalah canggihnya, tamu bisa juga melihat data diri GRO (Guest Relation Officer) yang ada di SS lengkap dengan foto dan identitas. Dari nama, tinggi-berat sampai ukuran branya. Gambaran ruangan karaoke di atas, menggambarkan suasana interior design terbaru. Padahal sebelumnya, ruangan karaoke lama di SS&#8211;ruangannya menyatu dengan ruangan diskotek, tata letaknya lebih sederhana. Di ruangan tipe standar atau biasa misalnya, ruangannya berisi sofa hitam melingkar dengan satu meja maimer, meja makan, satu TV, kamar mandi dan kamar tidur.</p>
<p>Namun dari sisi fungsi, memang tak jauh berbeda. Ada juga ruangan VIP yang langsung bisa menebar pandangan ke dance floor. Ruangan ini memang dipersiapkan bagi para &#8216; triper&#8217; yang ingin privacy. Nicolas bersama dua temannya duduk santai di sofa hitam. Nicolas mengenalkan dua teman laki-lakinya sebagai Arman dan Johan. Keduanya adalah teman dekat Nicolas yang baru sehari ini berada di Jakarta. Keduanya berasal dari Batam dan menggeluti usaha di bidang restoran. &#8220;Kalau di Batam, jawaranya Arman sama Johan. Kalau mau tahu dunia malam Batam, ya mereka ini pakarnya,&#8221; ujar Nicolas sambil menengok ke arah Arman dan Johan. Dipuji seperti itu, kedua laki-laki yang malam itu berbusana kasual, hanya tertawa kecil. Di atas meja terhidang sebotol Jack Daniel lengkap dengan Coca-cola dan es batu. Juga ada beberapa piring makanan kecil dan dua piring besar buah-buahan segar. Rupanya, Nicolas dan dua kawannya sudah menghabiskan setidaknya delapan buah lagu.</p>
<p>Makanya, begitu saya datang, Nicolas sudah bersiap-siap mencari &#8216;penghangat&#8217; suasana. &#8220;Kering ya, kalau nggak ada wanitanya? Gimana kalau kita pesan 2 atau 3 wanita untuk penghangat suasana?&#8221; usul Nicolas. Tentu saja tanpa banyak basa-basi kedua teman Nicolas dan saya langsung mengiyakan. Hanya saja, sebelum Nicolas memangggil pramusaji yang bertugas, Johan lebih dulu punya permintaan. Menurut Johan, kalau wanita escort-nya pribumi, dia merasa sudah bosan. Katanya, di Batam pun, dengan mudah dia bisa mendapatkannya. Makanya, Johan dengan enteng mengatakan, buat apa jauh-jauh dari Batam kalau ujung-ujungnya hanya ditemani wanita escort pribumi. Mendengar ucapan Johan, Nicolas hanya senyum-senyum kecil. Rupanya, pria penggemar baju merek Giorgio Armani itu paham betul dengan ucapan Johan. Mencari &#8216;wanita kencan&#8217; terutama di kota-kota besar seperti Jakarta dan Batam, memang sangatlah mudah. Hampir di setiap tempattempat hiburan, entah itu yang berkedok sebagai pub, klub, panti atau rumah penampungan, yang namanya &#8216;wanita&#8217; jasa kehangatan sesaat, selalu tersedia. Tapi, bagaimana dengan &#8216;wanita&#8217; berstatus impor? Apa juga segampang mencari &#8216;wanita&#8217; lokal?</p>
<p>&#8220;Jadi, maunya cewek impor? Tenang saja, Bos! Semua bisa diatur. Di sini lengkap, kok!&#8221; ujar Nicolas dengan nada mantap. Untuk beberapa saat lamanya, Nicolas keluar ruangan meninggalkan kami. Saya tak heran, sebagai sosok yang sehari-hari menggeluti bisnis entertainment, Nicolas tentu saja mengenal dengan baik &#8216;orangorang&#8217; di SS. Dari tingkat staff, manager, sampai owner. Sekali dalam sebulan, paling tidak, Nicolas pasti menggelar &#8216;acaranya&#8217; di SS. Tak lebih dari 10 menit, Nicolas sudah kembali ke tempat duduknya. Wajahnya tampak sumringah dengan senyum mengembang. Dengan langkah lebar, dia memandang ke kami dan bersantai di sofa. Nicolas langsung meneguk segelas jackdie on the rock. Tentu saja, Nicolas tak mau minum sendirian, dia mengajak kami ber-toast bersama.</p>
<p>Karena saya tak begitu pandai bernyanyi, hanya sesekali saja saya berusaha menyempatkan diri memegang microphone. Selama menanti &#8216;pesanan&#8217; datang, kami lebih banyak mengobrol, sementara TV berukuran 29 inci yang ada di depan kami, merelay lagu-lagu hits dunia yang kami minta. Selang beberapa saat kemudian, &#8216;pesanan&#8217; datang. Jam sudah menunjuk pukul 23.15 WIB, ketika dua wanita dengan dandanan seksi muncul di pintu masuk. Terus terang, saya sedikit kaget begitu melihat dua gadis tersebut, apalagi begitu keduanya langsung bergabung bersama kami di sofa dan mengenalkan diri. Yang pertama, berambut pirang lurus, tinggi semampai dan bermata bulat. Wajahnya berbentuk bulat telur dengan bibir tipis berlapiskan lipstik merah, mengenalkan dirinya sebagai Susan. Sementara gadis kedua mengenalkan diri bernama Caroline. Rambutnya ikal sebahu dan berwarna kecoklatan. Badannya sedikit berisi, bahkan lebih pas disebut sintal. Tidak setinggi Susan, tapi mempunyai badan seksi.</p>
<p>Baju ketat dengan belahan V yang melekat di tubuh Caroline terlihat serasi dan jelas menunjukkan sex appeal-nya yang pasti menggoda setiap mata lelaki. Saya baru sadar, kalau sedari awal mengobrol, Susan dan Caroline, selalu menggunakan bahasa Inggris. Dialeknya tampak lain di telinga saya. Karena penasaran, saya selalu memperhatikan gerak-gerik Susan dan Caroline. Mulai cara mereka bicara sampai prototype tubuh mereka, dari ujung rambut hingga kaki. Apa mereka ini bule-bule beneran?, pikir saya. Atau hanya wanita-wanita lokal yang didandanin sedemikian rupa hingga mirip bule? Ternyata, setelah kurang lebih 10 menit saya memperhatikan mereka, saya baru yakin kalau mereka benar-benar bule. Dari warna kulit, rambut, mata, dan cara bertutur, tak ada tanda-tanda yang meragukan keaslian mereka.</p>
<p><strong>Variasi &amp; 3 Plus.</strong></p>
<p>Suasana tambah hangat dan merambat panas. Untuk mengakrabkan diri, kami saling ber-toast bersama. Tiga-empat gelas minuman tertenggak habis dalam 10 menit. Sesi basa-basi pun berakhir. Susan dan Caroline, rupanya sudah terbiasa dengan tahapan-tahapan yang mesti dilakoni sebagai &#8216;wanita&#8217; penghibur. Pesta pun segera dimulai. Musik perlahan mengalun keras. Alunan vokal Mariah Carey lewat My All segera berubah menjadi dentuman musik garage. Di layar TV yang tampak kemudian adalah sederetan gambar gadis-gadis dengan busana seksi tengah menari dengan gerakan-gerakan erotis. Susan dan Caroline segera beranjak dari sofa. Mereka berjalan ke kamar mandi. Sambil menunggu mereka keluar, kami asyik menikmati tontonan tarian erotis di TV. Gadis-gadis cantik dengan badan ideal dan proporsional yang awalnya masih mengenakan busana seksi itu, perlahan mulai mempreteli baju mereka. Begitu terlepas semua, Susan dan Caroline pun tampak keluar dari kamar mandi. Sudah kami duga sebelumnya, mereka pasti berganti kostum. Begitu menampakkan diri, Susan sudah berganti dengan busana hitam ketat melekat.</p>
<p>Begitu juga Caroline yang mengenakan celana pendek ketat warna biru dengan baju tanktop yang memperlihatkan pusarnya. Saya agak terkejut mendapati sebuah anting melingkar di pusarnya. Sementara di punggung Susan, dengan jelas saya melihat gambar tato naga warna hitam. Mereka pun mulai menari penuh semangat. Pandangan mata kami pun beralih, dari TV ke pertunjukkan sebenarnya. Ya, apalagi kalau bukan &#8216;live show&#8217; yang dipertontonkan Susan dan Caroline. Gampang ditebak, dua gadis yang mengaku berasal dari Uzbekistan itu-salah satu negara pecahan Uni Soviet, langsung beraksi dengan goyangan erotis. Aksi mereka tak berbeda banyak dengan apa yang dilakukan sejumlah penari striptis lokal yang biasa memberikan &#8216;jasa tarian syahwat&#8217; di tempattempat hiburan malam Jakarta. Sebut saja misalnya karaoke KB, di bilangan Jalan Sudirman atau klub NZ di Jalan Thamrin, tepatnya tak jauh dari sebuah hotel bintang empat yang berdampingan dengan gedunggedung perkantoran.</p>
<p>Hanya saja, lantaran mereka memang &#8216;bule asli&#8217;, pemandangan yang kami dapati memang berbeda dari biasanya. Bayangan kami seperti tengah nonton pertunjukkan striptis di sejumlah pub atau disko yang berderet di kota Amsterdam, Belanda atau di kota Las Vegas. Untuk beberapa saat lamanya, Susan dan Caroline hanya menari dengan liukan menggoda. Baju ketat yang melekat di tubuh mereka, sudah terlepas sama sekali. Musik pun makin menjadi-jadi seakan memenuhi hampir di tiap sudut ruangan. Hawa dingin air conditioner yang menyebar dan menyelimuti, rasanya hampir tak terasa. Hawa panas seakan menguasai ruangan VIP karaoke detik demi detiknya. Perlahan, mereka mulai mendekatkan diri. Tubuh seksi tanpa sehelai benang itu, layaknya kupu-kupu yang terbang lincah hinggap dari satu bunga ke bunga berikutnya. Susan dan Caroline pun kali ini tak hanya menari, tapi mulai membelai, memeluk bahkan bergerak berani layaknya seekor macan menerkam mangsanya. Laki-laki mana mampu bertahan dari &#8216;godaan dan rayuan&#8217; maut seperti itu. Menariknya, setiap kali sang korban blingsatan tak mampu menahan hasratnya, Susan dan Caroline, dengan pandainya mengulur waktu.</p>
<p>Membiarkan hasrat terpendam di kepala, bahkan kalau perlu menahannya selama mungkin hingga lembaran ratusan ribu Rupiah keluar tanpa perhitungan lagi. Rupanya, cara dan trik mereka dalam melayani tamu, hampir tidak berbeda jauh dengan para striptis lokal. Di SS, selain menyediakan jasa bule-bule impor, juga terkenal dengan jasa wanita-wanita lokal yang tak kalah cantik dan berani. Dari sekedar melayani tamu dengan hanya menjadi singer, mempertontonkan tarian stripstis, memberikan &#8216;no hand service&#8217; sampai &#8216;full service&#8217;. Para wanita bule impor pun, dalam hal pelayanan, ternyata juga menganut aturan yang sama. Mereka pun harus siap memberikan, paling tidak, tiga layanan utama ketika tamu mem-booking mereka di private room karaoke. Kalau sekedar menjadi singer &#8211;atau lebih pasnya menemani tamu bernyanyi, tentu saja semua wanita yang disediakan di SS, dengan senang hati akan menerimanya.</p>
<p>Tapi untuk mempertontonkan tarian striptis, tidak semua bersedia, apalagi untuk memberikan paket &#8216;no hand service&#8217; atau &#8216;full service&#8217;. Maklum, untuk paket &#8216;no hand service&#8217; misalnya, seorang penari, escort atau madame, mesti bersedia melayani tamu layaknya seorang selir menjamu raja. Sang selir boleh berbuat apa saja&#8211;tidak termasuk &#8216;bermain cinta&#8217;, tapi sang raja harus patuh tanpa boleh bereaksi. Sementara paket &#8216;full service&#8217;, tentu saja ujung-ujungnya berakhir di permainan cinta sesaat. Bisa di kamar mandi, atau di kamar tidur yang sudah dipersiapkan. Tergantung kemauan dan selera tamu. Biasanya, untuk memilih pasangan kencan wanita, ada dua cara. Pertama, tamu bisa menyeleksinya di restoran khas Jepang yang terdapat tak jauh dari pintu masuk. Rupanya, puluhan wanita yang memadati restoran tersebut, tak lain adalah para singer, escort, dan penari. Hanya saja, mayoritas wanita yang berani men-display-kan diri di restoran, lebih banyak menjalankan profesinya sebagai singer. Untuk bisa menyeleksi para penari stripstis-nya, biasanya tamu dipersilakan memilih langsung di ruang karaoke.</p>
<p>Begitu tamu pesan lewat pramusaji yang bertugas atau langsung ke Mami&#8211;di SS transaksinya serba terbuka, tamu akan diberikan pilihan setidaknya 4-6 wanita penari. Tamu bebas menentukan mana wanita penari yang menjadi idola dan pilihannya. Biasanya prosesi ini berlaku untuk penari-penari lokal. Sementara khusus wanita bule impor selain juga mengikuti aturan serupa, tamu bisa juga dibawa ke ruangan khusus untuk menyeleksi wanita bule yang disuka. Seringkali, mereka pun &#8216;shopping-mall&#8217; keliling diskotek dan sesekali &#8216;mejeng&#8217; di resto. &#8220;Kalau kita member, lebih mudah lagi. Nggak perlu repot-repot milih. Karena member pasti dikasih yang terbaik,&#8221; jelas Nicolas. Menilik tata ruang private room karaoke di SS, tampaknya sengaja didesain sedemikian rupa sehingga semua pelayanan &#8216;cinta&#8217; yang disediakan dengan mudah bisa dinikmati para tamu. Lihat saja sofa sengaja ditata melebar dengan meja marmer besar yang memungkinkan penari beratraksi di atasnya. Entah dengan berdiri, duduk maupun tiduran.</p>
<p>Kamar mandinya pun sangat bersih dan ekslusif hingga memungkinkan bagi tamu yang ingin &#8216;bermain cinta&#8217; sedikit ekstrem, bisa tertampung. Sebuah kamar tidur dengan ranjang besar tampak bersih dan tertata rapi. Boleh dibiang standarnya bisa disejajarkan dengan kamar-kamar yang terdapat di hotel bintang empat, juga tersedia. Semua pasangan yang ingin &#8216;berbulan madu&#8217; pasti membayangkan kenyamanan tiada tara mesti lampu cenderung menyala temaram. Betapa semua fasilitas tersebut, bisa dengan leluasa dipergunakan tanpa harus mem-booking para penari, escort atau madame ke tempat lain. Aneka paket layanan yang diberikan para bule-bule impor di SS, semua bisa dinikmati di private room. Bayangkan saja, setelah Susan dan Caroline memanaskan suasana dengan liukan erotisnya, mereka mulai mengumbar godaan dengan trik a la no hand service. Di sinilah, biasanya ajang mengeruk tip mulai berjalan. Dengan rayuan gombalnya yang harus diakui begitu terkesan profesional dan memabukkan, mulut-mulut manis mereka dengan gampang menyebut sejumlah angka.</p>
<p>Dengan sekali sentuh, mereka bisa mendapatkan dua tiga lembar ratusan ribu Rupiah. Tahapan itu belum usai. Yang sudahsudah, kalau tamu laki-laki yang datang jumlahnya lebih banyak dari penari&#8211; seperti kami yang malam itu datang berempat sementara penarinya cuma dua, mereka takberhenti sampai di situ. Biasanya, usai mendapat &#8216;tips pembuka&#8217;, mereka akan merayu tamu untuk masuk tahapan pelayanan berikutnya. Ya, apalagi kalau buka &#8216;full service&#8217;. Layanan inilah yang bagi penari, menjadi momen penting untuk meraup uang dalam jumlah besar. Standar wanita-wanita lokal saja misalnya, untuk mendapatkan transaksi full service di private room karaoke, tamu mesti mengeluarkan tip paling tidak antara 300-500 ribu Rupiah. Biasanya, angka itu tergantung dari negosiasi kedua belah pihak. Bisa dibayangkan kalau wanitanya adalah bule-bule impor. Untuk mendapatkan paket tarian striptis saja, 1 penari harga bandrolnya Rp 3 juta.</p>
<p>Itu belum termasuk harga ruangan yang minimal order-nya 3 jam. Satu jamnya Rp.100 ribu untuk ruangan standar alias biasa. Sementara untuk ruangan VIP per jamnya sekitar Rp200 ribu. Tinggal hitung saja berapa duit yang harus dikeluarkan untuk bayar ruangan dan membooking penari striptis bule. Belum lagi harga untuk ruangan Royal Suite yang perjamnya mencapai Rp300-400 ribu. Kabarnya, ruangan Royal Suite tersebut, tak ubahnya seperti kamar-kamar suite di hotel berbintang lima. Kalau untuk wanita lokal, hanya butuh sekitar Rp. 300-500 ribu dan kita telah mendapatkan paket &#8216;full service&#8217;. Sedangkan untuk wanita bule impor, paling tidak seorang tamu mesti mengeluarkan tip sedikitnya Rp. 500 ribu &#8211; Rpl juta. Memang jauh lebih mahal. Akan tetapi, uang sebesar itu nyaris tak ada artinya bagi sejumlah lakilaki yang gemar menghabiskan uang di SS. Tengok saja polah Nicolas Cs yang bersama saya malam itu. Usai Susan dan Caroline memplonco mereka dengan triktrik &#8216;no hand service&#8217; yang sudah pasti membuat mereka mengeluarkan sedikitnya 4-5 lembar ratusan ribu rupiah, perlahan tapi pasti, Susan mulai membisikkan kalimat sakti ke telinga Nicolas.</p>
<p>Entah apa yang Susan bisikkan, akan tetapi selang 2 menit kemudian, Nicolas bak kambing congek mengekor di belakang Susan masuk ke kamar. Begitu juga dengan Arman yang duduk bersebelahan dengan Johan. Tiba giliran Caroline sampai di pangkuannya, Arman pun tak kuasa menolak ajakan Caroline masuk ke kamar mandi. Ah, rupanya tahapan untuk melakoni paket &#8216;full service&#8217; sudah terjadi, pikir saya. Akhirnya, tinggal saya dengan Johan duduk santai di sofa sambil menahan napas menunggu Nicolas dan Arman menuntaskan hasrat kelaki-lakiannya. Untuk mengisi kekosongan, tayangan tarian striptis yang di-relay TV di depan kami, menjadi fokus perhatian. Entah sudah berapa gelas Jack Daniel yang kami habiskan dalam waktu tak kurang dari 15 menit. Susan dan Nicolas muncul dari kamar tidur. Tak lama kemudian diikuti suara Arman yang keluar kamar mandi diikuti Caroline.</p>
<p>Dua laki-laki yang usianya tak jauh berbeda itu&#8211;sama-sama berkepala tiga, tersenyum lebar pada kami. Susan dan Caroline masih dalam keadaan tanpa busana. Mungkin, kini giliran kami yang akan menjadi target sasaran. Dan benar saja, Susan dan Caroline langsung berjalan perlahan sambil terus berlenggok laksana peragawati di panggung catwalk menghampiri kami. Nicolas dan Arman hanya tertawa terbahak. Sialan, saya kebagian sisa, pikir saya. Tapi belum juga habis saya berpikir, tahunya Caroline sudah duduk di pangkuan. Alamak, rupanya memang benar apa yang saya bayangkan sebelumnya. Susan menarik lengan Johan ke kamar mandi, sementara Caroline dengan pandainya, membimbing saya ke kamar tidur. Pastinya, apa yang akan terjadi sudah terbayang. Kamar mandi dan kamar tidur, untuk sekelompok laki-laki yang datang ke ruangan karaoke di SS memang menjadi &#8216;pelabuhan&#8217; terakhir untuk mendapatkan paket &#8216;full service&#8217;. Meskipun sering kali mereka harus berganti pasangan. Empat pria atau enam sekalipun, bergantian mendapatkan layanan cinta sesaat dari dua atau tiga penari. Toh, untuk yang satu ini, tak pernah ada unsur sikut menyikut atau rasa risih sekalipun.</p>
<p>Memang, tak semua tamu yang datang ke karaoke SS, langsung menuntaskan hajatnya di tempat. Ada juga yang memilih mem-booking wanita bule impor usai jam kerja. Hanya saja, tarifnya memang lebih mahal dua kali lipat. Untuk mem-booking mereka keluar SS dalam hitungan kencan 1 nite stand, paling tidak mesti membayar Rp5- 6 juta. Ya, kalau dipikir-pikir memang mahal untuk harga cinta sesaat. Tapi, toh sejauh ini bagi mereka yang berduit, uang sejumlah itu, bukanlah apa-apa. Tampaknya untuk mendapatkan kenikmatan sesaat, uang bukanlah masalah yang berarti. Tidak hanya SS yang sekarang terkenal dengan menu bule-bule impornya, di karaoke AC yang terdapat di Jl. KK, Jakarta Pusat, tak jauh dari Bundaran HI, juga menyediakan menu serupa. AC sebenarnya bukan tempat hiburan, tapi sebuah apartemen kelas atas yang memang menyediakan fasilitas resto, kafe, dan karaoke yang terbuka untuk umum. Nah, di karaoke itulah, menu-menu bule impor bisa didapatkan dengan standar pelayanan cinta yang tidak jauh berbeda, dari striptis, no hand service sampai full service. Kabarnya, jaringan wanita-wanita bule impor tersebut, sumbernya berasal dari tempat sama. Hanya secara sirkulasi mereka diputar ke beberapa tempat, sesuai pesanan.</p>
<p>
<ul>
<li><a target="_blank" href="http://www.doktertomi.com" title="Free Inspirations, News, Guides, Tips and Tricks" target="_blank">Doktertomi.com</a> : Free Inspirations, News, Guides, Tips and Tricks</li>
<li><a target="_blank" href="http://www.botolempangan.info" title="Everything You Need To Know About Makassar" target="_blank">Makassar Today</a> : Everything You Need To Know About Makassar</li>
<li><a target="_blank" href="http://www.masterbiznet.com" title="Masternya Bisnis Internet" target="_blank">Masterbiznet.com</a> : Masternya Bisnis Internet</li>
<li><a target="_blank" href="http://www.workinthewebsite.com" title="News, Guides, Tips and Tricks on Website Monitization and Advertising" target="_blank">Work in The Website</a> : News, Guides, Tips and Tricks on Website Monitization and Advertising</li>
</ul>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center shr-bookmarks-bg-shr">
<ul class="socials">
		<li class="shr-blogger">
			<a href="http://www.blogger.com/blog_this.pyra?t&amp;u=http://www.doktertomi.com/2008/03/28/kencan-bule-bule-impor-dari-stripsis-no-hand-service-sampai-1-nite-stand/&amp;n=Kencan+Bule-bule+Impor+%28Dari+Stripsis%2C+No+Hand-Service+Sampai+1+Nite+Stand%29&amp;pli=1" rel="nofollow" class="external" title="Blog this on Blogger">Blog this on Blogger</a>
		</li>
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://www.doktertomi.com/2008/03/28/kencan-bule-bule-impor-dari-stripsis-no-hand-service-sampai-1-nite-stand/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://www.doktertomi.com/2008/03/28/kencan-bule-bule-impor-dari-stripsis-no-hand-service-sampai-1-nite-stand/&amp;t=Kencan+Bule-bule+Impor+%28Dari+Stripsis%2C+No+Hand-Service+Sampai+1+Nite+Stand%29" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-myspace">
			<a href="http://www.myspace.com/Modules/PostTo/Pages/?u=http://www.doktertomi.com/2008/03/28/kencan-bule-bule-impor-dari-stripsis-no-hand-service-sampai-1-nite-stand/&amp;t=Kencan+Bule-bule+Impor+%28Dari+Stripsis%2C+No+Hand-Service+Sampai+1+Nite+Stand%29" rel="nofollow" class="external" title="Post this to MySpace">Post this to MySpace</a>
		</li>
		<li class="shr-technorati">
			<a href="http://technorati.com/faves?add=http://www.doktertomi.com/2008/03/28/kencan-bule-bule-impor-dari-stripsis-no-hand-service-sampai-1-nite-stand/" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Technorati">Share this on Technorati</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Kencan+Bule-bule+Impor+%28Dari+Stripsis%2C+No+Hand-Service+Sampai+1+Nite+Stand%29+-+http://b2l.me/bd7u9&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Kencan+Bule-bule+Impor+%28Dari+Stripsis%2C+No+Hand-Service+Sampai+1+Nite+Stand%29&amp;body=Link: http://www.doktertomi.com/2008/03/28/kencan-bule-bule-impor-dari-stripsis-no-hand-service-sampai-1-nite-stand/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Bisnis%20pelesir%20cinta%20makin%20menggila.%20Sejumlah%20tempat%20hiburan%20malum%20di%20Jakarta%20yang%20berskala%20internasional%2C%20saat%20ini%20tidak%20hanya%20menggunakan%20jasa%20wanita%20lokal%2C%20tapi%20juga%20menggunakan%20wanita-wanita%20impor%20sebagai%20magnet%20dan%20jualan%20utama.%20Mereka%20tidak%20saja%20berasal%20dari%20negeri-negeri%20tetangga%20yang%20terdapa" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

<p><img src="http://wptextads.s3.amazonaws.com/images/press/wpta-20x20.jpg" alt="WP Text Ads" border="0" /> <a rel="nofollow" href="http://www.doktertomi.com/wp-content/plugins/wptextads1/wpta.php?wpta_form=1&wpta_cmd=buy&wpta_id=1503" onclick="window.open('http://www.doktertomi.com/wp-content/plugins/wptextads1/wpta.php?wpta_form=1&wpta_cmd=buy&wpta_id=1503', 'nehemiah_window', 'width=550,height=530,scrollbars,resizable'); return false;">Want visitors to your site? Buy an ad here.</a></p><img src="http://www.doktertomi.com/?ak_action=api_record_view&id=1503&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.doktertomi.com/2008/03/28/kencan-bule-bule-impor-dari-stripsis-no-hand-service-sampai-1-nite-stand/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nude Ladies Nite VIP Casino</title>
		<link>http://www.doktertomi.com/2008/03/26/nude-ladies-nite-vip-casino/</link>
		<comments>http://www.doktertomi.com/2008/03/26/nude-ladies-nite-vip-casino/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Mar 2008 07:01:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>antz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jakarta Undercover : Sex n' The City]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://doktertomi.com/2008/03/26/nude-ladies-nite-vip-casino/</guid>
		<description><![CDATA[Kasino mewah dengan gadis-gadis cantik. Pengunjungnya pria-pria public figure, dari pengusaha kelas kakap sampai kalangan pejabat. Wanitanya, tidak saja menjadi pendamping bermain judi tapi di ruang VIP mereka melayani tamu dengan menanggalkan baju alias telanjang! Kasino sudah lama menghias Jakarta. Pusat di mana orang mengadu untung itu, di metropolitan Jakarta sudah bukan komoditas baru lagi. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fwww.doktertomi.com%2F2008%2F03%2F26%2Fnude-ladies-nite-vip-casino%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=tahoma&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<p>Kasino mewah dengan gadis-gadis cantik. Pengunjungnya pria-pria public figure, dari pengusaha kelas kakap sampai kalangan pejabat. Wanitanya, tidak saja menjadi pendamping bermain judi tapi di ruang VIP mereka melayani tamu dengan menanggalkan baju alias telanjang! Kasino sudah lama menghias Jakarta. Pusat di mana orang mengadu untung itu, di metropolitan Jakarta sudah bukan komoditas baru lagi. Jumlahnya membludak dan tersebar dimana-mana. Kalau kini judi pinggiran jalan marak permainan judi Pakong, Togel, Singapura dan seabrek jenis lainnya, maka di pusat Jakarta, tepatnya di kawasan Mangga Dua, sebuah arena perjudian berkelas menjadi &#8220;primadona&#8221; para pria yang doyan bermain-main dengan &#8220;uang&#8221;.</p>
<p>Sebut saja namanya NS. Di sini, bayangan Las Vegas sebagai pusat judi dunia bisa tergambar jelas. Judi, wanita telanjang dan gemerlap hiburan malam. Awalnya hanya informasi samar-samar. Maklum, di kawasan sentral hiburan Jakarta itu arena perjudian jumlahnya puluhan, bahkan ratusan. Ihwal VIP Kasino dengan Indies night no dress itu kami dapat dari perkenalan kami dengan tiga orang gadis yang biasa menemani tamu berjudi di NS. Sebut saja Jeny (20), Dina (22) dan Lusy (22). Ketiga gadis itu kami kenal dalam sebuah casting sinetron dua bulan silam. Perkenalan singkat itu berlanjut ke meja dinner, seminggu berikutnya. Rupanya, ketiga gadis itu lumayan berhasil sebagai pemeran figuran untuk beberapa judul sinetron. Malah, Jeny banyak ditawari sebagai pemeran pembantu utama. Hanya, kata Jeny, ia belum berani menerima peran itu lantaran ia lebih suka menggeluti dunia lain. &#8220;Iseng-iseng saja main sinetron. Habis, kalau nonton sinetron, pengen juga bisa berakting,&#8221; sergah Lusy yang berambut lurus sebahu.</p>
<p>Usai dinner, perkenalan kami dengan tiga gadis sekarib itu makin akrab. Beberapa hari kemudian, mereka mengundang kami mampir ke apartemen. Undangan itu tidak kami tolak. Pada beberapa kesempatan, kami meluangkan waktu untuk mampir. Ya, sekadar say hello dengan mereka. Dalam beberapa kali percakapan, kami akhirnya tahu banyak dengan dunia Jeny, Dina dan Lusy. Mereka tinggal di sebuah apartemen 18 lantai di bilangan Hayam Wuruk, tak jauh dari sebuah diskotek, SD, yang buka 24 jam. Tempatnya ekslusif, mew ah dan nyaman. Meski luas kamarnya hanya sekitar 8X8 meter persegi, namun apartemen itu terkesan mewah dan nyaman. Dilengkapi layanan layaknya sebuah hotel. Penjaga keamanan yang stand-by 24 jam, AC, parabola, binatu, telepon selular dan para pembantu rumah tangga. Singkat cerita, dari empat kali kami singgah, gambaran dunia ketiga gadis itu makin jelas.</p>
<p>Ternyata, ketiga gadis itu seharihari bekerja sebagai &#8220;wanita malam&#8221;. Menariknya, sebutan wanita malam bagi ketiga gadis itu tidak seperti wanita-wanita malam kebanyakan yang konotasinya tak lain ya pekerja seks komersial. Bagi Jeny, Dina dan Lusy, profesi wanita malam yang dilakoni sehari-hari lebih banyak berkecimpung dari karaoke, arena casino dan diskotek. Aktivitas itu praktis mereka jalan pada malam hari hingga dini. Kala siang, mereka lebih banyak menghabiskan waktu di kamar. Sekadar menonton acara telivisi, mengobrol dengan tetangga kamar atau terlelap dibuai mimpi. Selama mengikuti pergaulan mereka, banyak cerita menarik yang tercerabut, terutama dari profesi yang mereka lakoni. Meskipun kerap diboking lelaki, tapi tidak melulu menjurus pada hubungan seks. Menurut penuturan Lusy, biasanya ia hanya menemani pria-pria di karaoke atau diskotek. &#8220;Paling-paling diajak nyanyi bareng. Kalau di diskotek ya menemani mereka dansa dan triping,&#8221; akunya. Hal senada juga diungkapkan Jeny dan Dina. Menurut penuturan mereka berdua, pria-pria yang mereka temani kebanyakan hanya butuh teman di karaoke atau diskotek. Meski tanpa hubungan seks, uang yang mereka keruk tak kalah banyak.</p>
<p>&#8220;Orang kan mikirnya kalau kita diboking pasti urusan ranjang. Padahal tidak begitu. Biar tanpa hubungan seks, mereka ngasih tips-nya gede-gede. Saya pernah dapat sampai US$ 2000 semalam,&#8221; tukas Jeny. Dari mereka jualah kami mendapat informasi ihwal kasino mewah yang kerap dijadikan para big-boss dan pejabat bermain judi. Ketiganya termasuk &#8220;ladies night&#8221; yang kerap menemani pria-pria berduit untuk berjudi. Nude Girls. Ceritanya berawal ketika kami tengah mampir di kamar Jeny pada suatu malam. Jam baru saja me-nunjuk pukul 22.00 WIB. Kami asyik mengobrol dengan Jeny. Dina dan Lusy yang letak kamar bersebelahan dengan Jeny ikut nimbrung. Seperti biasa, obrolan kami tak jauh dari soal lelaki. Lagu-lagu pop nasional seperti Satu Jam Saja-nya Audi, Cinta-nya Paramitha Rusady dan tembang Jennifer Lopez menjadi pengiring selama kami ngobrol.</p>
<p>Mereka satu per satu bercerita soal pria idaman. Jeny yang pernah menjalin cinta dengan seorang pemuda di kampung asalnya, Semarang, namun akhirnya kandas lantaran orang tuanya tidak setuju. Sementara Dina bercerita soal aktor idamannya yang sekarang tengah menjadi pujaan para gadis, Adjie Massaid. Dan Lusy mengeluh soal &#8220;pacar&#8221;nya yang jarang mengajaknya kencan lantaran tengah asyik dengan istri baru yang lebih cantik dan segar. Selama kurang lebih satu jam kami bertukar cerita. Percakapan kami terhenti ketika handphone Nokia terbaru milik Jeny berdering. &#8220;Diam dulu. Ada telepon masuk,&#8221; pintanya. Kami diam sejenak. Dengan nada perlahan, Jeny mengangkat handphone. &#8220;Ada apa, Pi?&#8221; tanya Jeny. &#8220;Oh, bisa, Pi. Jam berapa ketemunya? lanjutnya. &#8220;Kita dandan dulu ya. Kira-kira setengah jam kita sampai,&#8221; tandasnya. Usai menutup handphone, Jeny langsung menghampiri Dina dan Lusy.</p>
<p>&#8220;Papi bilang kita disuruh nemenin tamu main judi. Di tempat biasa. Bisa nggak?&#8221; tanya Jeny pada Dina dan Lusy. &#8220;Bisa aja. Gue ganti baju dan dandan sebentar ya,&#8221; timpal Dina dan Lusy bersamaan. Kami hanya mendengarkan percakapan mereka. Kami masih asyik duduk di atas pembaringan Jeny. &#8220;Gue mandi dulu ya. Kamu di sini saja. Nggak apa-apa kok,&#8221; tukas Jeny pada kami sambil membuka pintu lemari mengambil sebuah handuk warna merah darah. Tak lama kemudian, dari kamar mandi terdengar bunyi gemericik air shower. Lima menit berlalu sudah. Kami menunggu sambil menonton peragaan busana-busana Armani di televisi. Dua menit kemudian, Jeny keluar dari kamar mandi dan segera menghenyakkan pantatnya yang emoy di atas kasur, dekat kami. Usai membaluri tubuhnya dengan cream kulit dan menghias mukanya dengan make-up soft, Jeny mengenakan gaun hitam panjang dan sepatu hak tinggi. Sambil membetulkan letak gaunnya, Jeny mengangkat telepon.</p>
<p>&#8220;Mas, tolong siapkan mobil satu. Atas nama Jeny kamar 505,&#8221; pintanya. Jeny memandang dirinya di kaca cermin. &#8220;Kamu ikut aja ya. Udah pernah ke kasino belum? Yang ini tempatnya asyik banget, maklum tempatnya orang berduit. Ikut aja ya?&#8221; tawarnya. Kami hanya mengiyakan karena penasaran juga mendengar tawaran Jeny. Dari balik pintu, terdengar suara Dina dan Lusy. &#8220;Jen, udah siap belum. Kami menunggu di luar,&#8221; teriak mereka. Kami menuruni dua tangga. Begitu tiba di halaman depan, sebuah Kijang sudah menanti. Kami segera menghambur masuk bergantian. Jeny, Dina dan Lusy di depan, kami di bangku belakang. Selama perjalanan, ketiga gadis itu banyak bercerita soal kasino NS yang ditujunya. &#8220;Udah pernah ke sana belum? Tempatnya enak banget. Pokoknya ntar lihat sendiri. Pasti suka,&#8221; ujar Lusy ber-promosi. Kali ini, ketiga gadis itu diboking dua pengusaha WNI yang gemar bermain judi kasino di NS. Menurut ketiganya, NS terkenal sebagai kasino elite yang ada di Jakarta. Untuk kelas biasa, pemain mesti membawa uang deposit minimal Rp. 1 juta untuk membeli chip. Sementara kelas VIP, deposit minimal Rp. 5 juta.</p>
<p>&#8220;Kita sih nggak ikut main. Paling-paling kita minta dibeliin koin, entar dituker lagi. Lumayan kan duitnya. Itu belum termasuk uang tips,&#8221; jelas Jeny kepada kami. Menurut Jeny, malam itu ia bersama dua rekannya akan menemani tiga &#8220;bos&#8221; keturunan WNI. &#8220;Kata Papi sih, perusahaannya banyak. Yang gue denger, yang bernama Pak Liong, punya pabrik rokok dan kertas,&#8221; jelas Jeny. Selang lima belas menit, kami tiba di lokasi. Suasana lalu lintas di depan gedung NS tampak ramai. Ratusan mobil parkir rapi. Lalu lintas masih semarak dengan aneka macam mobil yang menderu di jalanan dengan lampu kekuningan. Begitu memasuki area gedung, kami masuk lift dan memencet angka 4. &#8220;Tempatnya ada di lantai empat,&#8221; tandas Lusy. Pada saat bersamaan, tiga lekaki bermata sipit ikut naik bersama kami. Semenit kemudian, kami keluar dari lift. Dan benar saja, suasana gemerlap, hiruk pikuk dan gemuruh celoteh anak manusia menjadi pemandangan yang menyambut kedatangan kami.</p>
<p>Jeny segera mengangkat handphone. Dari sebuah pintu masuk, tampak lelaki tersenyum pada ketiga gadis itu. &#8220;Yuk. Sudah ditunggu,&#8221; ujar pria yang dipanggil Jeny dengan sebutan Papi. Dari balik sakunya, Papi mengeluarkan be-berapa puluh chip atau koin sebagai tanda masuk. Kami masing-masing dibekali beberapa chip oleh Jeny. Warnanya macam-macam, ada merah, biru, kuning dll. Masing-masing warna tersebut berbeda harganya kalau ditukarkan ke kasir. &#8220;Biar bisa masuk. Kalau mau adu nasib, mainin aja,&#8221; tandasnya. Kami berpisah dengan Jeny di pintu masuk. Setelah Jeny bersama Dina dan Lusy menghilang di kerumunan orang yang tengah bermain judi, kami berhenti sejenak. Di depan pintu masuk, beberapa petugas keamaan berbadan tegap tampak siaga. Kami pun tak lama kemudian menyusul masuk ke dalam. Kami teringat film God of Gambler dengan bintang Chou Yun Fa. Ya, kira-kira gambarannya tidak beda jauh. Hanya di NS ini lebih semarak karena meja tempat perjudiannya relatif tersebar di tiap sudut. Lampu-lampu menyala terang menyilaukan mata. Dinding semua serba kaca. Selama 20 menit kami berputar menyaksikan polah manusia yang mengadu untung di meja kasino.</p>
<p>Di area ruangan tengah, kami melihat Jeny, Dina dan Lusy tampak duduk mendampingi ketiga pria bermata sipit di sebuah meja kasino. Jeny mengapit pria agak tambun berkacamata, sementara Dina dan Lusy mendamping dua pria berbadan sedang dengan busana rapi. Di dua kursi lain, tampak dua pria yang juga didampingi dua gadis tak kalah cantik. Ah, rupanya di meja itu tengah berlangsung permainan seru. Beberapa kali terdengar suara-suara parau, putus asa. Dari tempat kami berdiri, kira-kira 10 meter dari tempat Jeny Cs, kami melihat pria yang diapit Jeny tampak menyodorkan sepuluh chip. Dengan tersenyum, pria itu berbisik mesra ke telinga Jeny. Empat pria lain, melakukan hal yang sama. Sinyal kemenangan membias jelas di wajah pria yang didampingi Jeny. Kartu terus dibagikan oleh seorang pemuda berpakaian rapi dan berdanan klimis.</p>
<p>Dan benar saja! Pria &#8220;gebetan&#8221; Jeny itu bernasib mujur. Senyum lebar menghias di pipinya yang sedikit memerah. Dengan serta merta, tangan pria agak tambun itu mengeruk puluhan koin dengan senyum lebar. Sesaat kemudian, tangannya langsung saja memeluk erat tubuh Jeny dan mencium pipi sebelah kirinya berulang-ulang. Diperlakukan seperti itu, Jeny menggeliat manja tanpa penolakan. Sebuah senyum lebar kembali terkembang mengiringi malam yang terus merayap. Jeny, Dina dan Lusy dengan setia mendampingi &#8220;para bos&#8221; itu bermain judi. Layaknya seorang istri, gadis-gadis yang menghangatkan meja casino itu begitu setia dan penurut. Sambil terus mengamati keadaan sekeliling, kami tak lupa melirik gerak-gerik Jeny Cs. Entah berapa koin yang sudah disusupkan jari-jari pria itu ke bagian belahan dada Jeny Cs. Apalagi ketika kemenangan menjemput, puluhan koin dengan seenaknya ditaburkan ke dalam, maaf, belahan busana bagian dada. Diperlakukan seperti itu, baik Jeny, Dina dan Lusy menyambutnya dengan manja sembari tertawa-tawa genit menggoda.</p>
<p>Selain meja kasino yang ditongkrongi Jeny Cs, di meja-meja lain tampak pemandangan serupa. Sedikitnya ada puluhan meja kasino yang ditumpahi pria dan wanita yang tengah mengadu nasib. Jumlah pria memang lebih banyak, sementara wanitanya hanya beberapa orang saja. Tiba-tiba kami dikejutkan dengan kemunculan seorang pria berbadan tegap. &#8220;Heh, ngapain lu disini?&#8221; sapa pria itu mengagetkan kami. &#8220;Wah, lu Bert. Lu sendiri ngapain?&#8221; timpal kami balik bertanya. Rupanya, pria itu Robert, seorang security yang kerap mengawal pengusaha-pengusaha kaya dan anak-anak pejabat. &#8220;Biasa. Lagi ngawal bos,&#8221; akunya. Dari penuturan Robert, bos yang dimaksudnya adalah seorang pejabat pribumi yang punya puluhan perusahaan dan dikenal punya hubungan dekat dengan pengusaha WNI keturunan. Selain suka bermain judi kasino, bos Robert bernama HR itu kerap mampir di kafe-kafe elite Jakarta. &#8220;Ikut gue aja. Ngapain juga lu di sini. Ntar gue liatin yang asyik-asyik dan pasti seru,&#8221; sergah Robert. Kami menganggukkan kepala sebagai tanda setuju.</p>
<p>Kami dibawa memasuki sebuah pintu lagi tak jauh dari meja kasino kelas biasa. Dan begitu terbuka, tampak beberapa ruangan yang masing-masing dijaga ketat oleh security. Kami menebar pandang. Berbeda dengan kasino kelas standar, di ruang VIP ini, semua tertutup. Sedikitnya terdapat 10 ruangan VIP di NS. Ruangan itu mengingatkan kami pada ruangan karaoke yang ada di diskotek BK, di kawasan Sudirman. &#8220;Bos main di situ,&#8221; tunjuk Robert pada sebuah pintu yang dijaga dua lelaki berbadan tegap. Ruangan itu bertuliskan nama sebuah negara bagian Amerika Serikat. Kami mengekor di belakang Robert. &#8220;Kita nongkrong di sini saja. Biasanya &#8216;bos&#8217; main sampai pagi,&#8221; jelas sambil mendudukkan diri pada kursi sofa. Menurut penuturan Robert, &#8220;bos&#8221;-nya lagi main dengan empat orang pengusaha kaya. &#8220;Gue nggak tahu pasti. Dengar-dengar, yang satu punya pabrik minuman air mineral,&#8221; tukasnya. Selama kurang dari 30 menit kami asyik mengobrol dengan Robert. Pria berdarah Flores itu dengan setianya menunggu di depan pintu.</p>
<p>&#8220;Mana yang asyik dan seru. Katanya lu mau kasih tunjuk?&#8221; tagih kami. &#8220;Oh, lu mau lihat. Tapi jangan berisik ya,&#8221; pinta Robert. Dengan perlahan Robert membuka pintu. Di belakang pintu ternyata masih ditutup dengan kain kelambu hitam. Robert menyibakkan kain hitam itu. Dan astaga, kami dapat dengan jelas sebuah meja bundar dengan lima kursi. Di tiap kursi duduk lima pria dengan seriusnya memegang kartu. Bos Robert duduk tenang mengenakan kaos ber-krah. Sebuah kaca mata tampak menghias di wajahnya. Yang membuat kami terbelalak tentu saja, hadirnya tiga gadis yang berdiri mengelilingi meja bundar itu. Ketiga gadis itu telanjang tanpa busana. Postur ketiga gadis itu, begitu molek. Rata-rata berkulit kuning langsat dengan dada minimal 34 B. Salah satu gadis berambut ikal sebahu yang berdiri di sudut meja sebelah kiri memiliki dada yang membusung ke depan di atas ukuran 36. Wajah ketiga gadis itu menjadi pemandangan indah dengan make-up wajah yang menonjol.</p>
<p>&#8220;Yang dadanya paling montok itu namanya Mona, baru 21 tahun, asli Manado,&#8221; bisik Robert ke telinga kami. Gadis telanjang bernama Mona itu meng-ingatkan kami akan wajah salah seorang bom seks Indonesia era 1990-an, Sally Marcelina. Bibir merah merekah dengan sorot mata genit menggoda. Layaknya gadis-gadis Guest Relation Officer (GRO) yang kerap menemani para tamu sitting untuk minum atau dinner di kafe, Mona bersama dua gadis itu melayani semua kebutuhan para bos yang tampak serius memegang kartu itu. Dari menuangkan minuman ke gelas yang kosong sampai membagikan kartu. Lamat-lamat, terdengar alunan musik bernuansa syahdu dan mendayu-dayu. Perlahan sekali terdengar di telinga. Dari balik pintu yang ditutup kelambu hitam itu, kami dengan degup jantung berdebar menyaksikan polah tingkah mereka. Kami sempat ternganga ketika melihat aksi tangan dari kelima pria itu. Bayangkan, ketika salah satu dari pria itu memenangkan pertandingan, ia langsung menyuruh salah seorang gadis merapikan tumpukan koin atau chips yang berlimpah itu. Entah berapa jumlahnya. Jumlah koin itu mencapai ratusan buah. Kalau harga satu chip senilai Rp. 1 juta per buah, tinggal mengalikan saja.</p>
<p>Usai mengumpulkan koin, dengan tertawa terbahak, salah satu pria itu merangkul pinggang si gadis dengan manja. Bahkan, maaf, dengan santainya tangan itu membelai tubuh gadis yang tanpa busana itu. &#8220;Kita menang lagi, honey,&#8221; ucap seorang pria bermata sipit yang duduk membelakangi kami sambil memeluk pinggang si gadis. Si gadis pun dengan manja menurut saja dalam pelukan kemenangan itu. Apa yang dilakukan ketiga gadis itu, mengingatkan kami pada aksi Jeny, Dina dan Lusy yang menemani &#8220;pria-pria&#8221;-nya di kasino kelas biasa. Kami sempat berpikir, kemungkinan Jeny Cs menemani para tamunya dengan berbugil ria. &#8220;Sudah jangan lama-lama. Ntar gue ketahuan bisa dipecat,&#8221; ucap Robert menyadarkan kami. Pintu tertutup kembali. Kami kembali menanti sambil duduk di sofa. Dalam percakapan kami dengan Robert, ketiga gadis yang telanjang itu diboking dari salah satu germo ternama di Jakarta.</p>
<p>&#8220;Bos gue yang mesen. Katanya sih, untuk penghangat suasana. Mereka gua jemput dari kost-kost-an mereka di kawasan Batu Ceper,&#8221; ujar Robert. Ihwal gadis telanjang itu, cerita Robert, sudah menjadi adat kebiasaan yang dilakukan bos-bos ketika main di ruang VIP Kabarnya, satu orang dibayar Rp. 3 juta. Hanya saja, jumlah itu terlalu sedikit dibanding tips yang bakal diperoleh ketiga gadis itu. Jam terus saja merayap. Kami dengan sabar menemani Robert mengobrol. Tanpa terasa, kami sudah 3 jam berada di kasino NS. Mendengar cerita Robert seperti tak ada habis-habisnya. Kami memutuskan untuk berkeliling di area kasino lantaran jam sudah menunjuk pukul 03.45 WIB dini hari. &#8220;Kami keliling sebentar. Mau lihat-lihat,&#8221; ujar kami. Robert menyuruh salah seorang anak buahnya, John, mengantar kami turun berkeliling. Kami berkeliling lagi di area casino kelas biasa. Rupanya, NS juga dilengkapi arena perjudian mesin, seperti mickey mouse, happy royal dan bola tangkas.</p>
<p>Setiap pemain, mesti membeli kredit untuk bisa memainkan judi yang juga populer dengan sebutan judi dingdong itu. Kami mendapatkan beberapa pemandangan menarik. Salah satunya, proses gadai-menggadai barang. Tradisi itu sudah bukan barang baru di kasino NS. Di beberapa tempat, tampak pria-pria yang sibuk menanti barang gadai datang. &#8220;Handphone Nokia 2000 bisa cuma digadai Rp 500 ribu &#8211; Rp. 1 juta,&#8221; ujar John. &#8220;Malah, banyak juga mobil-mobil mewah seperti Mercy, BMW, yang digadai dengan harga murah. Makanya di sini banyak orang main judi sambil menunggu barang gadai,&#8221; lanjutnya. Kalau punya uang cash, usul John, mendingan nongkrong di kasino. &#8220;Gadainya murah, kalau yang punya ngambil barangnya, kita bisa dapat bonus minimal 25 persen. Apalagi kalau lagi menang, pasti dapat bonus gede,&#8221; sambung John.</p>
<p>Menjelang pukul 05.35 WIB, kami memutuskan kembali ke Robert. Rupanya, permainan di ruangan VIP itu telah usai. Suasana di ruangan VIP itu tak lagi diisi dengan adegan bermain kartu, tapi sebuah dentuman musik. &#8220;Bos gua menang banyak. Ada Rp. 700 juta lebih,&#8221; tandas Robert ketika kami menghampirinya. &#8220;Mereka sedang berpesta,&#8221; sambung Robert. Kami makin penasaran. Pesta macam apa? Atas ijin Robert kami kembali mengintip dari balik pintu masuk yang ditutup kelambu hitam. Yang kami saksikan kala itu, persis pesta tarian striptis. Ketiga gadis tanpa busana itu menari-nari mengitari meja dengan panasnya. Gerak tarian ketiga gadis itu begitu profesional. Gambaran ketiganya sebagai penari striptis profesional segera menggayut di benak kami. Ruangan kasino VIP itu berubah menjadi suara tertawa dan denting gelas minuman. Pesta dini hari itu makin panas. Tak henti-hentinya, lembaran lima puluh ribuan terhambur ke lantai. Dengan genit dan penuh goda, ketiga gadis itu bergantian memungut lembaran lima puluh ribu yang berceceran.</p>
<p>Gelak tawa, bunyi mendesah dan keringat gadis cantik berbaur dengan bau minuman yang menyengat. Musik terus saja berdetak membius telinga. Besty dan dua kawannya itu terus saja menggeliat penuh gairah. Butiran keringat tampak mengaliri ketiga tubuh gadis itu. Kelima bos yang awalnya samasama mempertaruhkan miliaran rupiah di atas miliaran rupiah itu hanyut dalam suasana. Tawa mereka terdengar pongah ketika lembaran lima puluh ribuan berulang kali mereka hamburkan. Sebelum pesta usai, Robert menutup pintu dengan perlahan sekali. Kami sempat bertanya pada Robert, ke mana ia akan mengantar bosnya. &#8220;Langsung pulang,&#8221; tegasnya. Menurut Robert, meski menyewa cewek bugil, sambung Robert, bosnya tak pernah membawa mereka untuk diajak tidur. &#8220;Kalau judinya selesai, mereka disuruh pulang. Gitu aja,&#8221; ceplos Robert. Kami pun berpamitan. Dalam perjalanan menuju pintu lift, kami menyaksikan antrean puluhan orang di sebuah loket tempat penukaran koin dengan uang cash. Kami tiba di lantai dasar sekitar pukul 06.40 WIB. Lewat telepon genggam, kami pamitan pada Jeny Cs. Mentari pagi masih malu menampakkan diri. Hanya biasnya yang menyemburat di ufuk Timur. Di benak kami masih terbayang ketiga cewek bugil yang mengelilingi meja judi kasino dan menari begitu panas mengitari para bos yang bergelimang harta. Benarkah Jakarta telah menjadi Las Vegas? Kami hanya geleng-geleng kepala.</p>
<p>
<ul>
<li><a target="_blank" href="http://www.doktertomi.com" title="Free Inspirations, News, Guides, Tips and Tricks" target="_blank">Doktertomi.com</a> : Free Inspirations, News, Guides, Tips and Tricks</li>
<li><a target="_blank" href="http://www.botolempangan.info" title="Everything You Need To Know About Makassar" target="_blank">Makassar Today</a> : Everything You Need To Know About Makassar</li>
<li><a target="_blank" href="http://www.masterbiznet.com" title="Masternya Bisnis Internet" target="_blank">Masterbiznet.com</a> : Masternya Bisnis Internet</li>
<li><a target="_blank" href="http://www.workinthewebsite.com" title="News, Guides, Tips and Tricks on Website Monitization and Advertising" target="_blank">Work in The Website</a> : News, Guides, Tips and Tricks on Website Monitization and Advertising</li>
</ul>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center shr-bookmarks-bg-shr">
<ul class="socials">
		<li class="shr-blogger">
			<a href="http://www.blogger.com/blog_this.pyra?t&amp;u=http://www.doktertomi.com/2008/03/26/nude-ladies-nite-vip-casino/&amp;n=Nude+Ladies+Nite+VIP+Casino&amp;pli=1" rel="nofollow" class="external" title="Blog this on Blogger">Blog this on Blogger</a>
		</li>
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://www.doktertomi.com/2008/03/26/nude-ladies-nite-vip-casino/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://www.doktertomi.com/2008/03/26/nude-ladies-nite-vip-casino/&amp;t=Nude+Ladies+Nite+VIP+Casino" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-myspace">
			<a href="http://www.myspace.com/Modules/PostTo/Pages/?u=http://www.doktertomi.com/2008/03/26/nude-ladies-nite-vip-casino/&amp;t=Nude+Ladies+Nite+VIP+Casino" rel="nofollow" class="external" title="Post this to MySpace">Post this to MySpace</a>
		</li>
		<li class="shr-technorati">
			<a href="http://technorati.com/faves?add=http://www.doktertomi.com/2008/03/26/nude-ladies-nite-vip-casino/" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Technorati">Share this on Technorati</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Nude+Ladies+Nite+VIP+Casino+-+http://b2l.me/bduak&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Nude+Ladies+Nite+VIP+Casino&amp;body=Link: http://www.doktertomi.com/2008/03/26/nude-ladies-nite-vip-casino/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Kasino%20mewah%20dengan%20gadis-gadis%20cantik.%20Pengunjungnya%20pria-pria%20public%20figure%2C%20dari%20pengusaha%20kelas%20kakap%20sampai%20kalangan%20pejabat.%20Wanitanya%2C%20tidak%20saja%20menjadi%20pendamping%20bermain%20judi%20tapi%20di%20ruang%20VIP%20mereka%20melayani%20tamu%20dengan%20menanggalkan%20baju%20alias%20telanjang%21%20Kasino%20sudah%20lama%20menghias%20Jakarta" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

<p><img src="http://wptextads.s3.amazonaws.com/images/press/wpta-20x20.jpg" alt="WP Text Ads" border="0" /> <a rel="nofollow" href="http://www.doktertomi.com/wp-content/plugins/wptextads1/wpta.php?wpta_form=1&wpta_cmd=buy&wpta_id=1500" onclick="window.open('http://www.doktertomi.com/wp-content/plugins/wptextads1/wpta.php?wpta_form=1&wpta_cmd=buy&wpta_id=1500', 'nehemiah_window', 'width=550,height=530,scrollbars,resizable'); return false;">Want visitors to your site? Buy an ad here.</a></p><img src="http://www.doktertomi.com/?ak_action=api_record_view&id=1500&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.doktertomi.com/2008/03/26/nude-ladies-nite-vip-casino/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Weekend Party Janda-janda Tajir</title>
		<link>http://www.doktertomi.com/2008/03/24/weekend-party-janda-janda-tajir/</link>
		<comments>http://www.doktertomi.com/2008/03/24/weekend-party-janda-janda-tajir/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Mar 2008 07:04:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>antz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jakarta Undercover : Sex n' The City]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://doktertomi.com/2008/03/24/weekend-party-janda-janda-tajir/</guid>
		<description><![CDATA[Janda-janda kaya menggelar pesta di akhir pekan atau akhir bulan. Sekedar merayakan ulang tahun, arisan sampai foya-foya. Ujung-ujungnya, berakhir menjadi pesta memabukkan. Tidak saja oleh ragam minuman beralkohol, tapi juga perilaku masygul. Lembaran Jakarta mengukir cerita yang amat beragam. Kehidupan duniawi yang serba metropolis dan kosmopolit tak ubahnya seperti anggur manis yang menggiurkan dan siapapun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fwww.doktertomi.com%2F2008%2F03%2F24%2Fweekend-party-janda-janda-tajir%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=tahoma&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<p>Janda-janda kaya menggelar pesta di akhir pekan atau akhir bulan. Sekedar merayakan ulang tahun, arisan sampai foya-foya. Ujung-ujungnya, berakhir menjadi pesta memabukkan. Tidak saja oleh ragam minuman beralkohol, tapi juga perilaku masygul.</p>
<p>Lembaran Jakarta mengukir cerita yang amat beragam. Kehidupan duniawi yang serba metropolis dan kosmopolit tak ubahnya seperti anggur manis yang menggiurkan dan siapapun tergoda untuk mereguknya. Tapi banyak yang terlena, hingga mabuk dan larut lupa diri. Anggur itu pun berubah menjadi racun yang memabukkan. Tak ayal, racun itupun terus deras mengalir ke urat nadi membuat beberapa wanita harus berstatus janda. Harta kekayan yang melimpah, ternyata tak menjadi jaminan seorang wanita bisa mereguk kebahagiaan sejati. Rumah tangga retak, adalah hal biasa yang seolah menjadi agenda rutin. Harta kekayaan sebenarnya menjadi anggur manis yang enak dan lezat, asal tahu batasannya. Rumah tangga ibarat surga dunia buat pasangan suami istri ketika dibangun di atas pondasi kasih sa-yang tanpa pamrih. Tapi apa lacur, banyak orang mereguk anggur tak tahu kadarnya hingga lupa daratan. Harta kekayaan menjadi berhala yang memperbudak diri, dan rumah tangga cerai-berai tanpa makna yang tersisa.</p>
<p>Akibatnya, ketika semua terbuang lepas, status janda membuat beberapa wanita kaya hidup dalam kegamangan. Paling tidak, itulah yang dialami Shinta, 27 tahun, janda seorang pengusaha kafe yang bekerja di sebuah perusahaan tambang dan Monica, 29 tahun, janda anak mantan wali kota satu di salah satu wilayah DKI Jakarta. Mereka yang dalam hal materi serba kecukupan bahkan boleh dibilang berlebih, harus hidup dalam canda tawa semu. Hambar dan basi. Gaya hidup kafe, hura-hura dan senang-senang seperti menjadi hiasan luar. Di dalam batin, mereka menjerit di alam kesepian.</p>
<p><strong>Pesta Amburadul.</strong></p>
<p>Sebagai janda, mereka punya komunitas tersendiri. Hampir tiap malam, mereka kerap mangkir di kafe ZB, di kawasan Blok M, Jakarta Selatan. Mereka reserved tempat yang muat untuk 10-20 orang. Yang datang tidak melulu wanita, tapi beberapa diantaranya pria berumur. Mereka termasuk tamu eksklusif. Para awak kafe menjadikan mereka tamu istimewa. Sebagai costumer, mereka termasuk katagori kelompok yang spendmoney dalam jumlah besar. Di kafe ZB itulah, kami mengenal Shinta dan Monica. Keduanya tampak supel, ramah dan enak diajak bicara. Biasanya, Shinta, Monica dan beberapa gank-nya, sering melewatkan jam-jam sore dengan mangkal di kafe-kafe mal seperti yang terdapat di Plaza Senayan. Kalau tidak begitu, mereka sering menghabiskan waktu dengan bersantai di salon kecantikan.</p>
<p>Ya, apalagi kalau tidak untuk ngrumpi tentang segala persoalan sambil merawat diri. Selain itu, mereka juga punya gang arisan bulanan yang diselenggarakan dari kafe ke kafe. Kalau tidak begitu, diadakan di rumah pribadi. Dari salah satu kelompok janda tersebut, kami mengenal dengan baik satu di antaranya, sebut saja Shinta. Dan dalam satu kesempatan di bulan Desember 2001, kami tak menolak ketika Shinta meminta kami untuk mengabadikan pesta ulang tahun Monica yang ke-29. Pesta itu digelar di ballroom sebuah hotel berbintang empat, sebut saja hotel GH, di kawasan Jakarta Selatan. Hotel tersebut berada di sebuah kawasan yang di sekelilingnya dijejali aneka restoran yang menjual aneka masakan. Dari yang khas Indonesia sampai mancanegara. Tak jauh dari hotel GH terdapat sebuah plaza yang pada tahun 1996 pernah jadi arena lokasi mejeng sejumlah anak-anak gaul Jakarta, sebelum mereka pindah ke Mal Pondok Indah dan Plaza Senayan. Pada hari yang ditentukan, kami datang ke lokasi. Jam baru menunjuk pukul 19.25 WIB. Dalam undangan disebutkan, pesta baru akan dimulai pada pukul 21.00 WIB.</p>
<p>Kami memutuskan untuk melihat-lihat suasana ball-room. Letaknya berada di lantai dua. Para awak hotel sibuk men-desain ruangan. Bunga-bunga beraroma harum, meja makan dan bar mini. Ball-rom seluas dua kali lapangan bola voli itu nyaris kering. Yang tampak hanya hamparan permadani warna-warni dengan bias lampu warna kuning keemasan. Lewat setengah jam kemudian, Monica, yang punya hajatan, datang ditemani beberapa karibnya. Tampak Shinta berjalan di samping. Malam itu, ia mengenakan gaun panjang warna ungu dengan belahan V, sementara Shinta membalut tubuh rampingnya dengan sack-dress hitam selutut. Kaki belalangnya menjadi daya tarik tersendiri bagi mata lelaki. Di leher Monica dan Shinta menggelantung untaian kalung mutiara. Tamu-tamu mulai berdatangan. Di meja tamu, dua gadis dengan senyum ramah mempersilakan tamu untuk masuk. Di pintu masuk, Monica dan Shinta me-nyambut kedatangan teman-temannya dengan kecupan di pipi kanan dan kiri.</p>
<p>Malam itu, mayoritas tamu yang datang wanita berusia di atas 25 tahun. Semua mengenakan busana pesta yang serba &#8216;wah&#8217; dan glamour. Tak heranlah kalau tamu Monica dan Shinta, kebanyakan wanita berduit. Monica sendiri membuka usaha bisnis garmen dan butik merek terkenal dari luar negeri. Sebelum menjanda, Monica bersuamikan seorang pengusaha minyak. Sedangkan Shinta menjadi direktur di sebuah perusahaan tambang. Hebat juga. Rupanya, sebelum cerai, suaminya termasuk keluarga pejabat teras di masa Orde Baru. Dari suaminya, Shinta dikaruniai dua orang putra, masing-masing berusia 16 dan 19 tahun. Monica sendiri mendapatkan satu putra baru berumur 4 tahun dari perkawinan pertama. Menjelang pukul 21.00 WIB, tamu-tamu mulai memenuhi ruangan ball-room. Pesta digelar ala standing-party. Puluhan wanita yang jumlahnya mencapai 40 orang berbaur jadi satu dalam suasana riuh penuh canda. Sekitar 25 pria yang datang, membuat kelompok tersendiri. Pria-pria itu kebanyakan sudah berumur. Di antara kerumunan tamu itu tampak beberapa selebritis papan atas.</p>
<p>Ada penyanyi muda yang sedang naik daun, sebut saja SN dan seorang aktor sinetron yang punya wajah ganteng dan menjadi idola wanita, sebut saja JT. Pintu ball-room ditutup. Awal acara dibuka dengan makan dan minum. Bar mini yang dijaga dua staf hotel, tampak sibuk membuat beragam racikan minuman beralkohol. Di sela-sela makan-minum, seorang MC terkenal yang kerap mengisi sebuah acara di satu salah tv swasta, sebut saja Antoni, muncul di kerumunan tamu. Anton memanggil beberapa wet-dancers pria-wanita yang hanya mengenakan Gstring tipis. Mereka menari selama kurang lebih 45 menit dengan liukan-liukan maut dan menggoda. Tepuk tangan riuh mengiringi aksi para penari. Beberapa pria yang berdiri di deretan depan, sesekali menebar tawa genit dan menggoda. Ada juga yang nekad menirukan tarian tanpa malu-malu. Begitu juga dengan para wanita. Dari tamu wanita yang datang, beberapa diantarnya ikut bergoyang tak kalah gesit. Acara dilanjutkan dengan munculnya SN yang melantunkan tiga tembang cinta. SN sendiri, menurut Shinta, merupakan kawan dekat Monica.</p>
<p>Di blantika musik nasional, namanya mulai berkibar belakangan terakhir. la khusus diundang Monica untuk memberikan kado ultah berupa &#8216;lagu&#8217;. Pemotongan kue ulang tahun dilakukan pada pukul 23.00 WIB. Kue pertama diserahkan Monica pada seorang pria bernama, Joseph, 33 tahun. Kami tak begitu mengenalnya laki-laki itu. &#8220;Cium dong. Masak dianggurin!&#8221; Beberapa teman Monica berteriak menggoda Monica. Rupanya, teriakan itu membuat Monica tak segan-segan mencium si Boy cukup lama. Pria berwajah cukup tampan namun sedikit gemuk itu, mau tak mau melayani ciuman Monica, hangat. Tepuk tangan bergemuruh di ruangan ball-room. &#8220;Joseph lagi dekat sama Monica. Baru dua bulan,&#8221; tukas Shinta menjelaskan kepada kami. Pesta malam itu berlanjut dengan acara disco-time. Lagu-lagu R&amp;B, Acid Jazz bahkan garage membahana lumayan keras. Kali ini, puluhan tamu benar-benar menikmati suguhan minuman yang ada. Denting gelas bercampur hiruk pikuk musik dan canda tawa mewarnai pesta yang terus berjalan mengiringi malam.</p>
<p>Makin malam, pesta itu makin meriah dan menjadi-jadi. Beberapa tamu undangan diantaranya IK dan DA pamitan pulang. Begitu juga dengan tamu-tamu lain. Jam sudah menunjuk pukul 01.00 WIB dini hari. Di ruangan ball-room itu tinggal tersisa sekitar 25 orang. Kebanyakan dari mereka adalah temanteman dekat Monica dan Shinta. Kami diperkenalkan dengan tiga wanita yang menjadi &#8220;gank&#8221; seperjalanan. &#8220;Ini Marcela, Jeny, dan Joice. Kita ini sama lho, golongan janda-janda kembang,&#8221; tukas Shinta blak-blakan tanpa beban. Kelima wanita berstatus janda itu polahnya makin berani. Aroma alkohol menebar tiap kali mereka tertawa lepas. Genit, centil dan cuek. Mereka benar-benar bertingkah layaknya anak-anak muda yang doyan &#8216;gaul&#8217; di malam hari. Padahal, dari sisi umur, mereka sudah tak lagi muda. Marcela berusia 26 tahun dikaruniai dua putra. Jeny sudah berkepala tiga dan dikaruniai tiga putra. Sedangkan Joice yang relatif lebih muda, 25 tahun, baru enam bulan menjanda dan belum berputra.</p>
<p>Ketiganya termasuk pejalan malam. Hampir di semua kafe elit di Jakarta mereka tercatat sebagai member-guest. Para awak kafe sudah hapal dengan mereka. Tiap kali datang ke suatu acara, mereka selalu membawa pengawal. Kabarnya, ketiganya menjadi istri simpanan pria-pria keturunan yang berduit. Mereka mulai menyatu dengan beberapa pria yang hadir. JT, aktor sinetron yang memiliki wajah ganteng dan badan kekar, menjadi pusat perhatian para wanita yang hadir malam itu. Kelompok Monica Cs, termasuk yang paling getol membikin polah aneh-aneh supaya JT tertarik. Yang paling getol adalah Shinta dan Joice. Dengan tanpa malu-malu, keduanya menempel JT. Berulang kali, mereka mengajak JT berdansa, toast dan berpose bersama. Dasar JT dikenal sebagai aktor mata keranjang, ajakan itu tak pernah ditolaknya. Pada satu kesempatan ia berada dalam pelukan Shinta, di lain waktu ia sudah pindah ke Joice dan Jeny. Begitu seterusnya. Di sudut lain, beberapa pasangan tampak asyik bersuka ria. Monica dan Joseph yang sama-sama mabuk, berpelukan erat meski lagu yang melantun terdengar berirama &#8216;garage&#8217;.</p>
<p>Di sudut lain, beberapa wanita tertawa lepas. Marcela yang berada di tengah-tengah mereka, menjadi leader yang membuat suasana makin panas. Mereka seolah tiada henti toast bersama. Dua pria yang ada diantara kerumunan para wanita itu di&#8217;plonco&#8217; habis-habisan. Bayangkan, dua pria yang sudah mabuk itu berulang kali disuguhi tontonan wanita yang dengan genit menanggalkan bajunya separoh badan. Marcela sendiri dengan cueknya menanggalkan gaun malamnya hingga yang tampak sepasang bra tipis. Lantaran pesta malam itu didominasi para wanita, beberapa pria yang jumlah-nya sekitar delapan orang itu nyaris menjadi bulan-bulanan Monica Cs. Klimaks pesta malam itu diakhiri dengan acara pose bersama dengan gaya &#8216;panas&#8217;. Dalam keadaan setengah sadar, mereka tanpa malu-malu lagi difoto seksi. Marcela, Joice dan Shinta misalnya, begitu berani mempertontonkan bagian-bagian sex-appeal yang terbungkus gaun pesta. Sesekali diiringi teriakan histeris yang memekakkan telinga. Beberapa petugas hotel yang berjaga, hanya bisa geleng-geleng kepala.</p>
<p>Mereka hanya bisa ikut tertawa menyaksikan polah tingkah yang berani itu. Beberapa tamu yang masih malu untuk bergabung, memilih diam sambil asyik dengan gelas minuman sambil sesekali mengacungkan gelas sebagai tanda support. Strip Dancers. Menjelang pukul 03.00 WIB dini hari, pesta bubar. Yang tersisa tinggal Monica and the gank dengan JT, Joseph dan dua pria karib Shinta dan Jeny. Usai pesta, mereka tak langsung pulang. Dalam keadaan mabuk, mereka ramai-ramai menuju lobi. Di tempat itulah mereka membuat kesepakatan untuk melanjut- kan pesta di pub-karaoke di NS di bilangan Thamrin. Tempatnya masih tergolong baru karena baru sekitar 1 tahun beroperasi. &#8220;Aku sudah reserved tempat. Kita pesta sampai pagi,&#8221; tandas Monica yang bersandar di bahu Joseph.</p>
<p>Satu per satu mobil jemputan mereka datang. Hampir semua mobil bermerek mewah. Monica mengendarai BMW seri 5 warna biru donker bersama si Boy. Shinta dijemput mobil Mercedez E 230. Marcela, Joice dan Jeny berada dalam satu mobil Caravel, sementara JT dan dua pria lain masing-masing mengendarai Cheeroke dan Volvo 960. Perjalanan menuju NS memakan waktu sekitar setengah jam. Monica rupanya membooking ruangan VIP. Ruangan itu terletak di lantai dua. Lokasinya tak jauh dengan ruangan bola biliard khusus No Smooking Area. Dua pelayan menyambut kami dan langsung menyodorkan menumenu spesial. Ruangan VIP itu dikelilingi kaca dan ditutup dengan kelambu tebal. Tiga botol white wine, sebotol Chivas Regal dan Jack Daniels langsung dipesan Joseph. Monica Cs masing-masing order Margarita, BV2, Long Island dan Calua Cream. Di ruangan VIP seluas 10 X 10 meter persegi itu tertata rapi sofa warna pink dengan dua meja. Di depannya terdapat sebuah televisi 29 inci. Monica Cs yang dalam keadaan &#8216;tipsy&#8217; (baca=setengah sadar) secara acak mulai memilih lagu-lagu fave.</p>
<p>Dengan suara sumbang, mereka satu per satu berganti menyanyi sambil menenggak beragam minuman beralkohol yang tersedia. Kami masih berada di dalam untuk mengabadikan mereka tengah karaoke bersama. Setengah jam berlalu, kami memutuskan untuk keluar ruangan. Kami segan lantaran takut mengganggu privacy mereka. Kami akhirnya bergabung dengan beberapa pelayan yang berjaga di depan pintu. Dari balik kelambu yang tersingkap, kami bisa melihat ke dalam. Suasana ruang VIP berubah menjadi ajang adu gelas dan canda tawa lepas. Monica ternyata telah memesan beberapa penari untuk memanaskan suasana. Monica memesan penari itu langsung dari pelayan yang berjaga. Rupanya, untuk pelayanan khusus ini tak perlu rahasia-rahasia. Pelayan biasanya akan menawar-kan dua paket; paket wanita peneman bernyanyi dan penari striptis. Tiga pasangan penari cewek-cowok muncul dengan busana seksi. Tanpa basabasi lagi, mereka mulai mempertontonkan liukan-liukan panas.</p>
<p>Yang terjadi kemudian, Monica Cs makin histeris berteriak. Aroma alkohol bercampur dengan dengus nafas penuh nafsu. Bisa dibayangkan situasi yang tercipta. Enam pasang penari pria-wanita melepas baju satu per satu. Sementara Monica Cs yang dalam keadaan mabuk, bersorak histeris. Tiga wanita sesekali mendekatkan badannya pada Joseph dan JT, sementara tiga penari pria memutar badan menggoda Monica, Marcela, Jeny dan Shinta. Tidak hanya itu saja, sesekali mereka mendudukkan diri di pangkuan. Mulut siapa yang tak tersedak, ketika jemari tiga penari wanita itu mulai melepas baju Joseph dan JT. Melihat pemandangan itu, Monica Cs bukannya cemburu tapi malah bersorak memberi semangat. &#8220;Telanjangin saja, Mbak,&#8221; teriak Shinta. Dan benar saja, meski berulang kali mengelak, Joseph dan JT akhirnya pasrah. Mereka mendekatkan mulut ke telinga Joseph dan JT. Dari balik saku, Joseph dan JT mengeluarkan lembaran ratusan ribuan. Rupanya, mereka seperti biasanya meminta tips dengan merayu semesra dan segenit mungkin. Begitu tips diterima, mereka kembali beraksi. Kali ini lebih berani dan makin gila. Monica Cs tak kalah repotnya.</p>
<p>Tiga penari pria itu melakukan hal yang sama. Dalam keadaan, maaf, telanjang, mereka membuat Monica Cs sampai lari-lari. Ketika salah seorang penari pria mendudukkan diri di pangkuan Marcela, wanita cantik itu menjerit sambil tertawatawa kegelian. Pesta gila bersama pasangan penari striptis itu berlangsung hingga dini hari. Rombongan Monica kembali ke hotel HG. Rupanya, Monica sudah memboking empat kamar. Pesta yang digelar Monica Cs itu, ternyata tidak hanya sekali dua kali terjadi. Dalam sebulan, mereka biasa membuat pesta-pesta tertentu. Pada awalnya, pesta itu sengaja dibuat sebagai ajang arisan bulanan. Namun, kebiasaan itu berlanjut terusmenerus dan menjadi tradisi. Tiap salah seorang &#8220;gank&#8221; berulang tahun atau lagi mendapat rezeki nomplok, pasti tak lepas dari pesta. Bisa seminggu sekali, atau minimal satu bulan sekali.</p>
<p><strong>Problema.</strong></p>
<p>Untuk apa sebenarnya gaya hidup yang serba bergelimang gemerlap pesta dan hura-hura tersebut, itu satu pertanyaan yang mungkin tak mudah dijawab. Dalam satu kesempatan, kami diminta Shinta mengabadikan resepsi pernikahan putrinya di sebuah komplek mewah di kawasan Pasar Minggu. Kami sempat terkejut lantaran putrinya belum juga tamat dari SMU. Kami lebih terkejut lagi ketika mendapatkan kenyataan kalau putrinya telah hamil enam bulan. Pengantin prianya pun tampak belia. Hanya satu kesimpulan, pasangan itu menikah ala MBA alias Married By Accident. Hadir dalam pesta itu beberapa selebritis Jakarta dan kalangan pejabat. Mereka yang diundang adalah teman-teman &#8220;terbaik&#8221; Shinta, baik dalam bergaul maupun bisnis. Ex-suaminya sendiri juga mengundang beberapa teman dekat dan rekan kerja. Pesta perkawinan dengan adat Jawa itu berlangsung selama dua hari, dua malam. Usai pesta, Shinta bersama gank-nya seperti Monica, Jeny, Marcela dan Joice terlihat duduk bergerombol bertukar cerita di teras depan.</p>
<p>Meski hidup serba bergelimang harta dan kemewahan, Shinta tak bisa memung-kiri kalau hidupnya kesepian. Air matanya tak kuasa ia tahan ketika melihat putrinya bersanding di pelaminan. Keharuan itu makin terasa lantaran Shinta kembali bersanding di kursi pelaminan dengan exsuami yang memberinya dua putra. Betapa hidup Shinta begitu penuh dilema. Rumah tangganya dengan pria sebut saja Dimas, 46 tahun, harus putus di tengah jalan. Dimas cukup punya nama di lingkungan pengusaha kafe di Jakarta. Ia adalah adik kandung seorang konglomerat pribumi. Setelah perceraian itu, Shinta tinggal dengan dua putranya di kawasan Pondok Indah. Sepeninggal Dimas, Shinta kembali bekerja sebagai salah satu direktur di PT ABT, sebuah perusahaan tambang. Di samping itu, ia juga membuka bisnis catering dan restoran. Hampir 9 tahun ia hidup menjanda. Untuk membunuh sepi, ia sering menghabiskan waktu di kafe-kafe. Dari situlah ia mengenal Monica, Joice, Jeny dan Marcela. Mereka sama-sama berstatus &#8220;janda&#8221;. Pertemuan itu berlanjut menjadi ikatan pertemanan yang kuat.</p>
<p>Mereka sama-sama hidup dengan persoalan serupa. Dari hari ke hari, mereka selalu menyempatkan diri untuk berkumpul. Sekedar fitness, arisan, nongkrong di kafe atau salon, les dansa sampai membuat pestapesta gila. Shinta mengaku, ia seperti hidup di alam semu. Ia tidak punya pijakan tetap harus melangkah ke mana. Satu-satunya cara untuk membunuh rasa sepi-nya adalah mengikuti gemerlap Jakarta yang sarat akan hura-hura dan pesta. &#8220;Mau apa lagi. Dari pada di rumah kesepian terus menerus,&#8221; ujarnya. Begitu juga dengan Monica. Hanya bedanya, janda cantik itu kini relatif lebih bahagia karena ada Joseph yang menjadi &#8220;tumpuan&#8221;nya. Meski statusnya hanya istri simpanan, Monica tak merasa rugi karena ia diberi kebebasan untuk beraktifitas. Dengan terus terang ia mengaku, kecewa akibat rumah tangga yang porak poranda, membuatnya ingin balas dendam. Dulu, ia begitu setia mendampingi suami. Tapi, yang didapatnya adalah satu lembaran buram kalau suaminya tukang main perempuan.</p>
<p>Kekecewaan itu membuat hidupnya berubah 180 derajat. Pertemuannya dengan beberapa wanita senasib seperti Shinta, membuatnya seperti menemukan pijakan baru untuk mensahkan apa yang mereka lakukan. Gaya hidup pesta baginya bukan satu kekeliruan karena paling tidak di celah itulah ia dapat menemukan kenikmatan hidup meski sesamar atau sesemu apapun. Bagi Monica, minimal, kebuntuannya dalam memaknai hidup bisa ia reguk. Baginya tidak salah kalau ada orang yang gaya hidupnya serba glamour dan borjuis. Di Jakarta budaya hidup seperti itu sudah bukan perilaku miliknya dan kawankawan, tapi banyak orang sudah melakoni dan larut. Contoh paling sederhana gaya hidup sebagian eksekutif muda. Nongkrong di kafe sampai mabuk, menikmati sajian tarian striptis sampai pesta shabushabu sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Ia bersama kelompoknya memang doyan pesta, tapi mereka bukan penikmat obat-obat terlarang seperti shabu-shabu yang lagi menjadi trend.</p>
<p>&#8220;Minum memang kami lakukan, tapi nge-drug bukan kebiasaan kami,&#8221; sergahnya. Kalau sekali waktu mereka kedapatan memakai kokain misalnya, itu hanya sekadar coba-coba. &#8220;Sekali dua kali, kami pernah mencoba. Tapi kami bukan pemakai yang sakaw,&#8221; sergahnya. Sungguh simpel prinsip yang dianut Monica dan Shinta. Bagi mereka, apa yang bisa mereka nikmati saat ini, tinggal menikmati saja. Mereka tidak terlalu pusing dengan beragam rumor negatif yang kerap berdesis memerahkan telinga. &#8220;Bodo amat omongan orang. Kita hidup punya jalan masing-masing,&#8221; tegasnya. Status janda memang tidak begitu mereka pikirkan masak-masak. Mereka tipikal orang yang easy come easy go. Namun bagi Monica dan Shinta, ada perasaan khawatir lantaran keduanya telah mempunyai putra yang mulai menginjak dewasa. Pikiran untuk mengakhiri masa jandanya sempat juga melintas di benak mereka. Bahkan, telah ada beberapa pria yang mengajak mereka untuk menikah.</p>
<p>Tapi, mereka belum juga tergerak untuk menerimanya. Mereka lebih suka menjadi wanita bebas. &#8220;Entah sampai kapan, aku sendiri nggak tahu,&#8221; tandas Shinta. Sebagai wanita, Monica dan Shinta samasama memiliki wajah cantik. Penam-pilan mereka makin lengkap ditopang dengan busana-busana trendy dan tentu saja bermerek. Dalam hal berpakaian, mereka termasuk kelompok yang mengikuti trend masa kini. Jadi, tak mengherankan kalau sekali waktu kami menemukan mereka mengenakan busana selera anak muda. Misalnya saja, pada satu kesem-patan di mana kami diminta mengabadikan pesta ulang tahun ke-10 putri Jeny yang diadakan di kafe ZB. Pemandangan yang kami dapati sungguh kontras. Mereka memakai baju model ABG di tengah kerumunan anakanak usia belia. Tanpa terasa, malam telah datang. Monica, Shinta, Jeny, Marcela dan Joice masih saja duduk semeja di teras rumah Shinta sembari menikmati sisa hidangan pernikahan. Entah sudah berapa puntung rokok tergeletak di asbak. Kami melihat, asap rokok tak pernah lepas dari mulut mereka selama percakapan berlangsung. &#8220;Jangan lupa besok sore kita les dansa. Malamnya kita lanjut ke kafe NZ,&#8221; ujar Marcela mengingatkan. Jeny, Marcela dan Joice berpamitan lebih dulu. Baru kemudian Monica menyusul. Rupanya, agenda les dansa yang kemudian berlanjut nongkrong ke kafe itu sudah menjadi rutinitas. Selama percakapan, Shinta tak memungkiri kalau aktifitas itu ia lakukan untuk mengisi hari-harinya yang sepi. Katanya, dengan beraktifitas paling tidak ia bisa melupakan segala keluh kesah dan penderitaan yang dialaminya. Apa iya??? Semua memang masih tanda tanya besar!</p>
<p>
<ul>
<li><a target="_blank" href="http://www.doktertomi.com" title="Free Inspirations, News, Guides, Tips and Tricks" target="_blank">Doktertomi.com</a> : Free Inspirations, News, Guides, Tips and Tricks</li>
<li><a target="_blank" href="http://www.botolempangan.info" title="Everything You Need To Know About Makassar" target="_blank">Makassar Today</a> : Everything You Need To Know About Makassar</li>
<li><a target="_blank" href="http://www.masterbiznet.com" title="Masternya Bisnis Internet" target="_blank">Masterbiznet.com</a> : Masternya Bisnis Internet</li>
<li><a target="_blank" href="http://www.workinthewebsite.com" title="News, Guides, Tips and Tricks on Website Monitization and Advertising" target="_blank">Work in The Website</a> : News, Guides, Tips and Tricks on Website Monitization and Advertising</li>
</ul>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center shr-bookmarks-bg-shr">
<ul class="socials">
		<li class="shr-blogger">
			<a href="http://www.blogger.com/blog_this.pyra?t&amp;u=http://www.doktertomi.com/2008/03/24/weekend-party-janda-janda-tajir/&amp;n=Weekend+Party+Janda-janda+Tajir&amp;pli=1" rel="nofollow" class="external" title="Blog this on Blogger">Blog this on Blogger</a>
		</li>
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://www.doktertomi.com/2008/03/24/weekend-party-janda-janda-tajir/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://www.doktertomi.com/2008/03/24/weekend-party-janda-janda-tajir/&amp;t=Weekend+Party+Janda-janda+Tajir" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-myspace">
			<a href="http://www.myspace.com/Modules/PostTo/Pages/?u=http://www.doktertomi.com/2008/03/24/weekend-party-janda-janda-tajir/&amp;t=Weekend+Party+Janda-janda+Tajir" rel="nofollow" class="external" title="Post this to MySpace">Post this to MySpace</a>
		</li>
		<li class="shr-technorati">
			<a href="http://technorati.com/faves?add=http://www.doktertomi.com/2008/03/24/weekend-party-janda-janda-tajir/" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Technorati">Share this on Technorati</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Weekend+Party+Janda-janda+Tajir+-+http://b2l.me/bduyf&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Weekend+Party+Janda-janda+Tajir&amp;body=Link: http://www.doktertomi.com/2008/03/24/weekend-party-janda-janda-tajir/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Janda-janda%20kaya%20menggelar%20pesta%20di%20akhir%20pekan%20atau%20akhir%20bulan.%20Sekedar%20merayakan%20ulang%20tahun%2C%20arisan%20sampai%20foya-foya.%20Ujung-ujungnya%2C%20berakhir%20menjadi%20pesta%20memabukkan.%20Tidak%20saja%20oleh%20ragam%20minuman%20beralkohol%2C%20tapi%20juga%20perilaku%20masygul.Lembaran%20Jakarta%20mengukir%20cerita%20yang%20amat%20beragam.%20Kehidu" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

<p><img src="http://wptextads.s3.amazonaws.com/images/press/wpta-20x20.jpg" alt="WP Text Ads" border="0" /> <a rel="nofollow" href="http://www.doktertomi.com/wp-content/plugins/wptextads1/wpta.php?wpta_form=1&wpta_cmd=buy&wpta_id=1495" onclick="window.open('http://www.doktertomi.com/wp-content/plugins/wptextads1/wpta.php?wpta_form=1&wpta_cmd=buy&wpta_id=1495', 'nehemiah_window', 'width=550,height=530,scrollbars,resizable'); return false;">Want visitors to your site? Buy an ad here.</a></p><img src="http://www.doktertomi.com/?ak_action=api_record_view&id=1495&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.doktertomi.com/2008/03/24/weekend-party-janda-janda-tajir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>28</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Shopping Date Cewek-cewek Highclass</title>
		<link>http://www.doktertomi.com/2008/03/22/shopping-date-cewek-cewek-highclass/</link>
		<comments>http://www.doktertomi.com/2008/03/22/shopping-date-cewek-cewek-highclass/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 22 Mar 2008 07:01:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>antz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jakarta Undercover : Sex n' The City]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://doktertomi.com/2008/03/22/shopping-date-cewek-cewek-highclass/</guid>
		<description><![CDATA[Mereka bukan callgirl. Wanita-wanita cantik yang juga berprofesi sebagai model ini, mengencani pria eksekutif untuk mengeruk harta sebanyak mungkin. Triknya, dari &#8216;shopping date&#8217; sampai &#8216;honeymoon&#8217; cinta ke mancanegara. Transaksi cinta gadis-gadis callgirl kelas atas ternyata amat beragam. Callgirl yang buka praktek terselubung misalnya, cukup menerima order telepon via GM kemudian dilanjutkan dengan dinner dan setelah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fwww.doktertomi.com%2F2008%2F03%2F22%2Fshopping-date-cewek-cewek-highclass%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=tahoma&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<p>Mereka bukan callgirl. Wanita-wanita cantik yang juga berprofesi sebagai model ini, mengencani pria eksekutif untuk mengeruk harta sebanyak mungkin. Triknya, dari &#8216;shopping date&#8217; sampai &#8216;honeymoon&#8217; cinta ke mancanegara. Transaksi cinta gadis-gadis callgirl kelas atas ternyata amat beragam. Callgirl yang buka praktek terselubung misalnya, cukup menerima order telepon via GM kemudian dilanjutkan dengan dinner dan setelah itu, transaksi terakhir. Ada juga yang langsung mendatangi tamunya di tempat kencan. Ada juga yang sudah punya pelanggan tetap yang setiap saat bisa mengajak kencan. Tapi untuk yang satu ini, sedikit berbeda.</p>
<p>Mereka bukan callgirl. Mereka lebih suka disebut wanita-wanita highclass. Sebutan itu bisa berarti mereka adalah wanita-wanita yang suka hidup glamour dengan bermodal kecantikan. Caranya, dengan memacari pria-pria berduit. Di sebuah mal elit, PN di Jakarta Selatan, dua gadis cantik yang di mata saya sudah tak asing, Maria (22) dan Linda (24), ber-jalan digandeng dua pria berpakaian rapi. Kirakira baru pukul 18.00 WIB, jam pulang kantor. Maria dan Linda saya tahu karena beberapa kali saya melihat wajah mereka di sampul media cetak Ibu Kota. Yang membuat saya terperangah, dua pria yang bersama mereka juga saya kenal baik. Saya malah beberapa kali sering bertemu di meja kafe dan ajojing bersama. Mereka adalah Remy (29) dan Jose (31). Dua pria itu saya tahu cukup beken di kalangan komunitas kafe. Maklum, mereka termasuk eksekutif muda sukses. Remy masuk board of director di PT AR, sebuah holding company yang berkantor di Jl. SD. Sedangkan, Jose sendiri punya usaha di bidang onderdil mobil yang berkantor di Jl. TR, Jakarta Pusat. Yang saya tahu, ia termasuk salah satu pemegang saham. Untuk beberapa saat lamanya saya memperhatikan dari jauh.</p>
<p>Kedua pasangan itu masuk ke counter baju bermerek, kemudian keluar membawa tentengan. Berikutnya, mereka masuk lagi counter jam tangan. Begitu keluar, di tangan Maria dan Linda sudah membawa bungkusan. Saya mengucap sapa ketika mereka saya temui tengah ber-dinner di kafe LN di mal yang sama. LN termasuk kafe elit karena yang datang kebanyakan kalangan eksekutif. Remy dan Jose sedikit terperangah dengan kehadiran saya. Tentu saja, mereka masih ingat saya dengan baik. Saya diperkenalkan dengan pasangan mereka. Maria dan Linda mereka akui sebagai &#8216;pacar&#8217;. Tebakan saya tidak meleset. Dari situlah, saya akhirnya terlibat pembicaraan akrab. Maria memang seorang model baru yang wajahnya menghiasi beberapa tabloid dan majalah hiburan. Sementara Linda tak jauh beda. Gadis yang sudah membintangi sedikitnya lima sampai enam sinetron itu, di antaranya PDK, SPM dan LDC, tak kalah ramah dibanding Linda. Maria dan Linda memang tipikal orang yang gampang akrab.</p>
<p>Dalam pertemuan yang berlangsung tak lebih dari satu jam itu, mereka enak saja mengurai cerita dan membuat saya tak kesulitan berbagi omongan. Sebagai pendatang baru di dunia &#8216;keartisan&#8217;, mereka cukup ramah dan agresif. Remy dan Jose yang sudah tahu saya sebelumnya, ikut larut dalam pem-bicaraan santai dan sesekali derai tawa terlepas pelan. Setelah pertemuan itu, lima hari kemudian Remy dan Jose bertemu saya di kafe JC, Jakarta Pusat, pada malam Sabtu. Di kafe yang berada di hotel berbintang lima itu, mereka bercerita tentang Maria dan Linda yang mereka akui sebagai pacar. Saya sebenarnya bukan tidak mengenal Maria dan Linda karena gosip yang beredar mereka termasuk gadis-gadis yang suka &#8216;mlorotin&#8217; pria berduit. Beberapa kali, saya memang melihat mereka makan ditemani pria-pria rapi di restoran mahal. Kalau tidak, mereka minum hot tea dan ber-cengkrama dengan pria kencanannya di kafe mal. Begitu seterusnya. Namun rupanya, bagi Remy dan Jose, gosip itu tak begitu berarti. Kata Remy, dia tak peduli tujuan dari Maria memacarinya</p>
<p>&#8220;Yang penting bisa happy. Ya nggak?&#8221; sergahnya, enteng. Lantaran Remy dan Jose itulah, saya jadi mengenal Maria dan Linda secara detail. Bagaimana mereka mencari pasangan kencan pria berduit sampai kehidupan pribadinya? Setidaknya, selama tiga bulan saya jadi dekat dengan mereka. M o d u s Operandi. Dalam masa tiga bulan itulah, akhirnya saya jadi tahu sepak terjang Maria dan Linda sebagai wanita hi-class. Sebelumnya, di kepala saya memang muncul pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab. Hubungan aktif dengan mereka, lambat laun memang menciptakan suasana yang seolah tanpa batas. Mereka tak lagi sembunyi-sembunyi atau berusaha tampil dengan topeng. Saya pun sering diundang makan malam di rumahnya. Tentu saja, undangan itu tak saya lewatkan. Jam 21.05 WIB. Ini malam kunjungan saya untuk yang ke sekian kalinya.</p>
<p>Di atas karpet tebal di ruang santai, saya mulai mendengarkan cerita kedua gadis yang sama-sama menebar bau harum dari tubuhnya. Pembicaraan malam itu berpusat pada masalah laki-laki. Mungkin karena merasa akrab, mereka tanpa malu-malu bercerita apa adanya. Laki-laki berduit seperti menjadi kata wajib bagi Maria dan Linda tiap kali mengurai cerita. Maria, yang mengaku anak orang kaya di Surabaya itu bercerita ihwal perjalanan hidup. Mengapa ia sampai ke Jakarta, tak lain lantaran laki-laki juga. Maria akan dijodohkan oleh orang tua, sementara ia telah punya pujaan hati sendiri. Akhirnya, ia nekad kabur bersama lelakinya, Doni (27). Enam bulan mengarungi hidup di Ibukota, selama itu Maria dan Doni tinggal di sebuah kontrakan layaknya suami-istri. Mariapun hamil. Terjadi cekcok, Maria kabur dan menggugurkan kandungannya.</p>
<p>Sampai akhirnya, ia bertemu Linda di salah satu diskotek di Jakarta. Ternyata Linda berprofesi sebagai model. Paling tidak, itulah pengakuan pertama ketika Maria berkenalan dengannya. Dari Linda itulah, ia mulai diperkenalkan dengan dunia model. Postur tubuh seksi dan wajah cantik membawa Maria memasuki dunia baru. Selama kurang lebih tiga bulan, Maria ditampung Linda di apartemen CM, Jakarta Timur. Keseksian dan kecantikan Maria ternyata membawa berkah. Tak kurang dari enam bulan, wajahnya sudah terpampang di beberapa media cetak. Hampir semua pose seksi dan gemulai. Dari situlah, Maria mulai merambah dunia peran meski belum mendapatkan peran utama. Linda ternyata tidak sekedar model biasa. Ia punya pekerjaan sampingan. Dan justeru pekerjaan sampingan itulah yang membuat Linda mengeruk duit dalam jumlah besar. Sebagai model dan artis sinetron kelas menengah, wajahnya cukup dikenal. Ditambah dengan pergaulannya dari kafe ke kafe, diskotek ke diskotek membuat Linda familiar. Dan itulah yang dijadikan modal Linda dalam menekuni pekerjaan sampingan, yang tak lain sebagai wanita hi-class. Mariapun akhirnya mengikuti jejak Linda. Dunia sinetron dan model ternyata hanya dijadikan sebagai media belaka, lain tidak. Setelah setahun, Mariamelebarkan sayap dengan menjadi wanita hi-class.</p>
<p>Proses menekuni pekerjaan barunya itu tidaklah rumit. Wajah cantik, cukup populer dan &#8216;gaul&#8217;, membuat Maria berjalan mulus menapak jalan. Ditambah luka pahit akibat korban laki-laki yang tak ber-tanggung jawab, makin mengukukuhkan tekad Non. Yang menarik, profesi wanita hi-class yang dilakoni Maria dan Linda boleh dibilang istimewa. Mereka tidak sekadar callgirl biasa, tapi lebih dari itu, mereka tak mau disebut callgirl. Dalam mencari pasangan cinta, mereka tidak menerima order via telepon atau memakai GM. Tapi, mereka sendiri lah yang mencari dan memutuskan &#8216;kencan&#8217; dengan siapa. Biasanya, modus operandi mereka dilakukan dengan mendatangi beberapa kafe-pub-klub yang sering menjadi ajang kumpul pria-pria berduit. Di situlah, mereka menjerat pria berduit. Beberapa kali saya menyempatkan diri jalan bareng dengan mereka ke kafe. Dan saya tak menyangka, begitu datang mereka sudah ditunggu pasangan masing-masing. Tapi rupanya, pria milik Maria dan Linda bukan sekedar pria yang berhubungan ala cash &amp; carry.</p>
<p>Artinya, mereka janjian, kemudian terjadi transaksi dan malam itu juga &#8216;deal&#8217; tuntas. Tidak! Pria-pria yang menjadi kencan Maria maupun Linda, mereka sebut sebagai pacar. Pantas saja, baik Maria maupun Linda, bisa janjian dengan pria yang sama selama satu bulan penuh. &#8220;Mas Edo itu orangnya pengertian. Gue habis dibeliin jam Bvlgari dan diajak ke Singapura minggu lalu,&#8221; ungkap Maria di sela-sela musik yang membungkus ruangan. Rupanya, yang disebut Maria dengan Mas Edo itu adalah teman kencan tetap. Hampir sebulan, Maria menjalin cinta dengan pria muda yang bekerja di bidang otomotif. Edo ternyata bukan asli Indonesia, tapi keturunan Pakistan-Singapura. Dan selama sebulan, Maria menjadi pasangan tetap Edo. Entah menghadiri pesta, dinner atau menjamu relasi. Tidak hanya itu, Maria dan Edo sudah seperti sepasang partner. &#8220;Minggu depan gue mau diajak ke Hawaii,&#8221; ceplos Maria. Begitulah gaya kencan Maria sebagai wanita hi-class.</p>
<p>Seperti pada malam Sabtu itu, saya diajak menjumpai dua kencan baru Maria dan Linda. Mereka janjian ketemu di kafe CI, Jl. AA, Jakarta Selatan. Maria sudah tak lagi &#8216;pacaran&#8217; dengan Edo. Padahal, dalam beberapa kali percakapan, gadis yang memang doyan ngobrol dan selalu berpenampilan seksi itu sudah tak lagi menjalin hubungan dengan Edo. Satu bulan sudah cukup. Dan yang penting, tabungan dan koleksi barang-barang bermerek dan brand-minded sudah tertampung. Dua pria yang ditemui Maria dan Linda malam itu, rata-rata masih muda. Umur-nya berkisar antara 28-32 tahun. Pe-nampilannya rapi dan tampak berkelas. Begitu duduk, saya diperkenalkan sebagai teman dekat pada dua pria itu, sebut saja Rick dan Bram. Saya sempat berpikir, Maria dan Linda akan menemui Remy dan Jose. Tapi rupanya, mereka sudah tak lagi berhubungan. &#8220;Cukup sebulan saja. Itu lebih dari cukup,&#8221; kilah Linda.</p>
<p>Di meja segera terhidang beberapa botol minuman mahal. Maria sendiri maniak white-wine, sementara Linda tak bisa lepas dari margarita dan BV2. Sementara Rick dan Bram menenggak minuman khas laki-laki, dari Jackdie sampai Cinamon dan beberapa minuman andalan buatan kafe CI. Mereka menghabiskan malam hingga kafe bubar pada pukul 03.00 WIB dini hari. Tak kurang dari Rp. 5 juta habis di meja kafe untuk satu malam. Uang sejumlah itu, enteng saja mereka keluarkan hanya untuk mentraktir di kafe. Setelah itu, Maria dan Linda diantar pulang. &#8220;Ini kencan pertama. Baru seminggu lalu kenalan. Baru tahap uji coba,&#8221; kilah Linda begitu sampai di rumah. Rupanya, yang dimaksud tahap uji coba itu tak lain bagian dari penjajakan. Pantas tidak pria seperti Rick dan Bram dikencani, dilihat dari penampilan dan tentu saja materi. &#8220;Kalau salah tangkap, buang-buang waktu,&#8221; canda Maria diikuti derai tawa lepas. Apa yang Maria dan Linda lakukan, mengingatkan saya dengan beberapa escortgirl di karaoke atau pub yang lebih suka menjadi pacar atau simpanan pria-pria berduit dari pada menerima order kencan semalam.</p>
<p>Beberapa wanita pen-damping di karaoke yang ada di Jl. M, Jakarta Selatan misalnya banyak yang menjadi &#8216;pasangan&#8217; resmi beberapa pria ekspat dari Jepang, Korea atau Singapura. Dari sisi materi, jelas lebih menguntungkan. Shopping Kencan. Tabir kencan hi-class Maria dan Linda makin terkuak ketika seminggu berikutnya, saya diajak jalan lagi. Hari masih sore, sekitar pukul 17.30 WIB ketika Rick dan Bram memarkir mobil New Ice-nya di depan pintu rumah Maria dan Linda. Rick dan Bram tampaknya bukan sembarang pria. Sama seperti Remy dan Jose yang kata orang &#8216;duitnya tak berseri&#8217;, mereka pun termasuk wirausahawan muda sukses. Rick mempunyai usaha dagang di bidang perkayuan, sementara Bram sendiri sukses menggeluti usaha kontraktor. Yang jelasnya, mereka laki-laki yang punya cita rasa. Entah dalam penampilan maupun lifestyle sehari-hari, terutama dalam hal memilih pasangan kencan.</p>
<p>Saya sedikit sungkan berada dalam satu mobil dengan mereka. Makanya, saya sengaja jalan duluan menuju pusat mal PN di wilayah Jakarta Selatan, yang memang dikenal segmented untuk kalangan menengah atas. Saya menunggu di kafe NN untuk sekedar menyantap tiramisu dan hangatnya cappuccino. Maria dan Linda bersama pria kencannya tiba selang beberapa menit kemudian. Melalui ponsel Maria mengatakan mau shopping terlebih dahulu. Dengan ditemani dentingan musikmusik latino, saya menghabiskan waktu menunggu Maria dan Linda shopping mal mencari-cari barang bermerek. Aha, cukup lama saya menanti dengan setia. Sampai pada gelas ketiga, Maria dan Linda akhirnya muncul juga menapaki tangga lift digandeng Rick dan Bram . Maria dan Linda menenteng beberapa bungkusan. Alamak, saya hanya gelenggeleng kepala. Sedikitnya ada tiga bungkusan yang ditenteng. Masing-masing berisi sepatu merek Versace dan baju koleksi Prada. Mereka bergabung dengan meja saya dan memesan makanan untuk dinner.</p>
<p>Malamnya, saya diajak bergabung untuk menghabiskam malam di kafe OL, Jakarta Pusat. Menikmati sajian live-music sambil makan minum sepuasnya. Ini mungkin agenda yang entah sudah berapa dilakukan Maria dan Linda bersama priaprianya. Bayangan layaknya sepasang kekasih yang tengah memadu cinta, tercipta sudah. Mariadan Linda, masing-masing duduk mesra di pangkuan Rick dan Bram. Sesekali mereka berciuman. Lama sekali. Lalu terbahak dan menenggak minuman untuk ke sekian kali. Derai canda-tawa, pelukan mesra sepasang merpati yang mabuk buaian kata-kata manis yang menghanyutkan, semua tumpah ruah menjadi satu. Musik yang berdetak, denting gelas yang beradu dan temaram cahaya lampu kafe seperti menjadi saksi bisu. Dari menit ke menit, semua aktifitas itu mewarnai malam.</p>
<p>&#8220;Kita mau check-in. Lu mau ikutan nggak? Gue yang tanggung deh?&#8221; Suara parau Maria sekonyong-konyong mengagetkan saya. Malam memang telah beranjak pagi. Pukul 03.00 WIB. Saatnya tamu-tamu kafe harus beranjak dari buaian tawa, wanita atau minuman. Semua memabukkan, tanpa terkecuali. Hanya beberapa tamu saja yang tersisa. Sebagian masih asyik mendengarkan lagu penghabisan, sebagian lagi berbenah diri, bersiapsiap untuk angkat kaki. Maria dan Linda bersama pasangan- nya berjalan bergandengan. Tentu saja saya tahu diri. Tak mungkin saya mengikuti kencan mereka. Ya, urusan check-in, so pasti sifatnya private. Kumbang jantan bertemu bunga mekar di dalam kamar, apalagi yang akan terjadi, tentu bisa dibayangkan. Pukul 04.35 WIB saya sedang menikmati sajian makanan lesehan khas Yogyakarta di kawasan Blok M ketika Maria lewat ponsel menghubungi saya. Sekadar bilang terima kasih telah ditemani, selanjutnya saya terlelap dibuai mimpi, seorang diri. Keesokan harinya, Maria mengajak saya minum hot-tea di kafe BS, Kebayoran Baru. Mengendarai mobil BWM seri 5 warna silver, wajahnya tampak sumringah. Senyum simpul selalu mengembang dari bibirnya yang disepuh lipstik marun.</p>
<p>Linda tidak ikut. Teman karib Maria itu sedang luluran di sebuah salon. &#8220;Hari Senin, gue diajak Rick ke Belanda. Ada urusan bisnis sekalian plesir,&#8221; ungkapnya. Pergi ke luar negeri, berarti uang. Itu sudah pasti akan dikeruk Maria. Tidak hanya itu, aneka barang-barang bermerek dan mahal, sudah pasti akan menambah koleksi terbaru Maria. Begitu cepat kencan itu berbuah uang melimpah. Saya hanya bisa geleng-geleng kepala. Di tiap menit kencan, seorang Maria bisa membuat laki-laki seperti Rick bertekuk lutut. Gaya mendekati laki-laki dengan memperlakukannya sebagai &#8216;pacar&#8217; dalam waktu yang lumayan lama, bisa dua-tiga minggu bahkan sebulan, memberi &#8216;peluang&#8217; besar bagi Maria atau Linda untuk mengeruk uang. Tidak ada patokan tarif pasti, karena mereka memang bukan &#8216;gadis order&#8217; biasa. Sore itu saya bertemu Maria.</p>
<p>Dan dua hari kemudian, Maria menghubungi saya. Tawanya terdengar empuk tiap kali mengurai cerita di telepon. Ia bercerita tentang hari-harinya di Belanda bersama Rick. Tidur di kamar hotel berbintang lima, menikmati hangatnya bath-up dan segala kenikmatan duniawi yang lain.</p>
<p>Bahagiakah Maria dan Linda dengan hidup mereka yang serba gemerlap dan selalu tak lepas dari gonti-ganti pria berduit? Minggu ini, Maria mendekap pria lain, sebut saja Denis, tiga minggu berikut-nya dia sudah berada dalam pangkuan dengan Sebastian. Dan rninggu-rninggu lainnya, dia mendekap Jack, Wil dan seterusnya. Semuanya pria-pria berduit. Bagaimana dengan pria yang berhasil mereka &#8216;ploroti&#8217; hartanya? Bagi Remy dan Jose, uang sepertinya bukan masalah. Remy misalnya, tak peduli sudah habis lebih dari Rp. 100 juta untuk seorang Maria. Begitu juga dengan Jose. Uang sebanyak itu habis untuk &#8216;membahagiakan&#8217; wanita kencanannya. Dari belanja barang-barang mahal, berlibur ke luar negeri dan untuk memenuhi kebutuhan yang lain. &#8220;Maria malah minta dibeliin mobil baru. Kalau sekarang masih pacaran dengan saya, pasti di rumahnya sudah ada mobil Mercy baru,&#8221; ungkap Remy. Bujangan yang tinggal di apartemen elit di Jakarta Pusat itu, mengaku cukup menikmati hari-hari bersama Maria. Di tengah kesibukannya menjalankan tugasnya sebagai direktur di PT AR, holding company yang berkantor di Jl. TM, dia merasa terhibur dengan kehadiran Maria. Tidak merasa ditipu begitu ditinggalkan? &#8220;Bodo amat. Yang penting sudah dapat semua. Hilang satu, ya nyari lagi,&#8221; kilahnya, lepas.</p>
<p><strong>Rumah Elit.</strong></p>
<p>Sebagai wanita hi-class, Maria dan Linda tampaknya memang bergaya hidup mewah. Itu bisa dilihat rumah beserta isinya yang mereka tempati. Rumah bernomor 18 itu terletak di Jalan TTD di kawasan Tebet Jakarta Selatan dan terkenal sebagai kawasan kost-kostan, rumah susun, apartemen sampai rumah kontrakan mentereng. Rumah itu berlantai satu, kiranya cukup mewah dengan pagar tinggi dan pintu gerbang tinggi. Sebutan rumah mewah tampaknya cukup pantas. Warna cat rumah serba biru muda. Memasuki halaman depan, terdapat taman mini dengan tanaman yang menghijau dan kolam berisi ikan hias. Sebuah mobil Volvo 960 hitam dan BMW seri 5 warna silver diparkir di garasi. &#8220;Ala, cuek saja. Anggap rumah sendiri,&#8221; sergah Maria sambil mengajak saya masuk.</p>
<p>Malam baru saja menunjuk pukul 19.00 WIB ketika saya duduk di ruang tamu. Sofa berwarna pink, dengan sorot lampu kristal persis di tengah ruangan. Hiasan dinding dan lukisan wanita dengan pigura berwarna serba keemasan tertata rapi di tubuh tembok. Sebuah aquarium besar dengan ikan Arwana terpampang di sudut ruangan sebelah kanan. Setelah ruang tamu, ada ruangan santai dengan alas karpet tebal dan berbulu. Ruangan itu dibiarkan terbuka dan dilengkapi peralatan elektronik. TV 29 inci, CD Player dan Iain-lain. &#8220;Nggak usah malu-malu. Santai saja, di sini aman kok,&#8221; suara Linda yang muncul dari sebuah pintu kamar mengagetkan saya. Rupanya, kamar Linda berada dekat dengan ruangan santai.</p>
<p>Dari lantai tangga yang berporselin putih dengan motif bintik-bintik hitam terdengar langkah-langkah Maria. &#8220;Kamar aku ada di atas. Mau lihat-lihat nggak?&#8221; tawarnya. Saya mengiyakan. Kamar Maria tampak mewah. Spring-bed dalam ukuran besar dengan bed-cover warna biru matang bergambar bunga. Kamar itu cukup luas, dengan perabotan lengkap. Lemari besar, meja rias, peralatan elektronik sampai alat fitness. Pintu yang menghadap balkon terbuat dari kaca. Begitu terkuak, tampak sebuah garden terrace mini untuk santai. Prototype kamar Maria mengingatkan saya pada kamar-kamar suite yang ada di hotel. Tapi yang menarik untuk seorang lakilaki adalah beberapa foto Maria yang terpampang di dinding bercat serba krem itu. Semua seksi. Malah, dua diantaranya nyaris tanpa busana sehelai benang pun. Saya terkejut untuk sesaat. Foto-foto itu dipajang dalam bungkusan frame besar. Saya terus terang terpesona dengan rumah Maria. Itulah kesan pertama kali ketika saya diundang makan malam.</p>
<p>&#8220;Makanan sudah siap.&#8221; Linda muncul tiba-tiba. Gadis berambut panjang dan punya sex-appeal menantang di bagian bibir itu mengenakan busana santai, sack-dress hitam selutut. Wajahnya dipoles make-up tipis. Satu-satunya yang tampak menonjol adalah warna lipstick merah di bibir. Maria pamit untuk membersihkan muka dan berganti baju. Saya ditemani Linda menunggu di ruang makan yang letaknya persis di belakang ruang santai. Lagu-lagu hit yang biasa diputar di beberapa kafe top Jakarta segera mengalun. Dari classic disco, Top 40 sampai RnB. Maria menuruni anak tangga dengan mengenakan sandal santai. Gadis berdada ekstra besar dengan rambut sedikit ikal itu mengenakan terusan hitam, tali satu. Hidangan serba laut dengan sebotol wine siap santap di meja.</p>
<p>Malam terantuk di pukul 20.25 WIB ketika saya menyelesaikan dessert berupa pancake, paduan ice-cream, pisang dan keju. Untuk model sekelas Maria dan Linda, rumah dengan peralatan lengkap itu cukup mengherankan saya. Bagaimana tidak? Rumah mewah, perabotan wah dan mobilmobil bermerek. Dari mana mereka mendapatkan uang untuk membeli itu semua? Pertanyaan-pertanyaan itu membuat saya penasaran. Kunjungan saya akhirnya berlanjut cukup rutin. Bahkan, saya sering diajak jalan bareng Maria dan Linda. Sekedar jalan ke kafe, mal atau menghadiri acara-acara tertentu. Tak kurang dari dua bulan, saya terlibat akrab dengan Maria dan Linda.</p>
<p>&#8220;Hidup ini semu.&#8221; Begitu kata Maria ketika saya ngobrol di rumah mewahnya. Semua itu disebakan satu hal: dia merasa tak pernah tahu bagaimana kebahagiaan sejati. Pria yang pernah membuatnya jatuh cinta, telah menelantarkannya dan membuat hidupnya tersia-sia. Itu jualah yang membuatnya menjadi sosok yang akhirnya easy going dan enjoy dalam hidup. Dia tak lagi begitu peduli akan kemana dia membawa hidupnya. Ketika berkencan dengan pria pilihannya, dia tampak begitu tegar dan percaya diri. Tapi sebenarnya, dia juga wanita biasa yang butuh kasih sayang dan cinta. Hanya saja, dia tak tahu kapan mesti mengakhiri dunia &#8216;wanita hi-class&#8217; yang disandangnya. Karena saat ini, ia belum siap meninggalkan gemerlap hidup metropolis yang semua serba berbau materialistik. Uang dan laki-laki! Itulah hari-hari yang dilakoni seorang Maria sampai saat ini. Entah nanti! &#8220;Sekarang, nikmati dulu aja yang ada, saya sudah capek mikirin hidup. Happy sajalah,&#8221; tukasnya sambil menghirup nafas dalam-dalam.</p>
<p>
<ul>
<li><a target="_blank" href="http://www.doktertomi.com" title="Free Inspirations, News, Guides, Tips and Tricks" target="_blank">Doktertomi.com</a> : Free Inspirations, News, Guides, Tips and Tricks</li>
<li><a target="_blank" href="http://www.botolempangan.info" title="Everything You Need To Know About Makassar" target="_blank">Makassar Today</a> : Everything You Need To Know About Makassar</li>
<li><a target="_blank" href="http://www.masterbiznet.com" title="Masternya Bisnis Internet" target="_blank">Masterbiznet.com</a> : Masternya Bisnis Internet</li>
<li><a target="_blank" href="http://www.workinthewebsite.com" title="News, Guides, Tips and Tricks on Website Monitization and Advertising" target="_blank">Work in The Website</a> : News, Guides, Tips and Tricks on Website Monitization and Advertising</li>
</ul>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center shr-bookmarks-bg-shr">
<ul class="socials">
		<li class="shr-blogger">
			<a href="http://www.blogger.com/blog_this.pyra?t&amp;u=http://www.doktertomi.com/2008/03/22/shopping-date-cewek-cewek-highclass/&amp;n=Shopping+Date+Cewek-cewek+Highclass&amp;pli=1" rel="nofollow" class="external" title="Blog this on Blogger">Blog this on Blogger</a>
		</li>
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://www.doktertomi.com/2008/03/22/shopping-date-cewek-cewek-highclass/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://www.doktertomi.com/2008/03/22/shopping-date-cewek-cewek-highclass/&amp;t=Shopping+Date+Cewek-cewek+Highclass" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-myspace">
			<a href="http://www.myspace.com/Modules/PostTo/Pages/?u=http://www.doktertomi.com/2008/03/22/shopping-date-cewek-cewek-highclass/&amp;t=Shopping+Date+Cewek-cewek+Highclass" rel="nofollow" class="external" title="Post this to MySpace">Post this to MySpace</a>
		</li>
		<li class="shr-technorati">
			<a href="http://technorati.com/faves?add=http://www.doktertomi.com/2008/03/22/shopping-date-cewek-cewek-highclass/" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Technorati">Share this on Technorati</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Shopping+Date+Cewek-cewek+Highclass+-+http://b2l.me/bey2m&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Shopping+Date+Cewek-cewek+Highclass&amp;body=Link: http://www.doktertomi.com/2008/03/22/shopping-date-cewek-cewek-highclass/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Mereka%20bukan%20callgirl.%20Wanita-wanita%20cantik%20yang%20juga%20berprofesi%20sebagai%20model%20ini%2C%20mengencani%20pria%20eksekutif%20untuk%20mengeruk%20harta%20sebanyak%20mungkin.%20Triknya%2C%20dari%20%27shopping%20date%27%20sampai%20%27honeymoon%27%20cinta%20ke%20mancanegara.%20Transaksi%20cinta%20gadis-gadis%20callgirl%20kelas%20atas%20ternyata%20amat%20beragam.%20Callgirl%20" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

<p><img src="http://wptextads.s3.amazonaws.com/images/press/wpta-20x20.jpg" alt="WP Text Ads" border="0" /> <a rel="nofollow" href="http://www.doktertomi.com/wp-content/plugins/wptextads1/wpta.php?wpta_form=1&wpta_cmd=buy&wpta_id=1492" onclick="window.open('http://www.doktertomi.com/wp-content/plugins/wptextads1/wpta.php?wpta_form=1&wpta_cmd=buy&wpta_id=1492', 'nehemiah_window', 'width=550,height=530,scrollbars,resizable'); return false;">Want visitors to your site? Buy an ad here.</a></p><img src="http://www.doktertomi.com/?ak_action=api_record_view&id=1492&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.doktertomi.com/2008/03/22/shopping-date-cewek-cewek-highclass/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sex-game Gadis-gadis Gaul</title>
		<link>http://www.doktertomi.com/2008/03/21/sex-game-gadis-gadis-gaul/</link>
		<comments>http://www.doktertomi.com/2008/03/21/sex-game-gadis-gadis-gaul/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Mar 2008 07:01:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>antz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jakarta Undercover : Sex n' The City]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://doktertomi.com/2008/03/21/sex-game-gadis-gadis-gaul/</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah permainan sensasional dan &#8216;naked&#8217; yang menjadi hobi pria-wanita dari kalangan anak-anak gaul. Truth &#38; Dare, istilah gaulnya. Beberapa orang melakukannya sekedar iseng, tapi yang sungguh-sunguh pun tak kalah banyak Jam terus beranjak memburu malam. Tiba-tiba, terdengar teriakan-teriakan dari sebuah kamar. &#8220;Buka terus. Ayo, buka. Nggak boleh malu-malu&#8230;!!!&#8221; Suara tawa manja itu terus menyeruak dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fwww.doktertomi.com%2F2008%2F03%2F21%2Fsex-game-gadis-gadis-gaul%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=tahoma&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<p>Sebuah permainan sensasional dan &#8216;naked&#8217; yang menjadi hobi pria-wanita dari kalangan anak-anak gaul. Truth &amp; Dare, istilah gaulnya. Beberapa orang melakukannya sekedar iseng, tapi yang sungguh-sunguh pun tak kalah banyak</p>
<p>Jam terus beranjak memburu malam. Tiba-tiba, terdengar teriakan-teriakan dari sebuah kamar. &#8220;Buka terus. Ayo, buka. Nggak boleh malu-malu&#8230;!!!&#8221; Suara tawa manja itu terus menyeruak dari sebuah kamar hotel berbintang empat di Jl. GT, Jakarta Selatan. Sesekali, terdengar jerit-jerit nakal. Terkadang, suasana berubah senyap. Hanya terdengar pembicaraan lamatlamat. Detik berikutnya, suara musik mengalun dan yang terlihat kemudian adalah pemandangan dua gadis dengan sedikit malu-malu menari dalam keadaan tanpa busana dengan disaksikan dua temannya yang juga sama-sama berjenis kelamin wanita.</p>
<p>Sementara di ruangan lain, di malam Sabtu pada pertengahan bulan Januari 2002 menjelang pukul 02.00 WIB dini hari, di Apartemen Bunga, sebut saja begitu &#8212; sebuah apartemen berlantai sepuluh di Jl. Raya CP, Jakarta Timur yang terjadi malah lebih berani. Dua laki-laki, tiga perempuan bermain kartu di dalam kamar tertutup. Suasana yang tergambar tak berbeda jauh dengan empat gadis yang bermain nakal dan berani. Hanya saja, kali ini, permainan itu harus kami akui berlangsung lebih berani. Dua laki-laki dan tiga gadis itu saling memegang kartu masing-masing satu buah. Setiap kali terdengar kata Truth, maka yang terdengar adalah sebuah cerita yang diungkap secara blak-blakan tanpa data yang disembunyikan. Lucunya, cerita itu selalu berkaitan dengan hal-hal pribadi yang sifatnya sangat rahasia. Namun begitu terdengar kata Dare, yang terjadi adalah sebaliknya.</p>
<p>Karena kebetulan yang terkena kata Dare adalah sang gadis, maka pada detik itu pula dua laki-laki yang hadir dalam kamar tertutup itu dengan perlahan memerintahkan sang gadis untuk melepas busana yang melekat di badannya. Sampai akhirnya, tubuh gadis itu tanpa tertutup selembar benang pun. Dan uniknya, dua laki-laki dan dua wanita yang menjadi &#8216;lawan&#8217; bermain itu, bergantian menantang keberanian sang gadis untuk beraksi lebih heboh. Awalnya memang sekedar iseng-iseng dan permainan, tapi semakin lama, permainan iseng itu berubah menjadi ajang pesta nafsu. Pesta sungguhan, bukan main-main!!!</p>
<p><strong>Truth &amp; Dare.</strong></p>
<p>Sebenarnya, kami tak sengaja harus berkunjung ke Apartemen Bunga, tempat hunian bergaya hotel di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Timur. Semuanya berawal dari Bertha, seorang model baru yang wajahnya menghiasi beberapa tabloid dan majalah hiburan, mengundang kami ke &#8216;apartemen&#8217;nya tersebut. &#8220;Nanti saya kenalkan beberapa orang teman. Dijamin cantik-cantik dan OK lho,&#8221; katanya setengah bergurau. Bertha ternyata tipikal orang yang gampang akrab. Kami mengenalnya dalam beberapa kali pertemuan di kafe MA, kawasan Jl. Sudirman, Jakarta Pusat. Sebagai pendatang baru di dunia &#8216;keartisan&#8217;, gadis berusia 22 tahun berasal dari Surabaya ini cukup ramah dan tergolong gadis aktif. Bertha mudah diajak berbincang, makan dan pergi jalan malam ke sejumlah kafe gaul. Tentu saja, selama tak bentrok dengan kegiatan yang lain. Tetapi undangan makan malam seorang wanita cantik semacam Bertha jelas tak kami lewatkan. Sayang benar kalau kami sampai menolaknya. Toh, selama ini pun kami sering makan malam bareng. Hanya saja kali ini surprise karena Bertha mengajak kami ke apartemennya. Apartemen Bunga itu terletak di jalan besar, persisnya berada tak jauh dari sebuah by-pass yang menghubungkan sebuah supermarket franchise asing dengan sebuah terminal besar antar kota di Jakarta.</p>
<p>Apartemen tersebut kiranya cukup mewah dengan prototype bangunan modern. Apartemen itu terbagi dalam beberapa blok. Bertha sendiri berada di Blok B. Di halaman depan, tampak beberapa mobil parkir. Pintu masuk dijaga dua sekuriti. Cukup ketat karena tamu yang datang mesti dulu mendapat ijin dari tuan rumah, baru diperbolehkan masuk. Atau kalau tidak, tuan rumah sudah memberitahu petugas keamanan yang berjaga-jaga di bawah. Malam itu, kami datang pukul 20.15 WIB. Sehari sebelumnya,kami memang menghabiskan malam di kafe ZB, di kawasan Blok M, Jakarta Selatan. Waktu itu, Bertha ditemani salah satu teman wanitanya yang tak kalah menarik.</p>
<p>Gadis itu oleh Bertha dikenalkan kepada kami sebagai Susi, 24 tahun. Di situlah, Bertha mengundang kami untuk makan malam keesokan malamnya. Pintu masuk ke apartemen itu menggunakan sistem elektronik. Meski jarum jam telah menunjuk pukul angka delapan lebih, tapi suasana di sekitar apartemen Bunga itu tampak ramai. Beberapa outlet makanan yang buka masih didatangi beberapa pembeli. Sementara di sudut lain, sebuah supermarket franchise asing yang letaknya hanya beberapa puluh meter dari apartemen Bunga, menunjukkan aktifitas tinggi.</p>
<p>Kami menaiki lift menuju lantai 9. Kami melewati deretan kamar-kamar layaknya di hotel. Di masing-masing pintu kamar, tertulis nomor lengkap dengan bloknya. Mata kami tak lepas mengamati keadaan sekeliling. Tampak sepi. Beberapa puluh pintu kamar tertutup rapat. Tampaknya, mereka yang tinggal di sini lebih senang dengan kehidupan privacy. Di pintu bernomor B/93 kami berhenti. Bertha menyambut kami. Mengenakan baju terusan warna pink, Bertha menyilahkan kami duduk. Di dalam kamar berbentuk studio itu ternyata sudah ada dua wanita dan seorang pria. Yang satu sudah kami kenal sebelumnya, Susi dan satunya lagi bernama Dona, 21 tahun. Sementara yang laki-laki mengaku bernama James, 28 tahun. Susi mengenakan T-shirt biru ketat dengan celana model tank-top. Sedangkan Dona &#8211;gadis berkulit kuning sawo matang dengan tahi lalat di kening, membalut raganya dengan sack-dress selutut warna ungu muda. Susi sendiri,yang biasanya memang menjadi teman seperjalanan Bertha, ternyata tinggal di apartemen yang sama, hanya saja dia berada di lantai tujuh. Sedangkan Dona, mengaku sering menginap di apartemen Bertha. James biasanya selalu ikut serta kalau kebetulan tidak punya acara. Pria yang katanya punya usaha di bidang jasa angkutan ini, termasuk salah satu laki-laki yang sering menemani Bertha. &#8220;Ini bukan dinner beneran lho. Hanya makan-makan biasa,&#8221; kilah Bertha sambil ikut bergabung di ruang tamu.</p>
<p>Di dinding, kami melihat beberapa foto Bertha dipajang dalam ukuran besar. Beberapa diantaranya mengenakan busana seksi dengan pose-pose menantang. Sebuah televisi 29 inci lengkap dengan peralatan audio lainnya seperti CD player dan VCD. Malam itu, Bertha memang menjamu kami dengan beberapa hidangan makanan. Lumayan untuk sebuah dinner di apartemen, pikir kami. Buah anggur plus pir, menjadi penutup jamuan malam. Jam sudah menunjuk angka 21.30 WIB ketika kami dan Bertha Cs menyelesaikan makan malam dan kembali bercengkrama di ruang tamu.</p>
<p>Untuk sesaat lamanya, Bertha memperlihatkan kamarnya yang serba bernuansa pink. Apartemen yang ditempat Bertha bertipe studio dengan dua kamar. Bertha sendiri menempati kamar yang menghadap langsung ke jalan besar. Di dalam kamar seluas 5X5 meter persegi itu terdapat spring-bed warna pink. Di dinding kamar yang juga berwarna pink itu terpajang sebuah foto wanita hitam putih dalam keadaan nndies. Tampak artistik tanpa menampakkan secara jelas wajah di balik wanita telanjang itu. &#8220;Itu foto aku tiga tahun lalu,&#8221; sergah Bertha mengagetkan kami. Hanya lima menit kami diajak Bertha melihat-lihat kamar untuk kemudian kami sudah berkumpul di ruang tamu. Kali ini, kami sengaja memilih duduk di karpet. Bertha, Susi, Dona dan James pun melakukan yang sama.</p>
<p>&#8220;Main kartu yuk. Dari pada bengong?&#8221; Tiba-tiba saja, Bertha melontarkan ide itu. Kami hanya menganggukkan kepala pertanda setuju. Siapa takut? pikir kami. Soal main kartu, kami bukannya bodohbodoh amat. Teman-teman kami dari kalangan &#8216;anak gaul&#8217;, banyak juga yang doyan bermain kartu, dari yang sekedar iseng sampai menggunakan uang jutaan rupiah. Susi, Dona dan James pun mengiyakan. Kata mereka, sudah jadi tradisi kalau lagi berkumpul mereka iseng-iseng bermain kartu. &#8220;Paling tidak, ada sesuatu yang dikerjakan,&#8221; kata Dona malu-malu. Di atas karpet kami membentuk formasi lingkaran. Chanel televisi dirubah Bertha menjadi tayangan musik mancanegara non stop.</p>
<p>Bertha mengenalkan jenis permainan truth &amp; dare. Kartu pertama bergambar seperti kartu King, hanya saja bentuknya tidak sama seperti kartu remi kebanyakan. Sedangkan kartu kedua bergambar mirip Queen hati. Hanya saja kedua kartu itu warnanya lebih gelap, tidak terlalu banyak warna-warna mencolok. Kartu bergambar King berarti Dare, sementara kartu bergambar Queen hati berarti Truth. Begitu aturan mainnya. Dua kartu &#8216;truth &amp; dare&#8217; itu dalam permainan-nya dikocok menjadi satu dengan kartu-kartu remi biasa. Mendengar itu, tentu saja kami sedikit terkejut. Karena ternyata, permainan yang satu ini berbeda dari biasanya.</p>
<p>Ketika seseorang mendapat kartu Dare, maka si pemegang kartu harus bersedia melakukan apapun. Dan ketika mendapatkan kartu &#8216;truth&#8217;, si pemegang kartu harus mau bercerita tentang segala hal &#8212; termasuk sesuatu yang sifatnya private sekali pun. Itulah aturannya. Dan malam itu, kami ditemani iringan lagu-lagu Jennifer Lopez, Madonna, Britney Spears dan sederet &#8216;diva dunia&#8217;, permainan &#8216;truth &amp; dare&#8217; itupun dimulai. Bertha menjadi leader yang pertama-tama membagi-bagikan kartu. Masing-masing pemain mendapat bagian satu kartu selama tiga kali putaran berturut-turut. Pada putaran ketiga itulah, masing-masing pemain harus memperlihatkan kartu yang didapatnya. Kalau kebetulan belum ada satu pemain pun yang terbukti mempunyai kartu &#8216;truth&#8217; atau &#8216;dare&#8217;, maka kartu akan dibagikan kembali sampai ada salah satu pemain yang &#8216;tersangkut&#8217;. Namun, ada juga yang melakukan permainan &#8216;truth &amp; dare&#8217; tanpa kartu. Itu dilakukan, kalau kebetulan memang tidak ada kartu. Biasanya, permainan itu dilakukan dengan beradu telapak tangan. Telapak tangan atas berarti &#8216;dare&#8217;, bawah berarti &#8216;truth&#8217;. Dalam aturannya, pemain saling menebak ketika mereka beradu sampai tebakannya benar. Begitu seterusnya.</p>
<p><strong>Sex-game.</strong></p>
<p>Pada awalnya, permainan iseng-iseng itu berlangsung biasa. Ketika Bertha dan Dona misalnya mendapatkan kartu &#8216;truth&#8217;, kami hanya menyuruhnya untuk bercerita soal umur, berat dan tinggi badan. Begitu juga ketika kami yang kebetulan ketiban apes mendapatkan kartu &#8216;dare&#8217;, kami hanya disuruh jongkok atau memegang hidung hingga permainan menemukan korban berikutnya. Mungkin karena masih kagok kali ya&#8211; maklum, dari tiga gadis yang kami kenal, baru Bertha yang boleh dibilang &#8216;akrab&#8217;, permainan awal itu terasa enteng dan biasa-biasa saja.Tapi semakin malam, diselingi hidangan makanan kecil, buah-buahan dan beberapa minuman seperti wine dan bir, permainan itu merambat panas.</p>
<p>Detik demi detik yang menegangkan itu pun terjadi juga. Manakala si cantik molig Dona kedapatan memegang kartu &#8216;dare&#8217;, maka James, Bertha dan Susi, langsung menyuruhnya berdiri. Kemudian, dengan menahan senyum, bibir Bertha yang tampak dipoles lipstick cokelat matang itu meminta Bertha untuk menari dan me-lepaskan ikatan rambut di kepala. Detik berikutnya, giliran Susi meminta Dona melepaskan kaos ketat yang menutupi tubuhnya. Uniknya, Dona pun dengan serta merta melakukannya, sehingga tinggal bra yang menutup bagian dadanya. Alamak, kami terus terang kaget juga melihat aksi itu. Walau beberapa kali, kami pernah diajak beberapa teman berduit untuk nonton striptis, tapi tetap saja rasa kaget itu datang. Hanya sampai di situ, Dona kembali ikut bermain.</p>
<p>Biasanya, dalam aturan mainnya, pemenang hanya boleh mengajukan satu permintaan, tidak boleh lebih. Maka ketika giliran Bertha yang ketiban apes memegang kartu &#8216;truth&#8217;, kami memintanya bercerita terus terang soal perjalanan karirnya sebagai pendatang baru di dunia keartisan. &#8220;Pahit dan susah!&#8221; Itulah jawaban pertama yang keluar dari bibir Bertha. Awal karirnya harus ia lalui lewat jalur pintas. Bermula dari sebuah peran figuran dalam sebuah film, Bertha mesti merelakan di&#8230;</p>
<p>Sedih memang. Menyusuri jalur model lewat sebuah ajang pemilihan putri sebuah produk kecantikan di Surabaya, Bertha mendapat Juara II. Sejak itu,beberapa tawaran mulai datang. Dari pemotretan untuk majalah sampai untuk brosur iklan. Sampai akhirnya, ia memutuskan hijrah ke Jakarta karena ada teman yang membukakan jalan. Keputusan pindah itu, juga lantaran keluarganya tak lagi menerimanya karena ia ketahuan mengandung seorang bayi hasil karya pacarnya. Meskipun akhirnya, ia memutuskan untuk menggugurkannya. Dan datanglah tawaran untuk main film. Namun yang terjadi, tidaklah jauh beda. Tawaran demi tawaran selalu ujung-ujungnya selalu terkait dengan service pribadi. Dan itulah yang mesti ia jalani di awal karir. Bertha mengaku, jatuh dari satu pria ke pria berikutnya. Hasilnya, beberapa sinetron dan film telah dibintangi meski hanya pemeran pembantu. Salah satunya film RTG, yang kebanyakan mengekspos adegan-adegan syur dan panas.</p>
<p>Stop! Cerita itu berhenti. Permainan pun berlanjut. Kini, lagi-lagi Dona yang harus mendapatkan kartu &#8216;dare&#8217;. Gadis yang mengaku dari Bandung yang hanya tinggal mengenakan bra dan celana jins itu pun untuk kesekian kalinya mesti melepaskan sisa pakaian yang melekat di tubuhnya. Pada gilirannya, Bertha pun mendapat jatah kartu &#8216;dare&#8217;. Dan dengan serta merta, baju sack-dress yang ia kenakan, ditanggalkan.</p>
<p>Hingga menjelang pukul 01.00 WIB dini hari, dua gadis itu tak lagi berbusana. Sementara Susi hanya tinggal mengenakan underwear, dan James pun tinggal menyisakan celana pendek dengan dada terbuka. Sungguh tidak disangka, kami pikir permainan itu bakal usai. Namun, kenyataannya jauh permainan iseng malah lebih gila dan jadi sungguhan. Entah sudah berapa kali, Dona dan Bertha memperagakan adegan layaknya dua pasang kekasih sesama jenis. Begitu pun Susi yang berulang kali men&#8217;service&#8217; James.</p>
<p>Detik-detik menegangkan itu, pada gilirannya memang berubah menjadi ajang permainan nakal yang sarat dengan ulah dan perilaku &#8216;gila-gilaan&#8217;. Bayangkan saja, selama hampir dua jam terakhir, permainan itu telah berubah menjadi ajang pesta nafsu yang menggebu. Permainan awal yang hanya penuh canda tawa itu, lambat laun menjadi sungguhan. Itulah yang terjadi. Dan ternyata, permainan sejenis &#8216;truth &amp; dare&#8217; ini sudah jadi satu hobi yang trend di beberapa orang dari kalangan nite society. Berulang kali &#8211;memang tidak terlalu sering sih, setiap kami habis menghabiskan malam di sejumlah kafe trend-setter, terdengar cerita seru ihwal permainan nakal sejenis &#8216;truth &amp; dare&#8217; dari beberapa muda-mudi yang melakukannya. Bahkan, tak jarang, kami pun diajak untuk bergabung. Cerita yang kami dengar dari sejumlah teman dari anak-anak gaul &#8211;bahkan beberapa diantaranya kami saksikan dengan mata-kepala sendiri, memang tak beda jauh dengan apa yang terjadi di apartemen Bertha. Dan ternyata, bagi Bertha permainan itu sudah berulangkali ia lakukan bersama teman-temannya. Truth &amp; Dare, permainan nakal yang ujung-ujungnya memang tidak jauh dari persoalan petualangan seksual. &#8220;Hanya beda di menu foreplay-nya saja,&#8221; ujar Bagus, seorang esmud kawan kami yang juga terkenal sebagai anak malam. Benarkah?</p>
<p>
<ul>
<li><a target="_blank" href="http://www.doktertomi.com" title="Free Inspirations, News, Guides, Tips and Tricks" target="_blank">Doktertomi.com</a> : Free Inspirations, News, Guides, Tips and Tricks</li>
<li><a target="_blank" href="http://www.botolempangan.info" title="Everything You Need To Know About Makassar" target="_blank">Makassar Today</a> : Everything You Need To Know About Makassar</li>
<li><a target="_blank" href="http://www.masterbiznet.com" title="Masternya Bisnis Internet" target="_blank">Masterbiznet.com</a> : Masternya Bisnis Internet</li>
<li><a target="_blank" href="http://www.workinthewebsite.com" title="News, Guides, Tips and Tricks on Website Monitization and Advertising" target="_blank">Work in The Website</a> : News, Guides, Tips and Tricks on Website Monitization and Advertising</li>
</ul>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center shr-bookmarks-bg-shr">
<ul class="socials">
		<li class="shr-blogger">
			<a href="http://www.blogger.com/blog_this.pyra?t&amp;u=http://www.doktertomi.com/2008/03/21/sex-game-gadis-gadis-gaul/&amp;n=Sex-game+Gadis-gadis+Gaul&amp;pli=1" rel="nofollow" class="external" title="Blog this on Blogger">Blog this on Blogger</a>
		</li>
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://www.doktertomi.com/2008/03/21/sex-game-gadis-gadis-gaul/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://www.doktertomi.com/2008/03/21/sex-game-gadis-gadis-gaul/&amp;t=Sex-game+Gadis-gadis+Gaul" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-myspace">
			<a href="http://www.myspace.com/Modules/PostTo/Pages/?u=http://www.doktertomi.com/2008/03/21/sex-game-gadis-gadis-gaul/&amp;t=Sex-game+Gadis-gadis+Gaul" rel="nofollow" class="external" title="Post this to MySpace">Post this to MySpace</a>
		</li>
		<li class="shr-technorati">
			<a href="http://technorati.com/faves?add=http://www.doktertomi.com/2008/03/21/sex-game-gadis-gadis-gaul/" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Technorati">Share this on Technorati</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Sex-game+Gadis-gadis+Gaul+-+http://b2l.me/bd2gb&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Sex-game+Gadis-gadis+Gaul&amp;body=Link: http://www.doktertomi.com/2008/03/21/sex-game-gadis-gadis-gaul/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Sebuah%20permainan%20sensasional%20dan%20%27naked%27%20yang%20menjadi%20hobi%20pria-wanita%20dari%20kalangan%20anak-anak%20gaul.%20Truth%20%26amp%3B%20Dare%2C%20istilah%20gaulnya.%20Beberapa%20orang%20melakukannya%20sekedar%20iseng%2C%20tapi%20yang%20sungguh-sunguh%20pun%20tak%20kalah%20banyakJam%20terus%20beranjak%20memburu%20malam.%20Tiba-tiba%2C%20terdengar%20teriakan-teriakan%20dar" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

<p><img src="http://wptextads.s3.amazonaws.com/images/press/wpta-20x20.jpg" alt="WP Text Ads" border="0" /> <a rel="nofollow" href="http://www.doktertomi.com/wp-content/plugins/wptextads1/wpta.php?wpta_form=1&wpta_cmd=buy&wpta_id=1489" onclick="window.open('http://www.doktertomi.com/wp-content/plugins/wptextads1/wpta.php?wpta_form=1&wpta_cmd=buy&wpta_id=1489', 'nehemiah_window', 'width=550,height=530,scrollbars,resizable'); return false;">Want visitors to your site? Buy an ad here.</a></p><img src="http://www.doktertomi.com/?ak_action=api_record_view&id=1489&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.doktertomi.com/2008/03/21/sex-game-gadis-gadis-gaul/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bisnis Kolam Susu GM Super</title>
		<link>http://www.doktertomi.com/2008/03/19/bisnis-kolam-susu-gm-super/</link>
		<comments>http://www.doktertomi.com/2008/03/19/bisnis-kolam-susu-gm-super/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Mar 2008 07:00:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>antz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jakarta Undercover : Sex n' The City]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://doktertomi.com/2008/03/19/bisnis-kolam-susu-gm-super/</guid>
		<description><![CDATA[Germo-germo wanita, ternyata mendominasi jaringan bisnis wanita penghibur, dari kelas menengah sampai atas. Modus operandinya rapi dan terorganisasi. Ada juga yang khusus menangani kalangan artis. Uang panas pun berlimpah di bisnis &#8216;kolamsusu&#8217;. Dalam bisnis seks, ada satu mata rantai yang tak bisa dipisahkan. Selain ada barang &#8211;dalam hal ini wanita atau pria pekerja seks profesional, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fwww.doktertomi.com%2F2008%2F03%2F19%2Fbisnis-kolam-susu-gm-super%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=tahoma&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<p>Germo-germo wanita, ternyata mendominasi jaringan bisnis wanita penghibur, dari kelas menengah sampai atas. Modus operandinya rapi dan terorganisasi. Ada juga yang khusus menangani kalangan artis. Uang panas pun berlimpah di bisnis &#8216;kolamsusu&#8217;.</p>
<p>Dalam bisnis seks, ada satu mata rantai yang tak bisa dipisahkan. Selain ada barang &#8211;dalam hal ini wanita atau pria pekerja seks profesional, juga dibutuhkan pembeli. Cukup? Belum. Ternyata, ada satu mata rantai yang menjadi jembatan keduanya, yaitu germo atau biasanya cukup disingakat GM. Ada juga yang menyebutnya mami, mucikari, broker dan sederet sebutan lain. Dalam skala fungsi operasi, ternyata para germo ini memegang peranan yang sangat dominan. Dari menentukan proses perekrutan, marketing sampai sale. Boleh dibilang, mereka adalah kartu truf yang mesti ikuti bermain di dalam tiap permainan. Dulu, nama Hartono pernah menghebohkan publik.</p>
<p>Germo kaliber internasional yang terkenal memiliki ratusan wanita penghibur kelas atas itu sempat menggegerkan Bali dengan mega proyek Planet Bali-nya, sebuah tempat hiburan kelas atas yang di dalamnya terdapat ratusan wanita cantik yang kapan pun bisa diorder dan diboking. Hartono, kini mungkin hanya tinggal nama. Karena kabar terakhir, pria Surabaya itu terkena masalah demi masalah. Terakhir, rumahnya di Jl. Darmo menjadi sengketa dan sekarang tengah jadi rebutan. Malah, Hartono akhirnya memutuskan membakar rumah itu lantaran putus asa. Dalam sebuah berita yang dilansir media cetak Ibu kota, Hartono mengaku sudah jatuh miskin. Tak heran kalau banyak orang menyebutkan, era Hartono sebagai big GM sudah tamat.</p>
<p>Cerita Hartono, barangkali hanya satu lembar yang terbuka dari sekian ratus lembar yang tertutup. Dalam ratusan lembaran yang masih tertutup itu, di dalamnya masih banyak terdapat catatan tentang kisah sejumlah GM yang sampai kini masih jaya dan terus menjalankan operasinya. Dan sejumlah GM itu banyak yang berstatus wanita. GM Wanita. Dalam skala kecil saja, di beberapa tempat hiburan di Jakarta yang menawarkan jasa wanita penghibur, hampir kebanyakan GM-nya adalah wanita. Di diskotek-karaoke LM, kawasan Hayam Wuruk misalnya, lima &#8216;mami&#8217; yang membawahi sedikitnya 100 wanita penghibur adalah GM wanita. Dan jangan salah, para GM ini mempunyai wilayah kekuasaan yang luas. Mereka pada garis besarnya bertindak sebagai manager. Dalam prakteknya, seperti di panti plus DK, kawasan Grogol, Jakarta Barat misalnya, semua wanita penghibur yang jumlahnya mencapai 300 wanita, di bawah kendali GM. Sekitar 300 wanita pekerja seks profesional itu diorganisir oleh beberapa orang GM yang membawahi beberapa puluh orang. Biasanya, satu GM mengorganisir sekitar 50-100 orang. Tengok saja pembagian keuangan yang berlaku di panti plus, DK. Tarif yang berlaku di situ Rp. 80 ribu/jam untuk kelas biasa dan Rp. 90 ribu/jam untuk kelas VIP. Untuk tarif Rp. 80 ribu, setorannya terbagi menjadi Rp. 30 ribu untuk GM, Rp. 30 ribu lagi masuk ke rekening GM sebagai uang tabungan dan jaminan, Rp. 40 ribu masuk ke manajemen panti, Rp. 2.500 untuk uang &#8220;keamanan&#8221;dan Rp. 7.500 diterima cash oleh si wanita penghibur.</p>
<p>Itu hanya satu kasus dalam skala kecil. Dari situ saja, tampak dominasi GM yang paling tidak mendapatkan masuknya uang dalam jumlah yang paling besar. Meskipun Rp. 30 ribu dihitung sebagai simpanan dan jaminan untuk si wanita penghibur, tapi arus masuk keluar itu tetap saja di bawah GM. Bayangkan saja, sekali transaksi, satu wanita penghibur hanya mendapat Rp. 7.500 di tangan. Sisa uang Rp. 30 ribu, menjadi simpanan yang berada dalam pengawasan GM. Hebatnya, uang sejumlah Rp. 30 ribu itu juga menjadi semacam garansi untuk kelangsungan hidup si wanita penghibur. Paling tidak, keberadaan uang tersebut membuat mereka tak bisa sembarangan kabur atau berbuat sekehendak yang mereka inginkan. Begitu superior GM di DK, sampaisampai wanita penghibur yang bekerja, hampir pasti berada di bawah kendalinya. Bisa dibayangkan, satu GM bisa membawahi sedikitnya 50 orang. Mereka ditampung dalam sebuah rumah besar milik GM. Status mereka tidak gratis. Uang sewa rumah pun langsung diambil dari penghasilan. GM mengawasi semua gerakgerak anak buahnya. Untuk keperluan belanja saja, mereka selalu ditemani sopir. Kemana-mana mesti sepengatahuan GM. Jam kerja mereka berlangsung dari pukul 14.00 WIB sampai 04.00 WIB dini hari. Selepas dari jam kerja, mereka harus berada di rumah penampungan, di bawah pengawasan GM.</p>
<p>Salah seorang wanita penghibur di diskotek-karaoke DK, sebut Wiwin, 24 tahun, gadis asli Malang, Jatim mengatakan, sudah hampir dua tahun ia bekerja di DK. Win mengaku menjadi anak buah &#8216;Mami&#8217; Tien, 38 tahun. Menurutnya, ada sedikitnya 25 wanita yang tinggal bersamanya. Mami Tien inilah yang mengontrol kendali hidup dan pekerjaannya. &#8220;Semua diurus Mami Hen. Mau beli bedak saja, mesti lewat dia dan dikawal. Apalagi barang mewah seperti perhiasan,&#8221; ungkap Wiwin terus terang. Di rumah penampungan 2XX, di kawasan Hayam Wuruk, Jakarta Barat, GM Joyce, 42 tahun, tak kalah &#8216;basah&#8217;nya. Wanita setengah baya yang sudah meng-geluti bisnis &#8216;kolam susu&#8217; selama hampir lima tahun itu, mempunyai anak buah tak kurang dari 25 wanita. Mereka ini ditempatkan dalam sebuah rumah yang menjadi tempat tinggal sehari-hari. Di rumah itulah, Joyce menjalankan roda bisnisnya. Saban hari, puluhan laki-laki mampir untuk mencari pasangan tidur. Dengan tarif Rp. 300 ribu untuk one short time, Joyce memburu laki-laki kalangan menengah sebagai ladang bisnis &#8216;kolam susu&#8217;nya. Rumah Joyce sebenarnya hanya berfungsi sebagai rumah penampungan untuk bertransaksi, lain tidak!</p>
<p>Fasilitas rumah itu dilengkapi dengan halaman parkir yang muat untuk lima sampai delapan mobil, ruangan ber-AC dan interior rumah yang cukup mewah. Ruangan tamu yang menjadi tempat bersantai untuk tamu cukup lebar dilengkapi sofa empuk memanjang dengan meja kaca. Begitu damu datang, langsung dipersilakan me-milih gadis yang dikehendaki. Biasanya, Joyce sendiri yang mengkoordinir proses transaksi itu sampai mencapai kata sepakat. Begitu deal, bayar kontan di tempat dan tamu bebas membawa wanita penghibur kemana mereka suka. Untuk transaksi one short time, tarifnya memang Rp. 350 ribu. Tapi dalam prakteknya, banyak tamu yang boking untuk long time, bisa all nite bahkan tak jarang berharihari. Tarif long time, satu malam, biasanya berkisar dari harga Rp. 750 ribu sampai Rp. 2 juta. Dalam sehari, Joyce bisa melakukan transaksi tak kurang dari 5-10 orang. Bahkan, kalau lagi musim gajian, transaksi tersebut bisa naik dua kali lipat. Para gadis yang menjadi anak didik Joyce mempunyai usia yang beragam. Dari yang muda sampai yang punya jam terbang tinggi.</p>
<p>&#8220;Yang paling tua umurnya 28 tahun. Itu pun dua atau tiga orang. Yang lain, masih muda-muda dong,&#8221; tukas Joyce sembari mempromosikan anak buahnya. Bisa dikira-kira, berapa banyak uang yang masuk ke kantong dari bisnis kolam susu yang digeluti Joyce? Yang pasti, bisnis-nya amatlah basah. Bayangkan saja kalau dalam sehari terjadi transaksi minimal 5 kali dengan total Rp. 350 ribu per orang. Jumlahnya Rp. 1.750.000,-. Itu baru ukuran minimal atau transaksi dengan estimasi rendah. Dalam transaksi besar, jumlah uang yang beredar, dari transaksi short time sampai long time, pastilah puluhan juta jumlah uang yang terkumpul. Gambaran layaknya wanita kaya yang hidup makmur segera terbayang. Wanita yang masih tampak cantik dan terawat itu, tinggal bersama dua anak lelakinya, &#8211;tanpa suami, dua orang staf yang membantu menjalankan roda bisnis sehari-hari dan tiga orang pembantu rumah tangga. Sebuah mobil New Ice dan BWM Seri 5 tampak mengisi garasi di sudut kiri rumahnya. Dari penampilannya saja tampak sekali barang-barang bermerek menempel di tubuh Joyce. Penampilan sehari-hari tampak selalu mewah. Dari baju yang dikenakan, jam tangan sampai sepatu yang membungkus dua kaki.</p>
<p>Para anak didik Joyce sebagian ada yang tinggal di rumah, sebagian lagi dikontrakkan di sebuah apartemen, tak jauh dari rumah penampungan. Meski kebanyakan berstatus freelance, setiap harinya ada sekitar 10-15 wanita yang stand-by di rumah penampungan sedari siang. Kalau tidak begitu, sebuah album ekslusif diletakkan di ruang tamu untuk membantu tamu memilih pasangan. Jadi, kalau wanita yang dikehendaki tamu tidak ada di tempat, Wati atau stafnya tinggal memberikan album foto. Jaringan bisnis Joyce tidak hanya berhenti sampai di &#8216;rumah penampungan&#8217;. Sebagai GM, dia mempunyai akses yang solid dan jaringan bisnis yang luas. Selain sibuk mengelola bisnis rumah penampungan, Joyce juga terkenal sebagai pemasok wanita-wanita penghibur di sejumlah karaoke dan tempat-tempat hiburan lain.</p>
<p>Di karaoke &amp; panti plus RM, kawasan Ancol misalnya, Joyce sedikitnya memasok 20 wanita penghibur yang siap melayani tamu sampai ke tempat tidur. Nama Joyce di kalangan laki-laki petualang cinta di Jakarta, sudah tak begitu asing. Maklum, selama bertahun-tahun menjalankan roda bisnisnya, wanita yang datang merantau dari Manado dan hanya tamatan SMA itu pun, menggaruk untung di bisnis prostitusi. Soal jam terbang, Joyce sudah kenyang makan asam garam kehidupan, terutama dengan dunia malam yang ia geluti. Sebelum mengelola rumah penampungan cinta dan menjadi GM, Joyce selama masih mudanya, juga &#8216;pemain&#8217;. Pada masa-masa kecantikannya, Joyce dikenal sebagai salah satu primadona di jajaran wanita highclass callgirl.</p>
<p>Selain Joyce, salah satu GM wanita yang cukup punya nama di Jakarta adalah mami Irene, 43 tahun. Wanita berdarah Indo- Mandarin ini mempunyai anak buah yang menyebar di tiga panti pijat hotel berbintang di Jakarta; hotel TL di Jakarta Pusat, AR dan GL di Jakarta Selatan. Di ketiga tempat tersebut, Irene memasok tak kurang dari 50 wanita pemijat. Mereka ini diputar sesuai dengan shift satu minggu sekali. Dalam hitungan kasar saja, tarif per satu jam untuk jasa massage di hotel TL adalah Rp. 125 ribu net. Sedangkan di hotel AR Rp. 115 ribu net dan di hotel GL, Rp 132 ribu net. Hampir semua wanita anak didik Irene, rata-rata siap dengan pelayanan plus. Artinya, mereka selain di-training tata cara pijat profesional, mereka juga menyediakan jasa pelayanan seks, langsung di tempat atau boking selepas jam kerja. Untuk sekali transaksi di luar, satu wanita harus menyetor Rp 200 ribu ke Irene. Makanya, tarif rata-rata yang dipatok para anak didiknya Irene untuk transaksi seks biasanya di atas Rp. 300 ribu per one short time.</p>
<p>Sementara dari tiap panti pijat hotel, Irene mendapat komisi 25% per transaksi. GM Model &amp; Artis. Dalam skala lebih besar, bisnis kolam susu para GM ini lebih gila lagi. Sejumlah GM yang beroperasi di kelas menengah-atas, bisa mengeruk uang dalam jumlah yang tak tidak tanggung-tanggung. Sebut saja Sisca, 31 tahun. Lajang kelahiran Bandung yang awalnya membuka bisnis agency ini, ternyata adalah seorang GM yang mempunyai koleksi gadis-gadis penghibur dari kalangan model belia yang usianya berkisar dari 18 tahun sampai 25 tahun. Koleksi Sisca kebanyakan model-model kelas menengah, yang harus diakui namanya belum begitu populer. Tapi, ukuran fisik gadis-gadis yang dimiliki Sisca di atas rata-rata. Menempati sebuah rumah di Jl. BR, kawasan Tebet Jakarta Selatan, Sisca membawahi sedikitnya 20 model dari Jakarta dan Bandung. Di rumah mewah yang sekaligus dijadikan sebagai kantor itulah, Sisca menjalankan roda bisnis &#8216;kolam susu&#8217;nya. Agency hanya menjadi bagian kecil dari aktifitas bisnis. Sisca mempunyai dua staf yang membantu menjalankan bisnis agency. Sementara untuk urusan bisnis &#8216;kolam susu&#8217;nya, Sisca langsung menanganinya sendiri. Hampir semua operasi Sisca dipusatkan di Jakarta. Modus transaksi yang digunakan Sisca melalui dua tahapan. Pertama, begitu tamu order lewat telepon, ia akan mengajak tamu untuk nge-date lebih dahulu. Pada saat bertemu itulah, Sisca akan membawa gadis pesanan yang dikehendaki tamu. Biasanya, Sisca akan membawa dua atau tiga gadis.</p>
<p>&#8220;Kalau pesannya cuma satu, paling-paling aku bawa dua atau tiga. Biar klien punya pilihan,&#8221; ujarnya gadis yang sudah lebih dari empat tahun menjalankan roda bisnisnya. Janji ketemu dengan klien itu lebih banyak dilakukan dengan setting dinner atau lunch. Sederhana sekali! Di situlah semua transaksi berlangsung, termasuk pembayaran kontan. Untuk tarif, Sisca mempunyai dua kelas model. Untuk katagori model A, tarif untuk satu malam Rp. 5 juta. Sementara untuk katagori B, tarifnya Rp. 3 juta. Soal klien, boleh dibilang jumlahnya seperti tak ada habisnya. Dari sekian tamu yang memboking anak didiknya, banyak yang berstatus &#8216;member&#8217; atau pelanggan tetap. Dalam sehari, minimal Sisca bisa melakukan dua sampai tiga transaksi. Untuk transaksi kelas A, Sisca mendapat-kan Rp. 1,5 juta. Sedangkan untuk model B, per satu transaksi Rp. 1 juta masuk ke kantongnya.</p>
<p>Selain Sisca, ada GM wanita yang main di kalangan selebriti. Namanya, Febby, berusia sekitar 29 tahun. Gadis asli Surabaya ini, dulunya adalah salah satu aktris yang sering membintangi film-film panas. Wajahnya juga sering muncul di media cetak dengan pose-pose menantang di tahun 1995. Di masa jayanya, dengan body seksi dan wajah cantik, Febby termasuk katagori artis yang dengan label &#8220;bispak&#8221;, kepanjangan dari &#8220;bisa dipakai&#8221; istilah populernya. Di kalangan pengusaha berduit, namanya sudah tak asing lagi. Dengan tarif Rp. 10 juta per satu transaksi, Febby bisa hidup enak. Sebuah mobil Corolla dan rumah besar di kawasan Cibubur sudah di-dapatnya. Namun di usianya yang terus merambat, wanita beranak satu yang sudah bercerai dari suaminya ini, akhirnya alih profesi. Dia yang memang akrab dengan beberapa selebriti, menjadi semacam &#8216;mak comblang&#8217; bagi beberapa artis yang memang mau melayani laki-laki berduit di atas ranjang. Sepukul dua pukul, Febby juga masih melayani tamu yang berkehendak bobok dengan dirinya. Dalam perjalanannya, Febby ternyata sukses sebagai broker. Terbukti, dia berhasil menjadi penghubung laki-laki kaya yang ingin &#8216;bercinta&#8217; dengan artis terkenal. Sebut saja nama KY, aktris sinetron yang sempat menggegerkan dunia film nasional dengan aktingnya yang berani dan vulgar. Atau AY, artis sinetron yang namanya kini menempati deretan selebriti papan atas dan sinetronnya hampir menghiasi layar kaca setiap hari. KY dan AY adalah dua artis yang sampai kini masih dengan tangan terbuka menerima transaksi melalui jasanya.</p>
<p>Dengan tarif Rp. 25 juta untuk satu malam, Febby mengaku banyak laki-laki berduit yang rebutan. Selain KY dan AY, Indah juga punya akses ke beberapa artis lain yang ratarata sudah punya nama dan populer. Dari setiap transaksi, Febby biasanya bebas menaikkan tarif semau dia. Dari tarif sebelumnya yang hanya Rp. 25 juta, Febby mengaku bisa menaikkannya menjadi Rp. 30 juta. Rp. 5 juta itulah yang berhak masuk kantongnya. Modus operandi yang dilakukan Febby cukup sederhana. Begitu ada klien menelpon dan menginginkan artis A, Indah tinggal mengontak &#8216;artis&#8217; yang bersangkutan. Langkah berikutnya, Febby akan mengajak janji dinner terlebih dulu. Dari situlah, semua transaksi diselesaikan. Modus dengan bertatap muka itu, diakui Febby biasanya memang dikehendaki si artis. Pasalnya, beberapa artis memang mau transaksi berlangsung serba terselubung dan aman. Pertemuan itu pun diakui Febby untuk menjaga hal-hal yang ditakutkan si artis. &#8220;Kalau artisnya kenal pria yang memboking, kan berabe urusannya,&#8221;&#8216; ungkap gadis yang kini punya akses sedikitnya ke 15 selebriti terkenal Ibu kota. Betapa uang dengan gampang masuk kantong para GM wanita ini.</p>
<p>Bisnis &#8216;kolam susu&#8217; yang mereka jalani, tiap hari selalu mengeruk uang dalam jumlah besar: jutaan rupiah, bahkan ratusan juta! Kemampuan mereka mengendalikan dan melakukan operasi, sangatlah jeli dan licin. Seorang seperti Sisca mampu mengkoordinir model-model kelas menengah dengan tarif tinggi. Joyce dengan rumah penampungannya, bisa mempunyai jaringan pelanggan yang tak ada habisnya dan selama ini aman-aman saja. Seorang Irene mampu memasok wanita-wanita penghibur ke hotel berbintang. Belum lagi dengan Febby yang mempunyai akses ke kalangan selebriti. Bisnis &#8216;kolam susu&#8217; memang gampang menarik uang. Siapa yang tak membutuhkan seks, tak ada. Semua membutuhkannya. Mungkin itu jawabannya. Cerita tentang Joyce, Sisca, Irene dan Febby, hanyalah secuil dari puluhan bahkan ratusan GM wanita yang setiap hari memeras keringat menangguk uang di bisnis prostitusi. Tetapi, paling tidak, cerita secuil itu, mungkin bisa memberi gambaran tentang liku-liku hidup GM wanita menggeluti roda bisnis &#8216;kolam susu&#8217;nya.</p>
<p>
<ul>
<li><a target="_blank" href="http://www.doktertomi.com" title="Free Inspirations, News, Guides, Tips and Tricks" target="_blank">Doktertomi.com</a> : Free Inspirations, News, Guides, Tips and Tricks</li>
<li><a target="_blank" href="http://www.botolempangan.info" title="Everything You Need To Know About Makassar" target="_blank">Makassar Today</a> : Everything You Need To Know About Makassar</li>
<li><a target="_blank" href="http://www.masterbiznet.com" title="Masternya Bisnis Internet" target="_blank">Masterbiznet.com</a> : Masternya Bisnis Internet</li>
<li><a target="_blank" href="http://www.workinthewebsite.com" title="News, Guides, Tips and Tricks on Website Monitization and Advertising" target="_blank">Work in The Website</a> : News, Guides, Tips and Tricks on Website Monitization and Advertising</li>
</ul>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center shr-bookmarks-bg-shr">
<ul class="socials">
		<li class="shr-blogger">
			<a href="http://www.blogger.com/blog_this.pyra?t&amp;u=http://www.doktertomi.com/2008/03/19/bisnis-kolam-susu-gm-super/&amp;n=Bisnis+Kolam+Susu+GM+Super&amp;pli=1" rel="nofollow" class="external" title="Blog this on Blogger">Blog this on Blogger</a>
		</li>
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://www.doktertomi.com/2008/03/19/bisnis-kolam-susu-gm-super/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://www.doktertomi.com/2008/03/19/bisnis-kolam-susu-gm-super/&amp;t=Bisnis+Kolam+Susu+GM+Super" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-myspace">
			<a href="http://www.myspace.com/Modules/PostTo/Pages/?u=http://www.doktertomi.com/2008/03/19/bisnis-kolam-susu-gm-super/&amp;t=Bisnis+Kolam+Susu+GM+Super" rel="nofollow" class="external" title="Post this to MySpace">Post this to MySpace</a>
		</li>
		<li class="shr-technorati">
			<a href="http://technorati.com/faves?add=http://www.doktertomi.com/2008/03/19/bisnis-kolam-susu-gm-super/" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Technorati">Share this on Technorati</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Bisnis+Kolam+Susu+GM+Super+-+http://b2l.me/bdwz4&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Bisnis+Kolam+Susu+GM+Super&amp;body=Link: http://www.doktertomi.com/2008/03/19/bisnis-kolam-susu-gm-super/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Germo-germo%20wanita%2C%20ternyata%20mendominasi%20jaringan%20bisnis%20wanita%20penghibur%2C%20dari%20kelas%20menengah%20sampai%20atas.%20Modus%20operandinya%20rapi%20dan%20terorganisasi.%20Ada%20juga%20yang%20khusus%20menangani%20kalangan%20artis.%20Uang%20panas%20pun%20berlimpah%20di%20bisnis%20%27kolamsusu%27.Dalam%20bisnis%20seks%2C%20ada%20satu%20mata%20rantai%20yang%20tak%20bisa%20di" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

<p><img src="http://wptextads.s3.amazonaws.com/images/press/wpta-20x20.jpg" alt="WP Text Ads" border="0" /> <a rel="nofollow" href="http://www.doktertomi.com/wp-content/plugins/wptextads1/wpta.php?wpta_form=1&wpta_cmd=buy&wpta_id=1484" onclick="window.open('http://www.doktertomi.com/wp-content/plugins/wptextads1/wpta.php?wpta_form=1&wpta_cmd=buy&wpta_id=1484', 'nehemiah_window', 'width=550,height=530,scrollbars,resizable'); return false;">Want visitors to your site? Buy an ad here.</a></p><img src="http://www.doktertomi.com/?ak_action=api_record_view&id=1484&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.doktertomi.com/2008/03/19/bisnis-kolam-susu-gm-super/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lulur Tripel X Salon-salon Eksekutif</title>
		<link>http://www.doktertomi.com/2008/03/18/lulur-tripel-x-salon-salon-eksekutif/</link>
		<comments>http://www.doktertomi.com/2008/03/18/lulur-tripel-x-salon-salon-eksekutif/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Mar 2008 07:01:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>antz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jakarta Undercover : Sex n' The City]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://doktertomi.com/2008/03/18/lulur-tripel-x-salon-salon-eksekutif/</guid>
		<description><![CDATA[Salon-salon berlabel X dengan paket istimewa. Dari lulur tripel X sampai &#8216;service luar dalam&#8217; XXX. Layanan kemanjaan untuk pria-pria eksekutif muda!!! Beberapa tahun terakhir, banyak salon hadir dengan membawa label sebagai salon gaul. Dan peminatnya, ternyata cukup membludak. Tidak saja dari kalangan anak gaul sendiri, tapi juga tak ketinggalan para esmud gaul. Tapi, salon gaul [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fwww.doktertomi.com%2F2008%2F03%2F18%2Flulur-tripel-x-salon-salon-eksekutif%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=tahoma&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<p>Salon-salon berlabel X dengan paket istimewa. Dari lulur tripel X sampai &#8216;service luar dalam&#8217; XXX. Layanan kemanjaan untuk pria-pria eksekutif muda!!!</p>
<p>Beberapa tahun terakhir, banyak salon hadir dengan membawa label sebagai salon gaul. Dan peminatnya, ternyata cukup membludak. Tidak saja dari kalangan anak gaul sendiri, tapi juga tak ketinggalan para esmud gaul. Tapi, salon gaul masih tergolong biasa karena jasa layanan yang diberikan memang sejalan dengan aturan sebenarnya. Yang menarik, selain ada salon berlabel &#8216;biasa&#8217;, ternyata banyak juga salon-salon yang berpraktek miring. Tidak saja memberikan layanan seperti creambath, gunting rambut, cuci blow dan lain-lain, tapi lebih dari itu, juga menyediakan paket istmewa yang notabene memang khusus pria pecinta &#8216;kemanjaan&#8217;. Kalau salon gaul ramai karena nuansa yang dikemas berhasil menarik gadis-gadis cantik dan pria-pria ganteng yang terbiasa gaul di sejumlah kafe, pub, bar dan mal, maka salon-salon yang berlabel X ini, mempunyai daftar menu special yang ujung-ujungnya memang tak jauh dari transaksi seksual.</p>
<p><strong>Lulur XXX.</strong></p>
<p>Salah satu salon yang menawarkan paket spesial untuk kalangan pria itu antara lain, salon CA. Sebenarnya, saya tak sengaja berkunjung ke salon CA, kalau bukan karena ajakan seorang teman. Sebut saja, Bayu, berusia 29 tahun dan sehari-hari menjadi Project Director di sebuah perusahaan periklanan. Sebagai lelaki, layanan kemanjaan seperti pijat, rasanya jadi rileksasi yang tepat penghilang burn-out, capek dan stres. Makanya ketika pada satu sore, Bayu mengajak saya &#8216;bersantai&#8217; sejenak di salon CA, saya pun mengiyakan. &#8220;Mau pijat ada, lulur juga ada. Mau pilih yang mana, terserah kamu. Dua-duanya menyenangkan, &#8221; tukas Bayu ketika kami sampai di tempat. Saya masih belum &#8216;ngeh&#8217; kenapa Bayu memilih salon CA. Yang saya tahu, begitu berdiri di meja resepsionis, saya baru tahu kalau salon CA ternyata tidak hanya sekedar salon, tapi juga dilengkapi fasilitas untuk massage, steam dan sauna. Salon CA terletak di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Tepatnya berada di Jl. TH, tak jauh dari pusat pertokoan yang kerap menjadi incaran pembeli karena barang-barang yang diperdagangkan tergolong murah. CA berada di lantai dasar dari bangunan berlantai tiga dengan cat warna putih. Salon CA menempati ruangan dasar yang luasnya sekitar 10 X 10 meter persegi terletak di bangunan sisi kanan. Sementara di sisi bangunan sebelah kiri, terdapat tempat untuk sauna dan steam. Di lantai 2 dan 3, terdapat kamar-kamar yang dileng-kapi fasilitas AC. Ada kamar tipe biasa, ada juga VIP. Pelayanan yang diberikan salon CT seperti halnya salon-salon kebanyakan. Hanya bedanya, di CA tidak ada petugas salon pria. Semua wanita. Dan cantik-cantik! Mereka semua mengenakan se-ragam. Para petugas salon yang jumlahnya lebih dari sepuluh orang itu biasanya mengenakan seragam warna ungu yang terdiri dari stelan baju dan rok mini. Selama ini, selain dikenal sebagai center of massage, CA juga populer dengan paket-paket istimewa yang bisa diberikan dari petugas salon.</p>
<p>Dari fasilitas yang diberikan dan ditilik dari harganya, CA memang tergolong ekslusif. Tidaklah heran kalau yang datang ke salon CA hampir semua pria-pria kelas menengah ke atas. Hampir semua membawa mobil. Ini terlihat dari area parkir yang dipenuhi beraneka ragam merek mobil. Ditilik dari harga satu perawatan saja, tampak sekali perbedaannya dengan salonsalon biasa. Untuk paket pelayanan creambath- cuci-blow saja mencapai Rp. 100 ribu. Belum lagi paket lulurnya. Inilah yang menjadikan salon CA eksklusif. Rupanya, lelaki seperti Bayu sudah tak asing dengan paket-paket istimewa yang ada di saloan CA. Menurut penuturannya, dari sekian perawatan yang ditawarkan, yang paling digemari para pria adalah perawatan lulur. Kenapa menjadi primadona, karena pelayanan yang diberikan bukan sekedar lulur biasa tapi lebih dari itu lulur &#8216;luar dalam&#8217;. &#8220;Beberapa teman menyebutnya lulur tripel XXX, he&#8230;he&#8230;,&#8221; ujar lelaki yang doyan clubbing ini.</p>
<p>Paket perawatan yang satu itu, biasanya terkait pelayanan sauna. Jadi, sebelum bermandi uap panas, tamu minta salah satu awak salon, yang pasti wanita cantik, untuk melulur. Tentu saja selama menjalani proses lulur, telah disediakan kamar khusus yang terjamin keamanan dan kebersihan-nya. Kamar khusus itu luasnya tak lebih dari 3 X 3 meter persegi dilengkapi dengan meja dan kursi mini. Bisa dibayangkan apa yang bisa terjadi ketika dua manusia lain jenis bertemu di satu ranjang, private! Namun biasanya, untuk alasan privasi, beberapa tamu lebih menyukai kamar VIP yang disediakan. Karena selain lebih luas, kamar VIP juga dilengkapi kamar mandi dalam. Berbeda dengan kamar biasa, dimana kamar mandinya berada di luar.</p>
<p>Di kalangan pria petualang, paket lulur spesial itu populer dengan sebutan lulur tripel-X. Maksudnya, ya apalagi kalau bukan perawatan lulur yang pada akhirnya berakhir di tempat tidur. Sebutan tripel-X sebenarnya hanya untuk menggambarkan puncak dari praktek perawatan lulur itu sendiri dimana tamu bisa mengumbar hawa nafsunya dengan bebas dan merdeka. &#8220;Logikanya, lulur itu pasti sekujur badan tanpa terkecuali. Tinggal pikir saja apa yang terjadi ketika dua makhluk lain jenis berada dalam satu ruangan tutup. Ya, apalagi kalau nggak ujung-ujungnya &#8216;begituan&#8217;,&#8221; ujar Bayu mencoba bersikap logis. Dan sebagai salah satu pelanggan salon CA, Bayu bukan sekedar omong kosong. Meski harga paket lulur tripel-X itu relatif lebih mahal dibanding harga massage, toh, tetap saja banyak tamu memburunya. Harga bandrol untuk paket lulur yang terpampang di daftar cuma Rp. 145 ribu. Itu hanya untuk lulur saja. Kalau mau menambah paket sauna, berarti mesti keluar uang Rp. 45 ribu lagi. Itu juga masih harga yang tertera di bandrol. Untuk mendapatkan paket lulur tripel-X-nya, tentu saja tidak melalui resepsionis karena sebenarnya paket itu &#8216;hanya&#8217; diberikan sejumlah petugas salon wanita ketika sudah berada di private room. Di situlah transaksi berlangsung. Dan harga standar yang berlaku, biasanya tak kurang Rp. 300-400 ribu untuk mendapatkan paket tripel-X.</p>
<p>Paling tidak, itu diakui Vivi, salah seorang wanita salon CA. Resiko bekerja di salon, memang sejak awal sudah dapat ia dibayangkan. Apalagi, kalau pekerjanya wanita cantik sepertinya, yang punya wajah cantik. Selama kurang lebih satu setengah tahun bekerja di CA, gadis asli Manado yang merantau ke Jakarta itu, bukan tidak tahu resikonya berhadapan dengan para pria genit. Toh, ia tetap saja menjalani profesi itu tanpa risih. &#8220;Semua pekerjaan punya resiko,&#8221; kilahnya. Dan resiko yang kerap dirasakan Vivi tidak lain ajakan beberapa tamu untuk transaksi cinta. Kali pertama bekerja di CA, ia mengaku sudah siap segalanya. Mula-mula ia menyesuaikan diri dengan hanya menerima pekerjaan cuci rambut, creambath sampai blow. Pada gilirannya, ia sampai juga pada tahap melulur pria yang sifatnya memang sangat pribadi. Di kamar khusus dengan tamu pria. Hanya berdua!</p>
<p>Di salon CA, Vivi tergolong cantik. Tidak heran ia menjadi primadona. Dengan kulit kuning langsat, tinggi 165 cm dengan rambut hitam lurus, banyak tamu pria yang ingin dilayaninya. Tamu-tamu yang datang hampir 90% member-guest. &#8220;Mereka sudah tak asing lagi dengan lulur &#8216;luar dalam&#8217; itu,&#8221; akunya. Sekali terjun, menyelam sekalian. Terlanjur basah, ya sudah mandi sekali. Kirakira begitulah tekad Vivi. Dilatarbelakangi kebutuhan ekonomi yang terus mendesak, ajakan &#8216;pom-pom&#8217; &#8211;bahasa sandi yang berlaku di kalangan petugas salon yang berarti &#8216;bercinta&#8217;&#8211; di kamar khusus tak bisa ditolaknya. &#8220;Lagi pula, &#8216;pom-pom&#8217; sudah bukan rahasia lagi,&#8221; sergahnya. Dari praktek &#8216;pompom&#8217; itulah, dalam sehari, ia bisa mengantongi uang sedikitnya Rp. 300-500 ribu untuk sekali transaksi &#8216;pom-pom&#8217;.</p>
<p><strong>Temu Kencan.</strong></p>
<p>Kalau salon CA terkenal dengan paket lulur tripel-X, maka salon PY populer di Jakarta sebagai ajang rendezvous untuk kencan sesaat. Salon YP, paling tidak, di kalangan anak-anak muda, namanya cukup diminati. Tempatnya hampir tersebar di semua wilayah Jakarta. Lokasinya pun selalu strategis, kalau tidak di mal, pastilah berada di pusat kota. Salon PY memang bukan salon &#8216;miring&#8217;. Salon itu dikenal sebagai salon bersih. Pelayanan yang diberikan seperti halnya salon-salon kebanyakan. Dari potong rambut, cuci-blow, medikur sampai lulur. Tetapi, dalam perkembangannya, lokasi strategis ternyata membawa dampak lain bagi salon PY. Salah satu salon PY yang ada di kawasan Jakarta Selatan, tepatnya berada di sebuah mal di kawasan Blok M misalnya, dalam perkembangannya men-jadi ajang tongkrongan anak-anak muda. Mal itu sendiri berada di kawasan yang kalau malam dikenal sebagai tempat mangkal puluhan &#8216;wanita &amp; pria bayaran&#8217; yang mencari mangsa. Nah, rupanya para wanita &amp; pria bayaran atau lebih kerennya pekerja seks profesional itu juga menjadi pengunjung tetap mal.</p>
<p>Mereka malah punya tempat-tempat mangkal sendiri. Salah satunya, ya di salon PY. Kalau siang hari, mereka tak segan-segan datang berkelompok ke salon PY untuk sekedar melakukan perawatan diri atau bercengkrama dengan kawan satu profesi. Banyaknya &#8216;wanita &amp; pria bayaran&#8217; yang saban hari mangkal di salon PY ini ternyata mengundang beberapa lelaki petualang cinta untuk datang. Tidak saja pria pribumi, tapi pria bule pun banyak yang bertandang. Magnet &#8216;wanita &amp; pria bayaran&#8217; ini tentu saja membuat salon PY tak pernah sepi. Coba tengok sekali di kala happy hours. Salon PE akan penuh sesak dengan pengunjung laki-laki yang tengah mencari teman tidur untuk one night stand. Mereka sudah tak asing lagi dengan kehadiran sejumlah wanita &amp; pria bayaran itu. Justru mereka inilah yang manjadikan salon PY, ramai setiap saat. Tentu saja, selama dalam proses pencarian, para pria petualang akan &#8216;nyalon&#8217; terlebih dahulu. Sekadar cuci atau potong rambut.</p>
<p>Di ruangan yang luasnya tak lebih dari 12 X 12 meter persegi itu, biasanya, wanita dan pria bayaran itu akan menjalankan aksinya dengan memberi sinyal-sinyal. Misalnya saja, salah seorang wanita dengan begitu berani dilulur badannya di muka umum. Atau dengan gaya lepasnya mereka mengobral omongan sensual seputar hubungan laki-laki dan perempuan. Gaya omongan yang genit ditopang dengan perilaku menggoda. Untuk sampai pada tahap transaksi, biasanya para pria yang matang dalam dunia perwanitaan akan langsung pada sasaran. Tapi, ada juga yang lewat &#8216;petugas&#8217; salon yang beberapa diantaranya merang-kap sebagai mak-comblang. Kebanyakan dari mereka adalah lelaki klimis yang gemulai. Tampak sekali keakraban antara wanita bayaran dengan petugas salon. Bahkan, canda lepas kerap mengisi ruangan yang full AC itu. Sebagai salon, dalam prakteknya PY memang tidak memberi pelayanan &#8216;ekstra&#8217; kepada para tamunya. Yang terjadi di PY, memang tak lain hanyalah &#8216;rendezvous&#8217;-nya antara pria petualang dengan wanita bayaran.</p>
<p>Rendevous itu tak lain berujung di transaksi cinta. Yang menarik, transaksi cinta itu tidak terjadi antara wanita dan pria saja. Tapi juga sebaliknya, pria dengan pria, wanita dengan wanita. Tidak aneh. Transaksi cinta yang terjadi antara sesama jenis di salon PY memang bukan hal yang luar biasa. Maklum, selain menjadi pusat mangkal beberapa wanita plus, PY juga sering kedatangan tamu-tamu familiar dari kelompok binan (baca=gay). Bisa dipahami, sebab mal dimana PY berada, sejak dulu terkenal sebagai markas para binan. Kalau siang hingga petang, mereka biasa &#8216;shopping&#8217; di area mal untuk sekadar havingfun atau mencari pasangan baru. Kalau malam menjelang, mereka mangkal di sebuah restoran di kawasan Jl. MM, persis berada di belakang bangunan mal. Disitulah mereka membuka praktek secara terangterangan dengan memasang badan di pinggir jalan mencari &#8216;pria&#8217; yang akan membokingnya. Menurut pengakuan salah seorang staf salon PY, sebut saja Jay, 26 tahun, yang sehari-hari menjadi capster, selama bekerja di salon PY cukup membuatnya mafhum dengan perilaku kaum pria yang doyan berdandan. Dengan logat bahasa yang luwes, Jay mengatakan kalau kebanyakan pria yang &#8216;nyalon&#8217;, bisa dipastikan kalau mereka tidak sekedar punya misi perawatan diri. &#8220;Banyak juga lho yang sambil nyari-nyari teman tidur,&#8221; kilahnya.</p>
<p>Selama kurang lebih dua tahun bekerja di PY, ia malah punya beberapa pria member guest yang tiap kali datang tanpa segan-segan lagi mengatakan maunya. Begitu datang ke salon dan mendapati beberapa wanita yang mengobral gaya dan bicara, ujar Jay, tamu prianya akan langsung menanyakan &#8216;bisa dibawa&#8217; atau tidak. Kalau jawabannya ya, dia lah yang menjadi makcomblang untuk sampai pada tahap transaksi cinta. &#8220;Rata-rata, tamu pria yang datang nakalnakal. Tapi nggak semua,lho,&#8221; sambungngya. Namun pekerjaan sebagai mak-comblang itu malah menguntungkan dirinya secara finansial. Dalam satu kali transaksi, ia bisa memperoleh keuntungan dari kedua belah pihak. &#8220;Dari tamu dapet, dari wanitanya sendiri, biasanya juga bagi-bagi rejeki kalau transaksi selesai,&#8221; jelasnya. Menurutnya, PY sejauh ini memang hanya menjadi tempat untuk membuat janji temu saja, lain tidak. Setelah mendapat pasangan yang diinginkan, sang pria akan melanjutkan petualangannya sesuai dengan kesepakatan. &#8220;Soal tempat aku nggak ngerti. Tapi kalau denger cerita dari mereka, yang paling sering mereka diajak ke hotel kelas short time,&#8221; tukasnya. Banyaknya tamu pria yang mempunyai misi lain ketika datang ke salon, diakui Jay sebagai hal yang wajar. &#8220;Namanya juga laki-laki. Siapa sih yang tidak butuh seks. Aku aja doyan laki, he.. .he,&#8221; akunya, blak-blakan.</p>
<p>Soal citra dan nama salon lantaran praktek tersebut, Jay mengaku tidak begitu memikirkannya. Pasalnya, selain terkenal sebagai salon transaksi cinta, PY juga populer sebagai ajang bertemunya kelompok pria gay. &#8220;Biarkan saja orang mau ngomong apa. Yang penting, di sini tidak menjual jasa seks langsung,&#8221; tegasnya.</p>
<p><strong>Highclass.</strong></p>
<p>Kalau CA punya paket lulur tripel-X dan PY populer sebagai ajang transaksi kencan, maka salon FL tak kalah gaungnya. Salon yang berada di kawasan Gunung Sahari, letaknya berada tak jauh dari sebuah mal perbelanjaan di dekat perempatan yang menghubungkan jalan ke arah Mangga Dua tersebut terkenal sebagai salon kelas atas. Yang menarik, salon FL ternyata memang bukan sembarang salon karena tenaga wanita yang melayani tamu, hampir semua wanita dan mereka bukan sem-barang wanita. Dari fisik, wajah dan penampilannya, mereka jelas masih di atas jika dibanding dengan ladies-escort yang mengisi sejumlah karaoke elit di Jakarta. Saya hanya bisa geleng-geleng kepala ketika untuk pertama kali, saya bersama seorang rekan, sebut saja Yan, mampir untuk membuktikan kebenarannya. Yan, berusia 28 tahun, selama ini sedikit banyak membantu saya dalam memberi informasiinformasi terbaru dari dunia malam Jakarta. Pekerjaannya sebagai PR &amp; Marketing Communications di salah satu perusahaan yang menggeluti jasa artist management dan showbiz, membuatnya banyak berkenalan dengan orang-orang dari dunia malam. Belum lagi, pekerjaan sampingannya sebagai model dan artis sinetron. Meski hanya menjadi pemeran pembantu, ternyata pekerjaan sampingan-nya tersebut, cukup membuatnya dikenal sebagian khalayak ramai.</p>
<p>Dan pada sore itu, ketika Yan mengajak saya mengecek kebenaran kabar &#8216;wanita-wanita&#8217; salon FL yang terkenal akan kemolekan dan kecantikan, mana mungkin saya tolak. Gedung FL lumayan besar, berderet dengan sejumlah perkantoran dan pertokoan. FL menempati sebuah ruangan lebar dengan setting interior serba modern. Halaman parkir yang berkapasitas tak lebih dari 12-16 mobil tersebut, tampak penuh. Saya dan Yan terpaksa parkir sedikit menjauh. Begitu masuk, ruangan FL terasa begitu nyaman. Ruang tamu dilengkapi sofa panjang plus meja kaca. Di dalam, sekitar 10 wanita tengah menjalankan tugasnya melayani tamu yang kesemuanya pria. Ada yang sibuk menggunting rambut, medikur, bahkan ada yang cuma &#8216;mengobrol&#8217; santai sementara tangan si gadis lembut memijat kepala. Saya dan Yan menjadi pasien yang ke-11 dan 12 sore itu. Kami dilayani dua gadis yang sama-sama memiliki paras ayu dan body yang aduhai. Mereka tak mengenakan seragam layaknya pegawai salon. Rata-rata mereka mengenakan baju-baju trendy. Tak heran kalau semua wanita yang bertugas di FL, rata-rata cantik.</p>
<p>Ternyata, FL selain beroperasi sebagaimana layaknya sebuah salon, di sisi lain, FL juga menjadi arena transaksi cinta. Boleh percaya, kesemua wanita yang bekerja di FL, siap menjalani transaksi boking. Pelayanan creambath, cuci rambut dan medikur, sebenarnya tak lebih dari proses mempertemukan klien dengan &#8216;gadis&#8217; yang diinginkan. Justru disinilah letak keistimewaan salon FL. Tamu diberi keleluasan memilih pasangan kencannya secara lang-sung. Toh, kalau tamu tak melanjutkannya menjadi kencan, tarif harga untuk sekali creambath saja sudah di atas rata-rata Rp. 200 ribu! Pantas saja, tamu pria yang datang sore itu, rata-rata bermobil bagus. Cuma mau creambath saja, Mas, nggak mau ngajak saya makan malam,&#8221; bisik Wina, yang bertugas melayani saya.</p>
<p>Dari kalimat Wina itulah, saya mulai bisa mem-buka tabir salon FL yang sebenarnya. Pria mana yang tahan menolak ajakan seorang gadis cantik, berdada bagus, tinggi dan berkulit putih seperti Wina. Tampaknya, pria yang datang nyalon ke FL, tujuan utamanya sudah bisa ditebak. Ujung muaranya memang tak lebih seks. Padahal, untuk sekali kencan, tamu mesti membayar Rp. 1 juta. Belum termasuk tips, biaya hotel, makan malam dan entah biaya apa lagi yang mesti dipenuhi. Pantas memang, kalau FL dikenal sebagai salon highclass. Menilik dari perilaku sejumlah pria yang &#8216;nyalon&#8217; sore itu, tampak sekali kalau mereka kebanyakan adalah pelanggan tetap. Meski sudah dilayani seorang gadis misalnya, tetap saja para pria itu menyempatkan diri bercakap-cakap dengan gadis salon di sebelahnya. Rupanya, antara tamu dan ladies salon tersebut sudah pernah kenal, minimal pernah terjadi transaksi sebelumnya. Yan memang memilih untuk melanjutkan creambath-nya menjadi kencan semalam. &#8220;Penasaran saja pengin coba. Lihai gak ya &#8216;main&#8217;nya,&#8221; bisik Yan sambil tertawa.</p>
<p><strong>Jakarta &amp; Solo.</strong></p>
<p>Solo dan Jakarta tidak ada bedanya. Di kota yang terkenal dengan semboyan Solo Berseri itu ternyata juga dijejali puluhan salon yang menawarkan service &#8216;luar dalam&#8217;. Malah, seni menjajakan barang dagangannya lebih unik di banding Jakarta. Sekali waktu, melintaslah di Jl. Cipto Mangunkusomo, kawasan Turisari. Di situ terdapat salon YL yang namanya sangat terkenal di kalangan pria-pria petualang. Tidak saja yang ada di Solo tapi juga luar kota. Tapi, di salon yang dikomandani Mbak YY itu jangan harap bisa menemukan paket perawatan gunting rambut, cuci-blow sampai creambath. Tidak ada pelayanan seperti itu. Boro-boro bisa gunting rambut atau cuci-blow, menemukan alat-alat salon seperti gunting, kap salon dan alat-alat kecantikan lain tidak akan ketemu.</p>
<p>Jadi apa pelayanannya? Apalagi kalau bukan jasa wanita yang bisa menghapus dahaga cinta para lelaki. Itulah jualan utama salon YL. Modus operandinya tidak beda jauh dengan beberapa tempat hiburan di Jakarta yang menyediakan wanita-wanita pemuas nafsu. Ketika tamu datang, mucikari Mbak YY, yang semua laki-laki, akan mengumpulkan anak buahnya di ruang display seluas 6X6 meter persegi. Mereka duduk di sofa yang dibentuk model U. Tamu dibebaskan memilih wanita yang ingin dikencani. Sesi pertama, biasanya Mbak YY akan mengeluarkan koleksinya enam wanita. Kalau ternyata tamu belum menemukan pilihan yang cocok, mucikari Mbak YY akan mengeluarkan sesi kedua. Begitu seterusnya. Begitu tamu menemukan pilihan, mucikari Mbak YY akan menawarkan jasa angkutan siap antar. Di salon YL memang tidak menyediakan kamar. YL tak lebih dari tempat penampungan untuk rendevous. Untuk sekali short-time, tarif yang dipasang antara Rp. 200-300 ribu belum termasuk biaya jasa angkutan. Untuk memudahkan tamu, mucikari Mbak YY biasanya akan memberikan daftar nama-nama hotel yang biasa memasang tarif untuk short-time.</p>
<p>Teman kencan yang menjadi pilihan tamu, bisa dibawa pada saat itu juga atau diantar. Semua terserah keinginan tamu. Para pelanggan tetap, biasanya lebih suka memesan via telepon. Tentu saja untuk tamu pemula, lebih suka datang untuk melihatlihat koleksi terbaik milik Mbak YY. Para wanita yang menjadi koleksi Mbak YY itu bukan seperti gambaran gadis Solo yang selalu tampil luwes dan sopan santun. Mereka tidak ada bedanya dengan gadisgadis penghibur di Jakarta. Pakaian trendy, seksi dan dandanan memikat. Maklum, mereka rata-rata bukan asli Solo. Kebanyakan datang dari daerah-daerah seperti Ngawi, Boyolali, Madiun, Sragen dan daerah sekitar. Bahkan, ada juga yang datang dari luar Jawa Timur seperti Kalimantan dan Jawa Tengah. Tamu yang datang ke YL tidak seperti suasana di beberapa panti pijat di Jakarta yang umumnya selalu ramai menunggu giliran dipanggil untuk kencan di kamar yang tersedia. Di YL, ada empat sampai enam tamu itu sudah banyak.</p>
<p>Ini terjadi lantaran tamu yang datang lebih suka menjadi pembeli model cash-carry. Datang dan pergi. Lagi pula, tamu juga bisa pesan melalui via telepon. Begitu cepat arus datang dan perginya para tamu di YL. Jadi jangan berharap bisa mendapatkan suasana ruang tunggu yang enak seperti di lobi hotel. Untuk mendapatkan suguhan segelas softdrink saja, seperti tidak ada waktu. Jarang sekali tamu yang berlama-lama di YL. Untuk memudahkan tamu mengamati wanita yang akan dikencani, di YL tidak ada pembatas antara ruang tunggu dan display. Tamu bisa langsung mengamati sepuasnya bahkan kalau perlu bercakap-cakap pun disahkan sekedar berkenalan. Suasananya memang dibuat sedemikian rupa, sehingga tamu bisa leluasa meneliti dan menentukan teman kencan yang diminati. Lagi-lagi ini berbeda dengan model tempat hiburan di Jakarta yang lebih suka memasang wanita di ruang display yang tertutup kaca dengan jarak cukup jauh. Salon-salon model YL ternyata jumlahnya tidak hanya satu.</p>
<p>Di Jl. Sriwijaya atau di Jl. Adi Sucipto, terdapat beberapa salon yang menawarkan pelayanan serupa. Sebut saja salon LR dan PA. Keduanya tidak kalah terkenal dibanding YL. Pesaing YL yang tak kalah populernya adalah AG. Salon yang juga berada di Jl. Cipto Mangunkusumo, tepatnya di Gang DR itu tempatnya boleh dibilang cukup mewah. Bangunan rumah berpagar tinggi dengan taman mini di halaman depan. Seperti halnya salon YL, tamu yang datang ke salon milik Mbak LK akan disambut para mucikari. Tamu datang, para wanita koleksi Mbak LK akan segera dipanggil ruang display. Begitu seterusnya. Salon-salon penawar cinta yang menghiasi kota Solo entah sudah berapa jumlahnya. Kabarnya, di hampir tiap kecamatan di wilayah Solo terdapat salonsalon sejenis. Selain di Jl. Cipto Mangunksumo, di beberapa jalan besar seperti Jl. Yos Sudarso dan Jl. SRN yang terkenal sebagai kawasan elit itu juga berjajar beberapa salon setipe YL. Solo tampaknya makin berseri dengan salon-salon penawar dahaga cinta para pria petualang. Tampaknya, bisnis seks melalui salon, sudah menjadi trade-mark di kota-kota besar. Buktinya, Jakarta dan Solo sudah tak ada bedanya. Keduanya tampil dengan wajah serupa. Wajah berpoleskan bedak dan lipstick wanita-wanita penjaja cinta.</p>
<p>
<ul>
<li><a target="_blank" href="http://www.doktertomi.com" title="Free Inspirations, News, Guides, Tips and Tricks" target="_blank">Doktertomi.com</a> : Free Inspirations, News, Guides, Tips and Tricks</li>
<li><a target="_blank" href="http://www.botolempangan.info" title="Everything You Need To Know About Makassar" target="_blank">Makassar Today</a> : Everything You Need To Know About Makassar</li>
<li><a target="_blank" href="http://www.masterbiznet.com" title="Masternya Bisnis Internet" target="_blank">Masterbiznet.com</a> : Masternya Bisnis Internet</li>
<li><a target="_blank" href="http://www.workinthewebsite.com" title="News, Guides, Tips and Tricks on Website Monitization and Advertising" target="_blank">Work in The Website</a> : News, Guides, Tips and Tricks on Website Monitization and Advertising</li>
</ul>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center shr-bookmarks-bg-shr">
<ul class="socials">
		<li class="shr-blogger">
			<a href="http://www.blogger.com/blog_this.pyra?t&amp;u=http://www.doktertomi.com/2008/03/18/lulur-tripel-x-salon-salon-eksekutif/&amp;n=Lulur+Tripel+X+Salon-salon+Eksekutif&amp;pli=1" rel="nofollow" class="external" title="Blog this on Blogger">Blog this on Blogger</a>
		</li>
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://www.doktertomi.com/2008/03/18/lulur-tripel-x-salon-salon-eksekutif/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://www.doktertomi.com/2008/03/18/lulur-tripel-x-salon-salon-eksekutif/&amp;t=Lulur+Tripel+X+Salon-salon+Eksekutif" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-myspace">
			<a href="http://www.myspace.com/Modules/PostTo/Pages/?u=http://www.doktertomi.com/2008/03/18/lulur-tripel-x-salon-salon-eksekutif/&amp;t=Lulur+Tripel+X+Salon-salon+Eksekutif" rel="nofollow" class="external" title="Post this to MySpace">Post this to MySpace</a>
		</li>
		<li class="shr-technorati">
			<a href="http://technorati.com/faves?add=http://www.doktertomi.com/2008/03/18/lulur-tripel-x-salon-salon-eksekutif/" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Technorati">Share this on Technorati</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Lulur+Tripel+X+Salon-salon+Eksekutif+-+http://b2l.me/bdugc&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Lulur+Tripel+X+Salon-salon+Eksekutif&amp;body=Link: http://www.doktertomi.com/2008/03/18/lulur-tripel-x-salon-salon-eksekutif/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Salon-salon%20berlabel%20X%20dengan%20paket%20istimewa.%20Dari%20lulur%20tripel%20X%20sampai%20%27service%20luar%20dalam%27%20XXX.%20Layanan%20kemanjaan%20untuk%20pria-pria%20eksekutif%20muda%21%21%21Beberapa%20tahun%20terakhir%2C%20banyak%20salon%20hadir%20dengan%20membawa%20label%20sebagai%20salon%20gaul.%20Dan%20peminatnya%2C%20ternyata%20cukup%20membludak.%20Tidak%20saja%20dari%20kalanga" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

<p><img src="http://wptextads.s3.amazonaws.com/images/press/wpta-20x20.jpg" alt="WP Text Ads" border="0" /> <a rel="nofollow" href="http://www.doktertomi.com/wp-content/plugins/wptextads1/wpta.php?wpta_form=1&wpta_cmd=buy&wpta_id=1479" onclick="window.open('http://www.doktertomi.com/wp-content/plugins/wptextads1/wpta.php?wpta_form=1&wpta_cmd=buy&wpta_id=1479', 'nehemiah_window', 'width=550,height=530,scrollbars,resizable'); return false;">Want visitors to your site? Buy an ad here.</a></p><img src="http://www.doktertomi.com/?ak_action=api_record_view&id=1479&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.doktertomi.com/2008/03/18/lulur-tripel-x-salon-salon-eksekutif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tukar Kelamin Party Of The Year</title>
		<link>http://www.doktertomi.com/2008/03/16/tukar-kelamin-party-of-the-year/</link>
		<comments>http://www.doktertomi.com/2008/03/16/tukar-kelamin-party-of-the-year/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 16 Mar 2008 07:01:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>antz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jakarta Undercover : Sex n' The City]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://doktertomi.com/2008/03/16/tukar-kelamin-party-of-the-year/</guid>
		<description><![CDATA[Vesta masygul kaum gay di kalangan jetset. Berdandan ala bintang sensual Hollywood dengan hadiah berlibur ke Hawai. Penyelenggaranya justeru wanita terhormat dari keluarga kaya raya. Sebenarnya pesta kaum gay sudah beberapa kali kami lihat dan saksikan. Di diskotek di Jl MG, Jakarta Barat atau kafe LJ di Jakarta Selatan, secara rutin, walau-pun tanpa publikasi, pesta [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fwww.doktertomi.com%2F2008%2F03%2F16%2Ftukar-kelamin-party-of-the-year%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=tahoma&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<p>Vesta masygul kaum gay di kalangan jetset. Berdandan ala bintang sensual Hollywood dengan hadiah berlibur ke Hawai. Penyelenggaranya justeru wanita terhormat dari keluarga kaya raya. Sebenarnya pesta kaum gay sudah beberapa kali kami lihat dan saksikan.</p>
<p>Di diskotek di Jl MG, Jakarta Barat atau kafe LJ di Jakarta Selatan, secara rutin, walau-pun tanpa publikasi, pesta para laki-laki &#8216;kemayu&#8217; itu berlangsung meriah. Di situlah, para lelaki homoseksual bertemu dan mencari pasangan. Di kafe LJ malah ada keunikan sendiri. Karena ternyata, pengunjung wanita tak kalah membludak dibanding laki-laki gay. Tapi kali ini, pesta sejenis justru diselenggarakan di rumah pribadi. Dan pemiliknya kami kenal sebagai wanita normal dan terhormat. Ny Erika (31), nama disamarkan, yang bergerak di ladang bisnis garmen dan mempunya beberapa butik elit di Jakarta. Suaminya, Bagus (39), seorang pengusaha dari kalangan pria keturunan yang membidangi bisnis ekspor-impor orderdil mobil. Punya wajah lumayan ganteng dan termasuk pria normal. &#8220;Ini pesta khusus dan terbatas, Gay Night Party 2002,&#8221; ujar Erika ketika kami konfirmasi-kan lewat telepon.</p>
<p><strong>Tukar Kelamin.</strong></p>
<p>Malam Sabtu, pukul 22.00 WIB, kami berada di Jl. DL, daerah pemukiman elit di kawasan GT. Tak jauh dari sini, terdapat sebuah rumah bergaya Romawi yang dikelilingi tembok setinggi 4 meter dan pintu gerbang kayu dengan ukiran gambar naga. Ruang tamu seluas 9 X 9 meter persegi disulap menjadi ballroom. Ada sekitar 20 tamu sudah berkumpul di bawah siraman lampu yang cukup terang. Tapi yang menarik, tamu wanita berdandan laki, sedangkan laki-laki berdandan wanita. Kalau saja mereka hanya kaum gay, boleh jadi lumrah. Tapi, Ny Erika, hampir tak kami kenali. Malam itu, wanita yang dikenal di kalangan selebritis sampai ibu-ibu pejabat itu tampil dengan busana khas laki-laki. Kemeja putih dipadu celana hitam dengan topi Charlie Caplin di kepala. Kumis tipis palsu menghias di atas bibirnya yang tanpa polesan lipstick. Tangan kanan mencengkeram sebilah tongkat, sementara tangan kiri memegang cerutu. Sedangkan suaminya, Bagus mengenakan kemben putih dengan kain melilit di sepanjang kaki. Bibirnya disepuh lipstick merah. Begitu juga dengan sejumlah tamu lain. &#8220;Malam ini kita &#8216;tukar kelamin&#8217;, he he,&#8221; celetuk Erika. &#8220;Kalau mau ikut, ada baju di kamar.&#8221;</p>
<p>Kami menggelegak. Inikah rupanya keunikan pesta ini. Tapi unik apanya? Di garden terrace memang sedikitnya ada 12 tamu wanita. Ah, bukan wanita murni. Mereka pria berbadan atletis tapi gaya bicaranya lemah gemulai. Semua berdandan layaknya wanita. Dan mereka pun mengenakan busana wanita yang serba gemerlap. Ada juga sedikitnya 5 orang wanita betulan berdandan laki-laki. Di antara sekian tamu undangan, kami tertarik dengan tiga tamu yang mengenakan busana khas bintang Hollywood. Erika mengenalkan tiga tamu sebagai Jojo (24), Raymond (26), Priambudi (29) dan Anton (25). Keempat pria itu di dunia model cukup populer. Jojo kerap muncul dalam beberapa peragaan fashion. Pria berkulit putih dan dalam kesehariannya selalu tampil trendy adalah salah satu mantan peraih predikat cover boy pada 1998. Namun sudah menjadi rahasia umum, kalau Jojo bukan pria yang punya perilaku seks normal. Ia termasuk kelompok pria gay. Gosip yang beredar tentang hubungan cintanya dengan salah seorang desainer terkenal, kerap menjadi perbincangan media masa maupun kalangan model. Dalam suatu kesempatan, sebelum pesta dimulai, Jojo sempat &#8216;curhat&#8217; pada kami ihwal hubungannya dengan desiner terkenal itu. Katanya, ia lagi sedih lantaran hubungannya sudah tidak harmonis lagi. Bahkan terakhir, hubungan itu bubar. &#8220;Cowok gue kepelet sama lekong Blok M,&#8221; ungkapnya kesal. Gara-gara &#8216;lekong&#8217; (baca=pria) itulah, lanjut Jojo, hubungannya berantakan. &#8220;Padahal, dibanding gue, dia tidak ada apa-apanya. Makanya, kalau gue bilang, lekong gue kena pelet,&#8221; tandasnya penuh percaya diri.</p>
<p>Sementara Priambudi sendiri selama kurang lebih tiga tahun menjadi asisten seorang desainer kenamaan. Pria berkulit hitam sawo matang dan berbadan atletis itu kini punya bisnis sendiri. Katanya, ia sudah hengkang dari &#8216;bos&#8217;nya dan memilih berjalan sendiri. &#8220;Sudah satu tahun ini, aku di Afrika,&#8221; akunya. Di negara itu, ujarnya, ia sibuk membuat acara fashion kelas internasional. &#8220;Bulan-bulan ini, aku lagi mempersiapkan/fashion kelas dunia. Nelson Mandela sendiri yang minta. Sekarang aku lagi liburan di Indonesia,&#8221; ungkapnya meyakinkan. Berbeda dengan Priambudi dan Anton. Pria keturunan itu, memang bukan model. Tapi dalam kesehariannya, mereka bergaul dengan beberapa pria model. Jojo dan Raymond adalah dua diantara teman-teman terdekatnya. Mereka dalam ke-sehariannya tetap berperilaku seperti laki-laki kebanyakan. Siapa sangka kalau dalam kehidupan yang sebenarnya, mereka adalah pria yang suka sesama jenis. Kalau diamati sekilas, badan mereka tegap dan berisi. Tidak tampak citra &#8216;gemulai&#8217; layak-nya wanita. Wajah tampan dan selalu ber-usaha tampil prima. Yang membedakan barangkali dari cara mereka berbicara yang kadang-kadang begitu terdengar lembut dan gemulai. Apalagi kalau pembicaraan itu terjadi antara &#8216;gank&#8217; mereka. Tapi malam itu, mereka berubah menjadi wanita. Yang berjenis kelamin pria menjadi wanita, sementara wanitanya menjadi pria. Jojo, Raymond dan Priambudi malah tampak seperti wanita betulan. Gaya dan penampilan mereka dalam keseharian yang memang lebih banyak mencerminkan jiwa kewanitaannya, makin lengkap begitu tubuhnya terbungkus gaun-gaun pesta. Sementara beberapa wanita yang berdandan ala pria, tak kalah hebohnya. Mereka berkumpul di ruang tamu yang sudah disulap menjadi mini ball-room di bawah siraman lampu terang.</p>
<p><strong>Kontes Hollywood.</strong></p>
<p>Pesta dimulai dengan dinner yang dilanjutkan dengan acara pembukaan botol white wine, red wine dan beragam jenis minuman beralkohol lain. Dengan diiringi musikmusik berirama RnB dan Classic Disco, mereka mulai menenggak minuman sampai tidak ada sisa botol yang tersisa. &#8220;Minum dulu yang banyak biar tambah pede,&#8221; ceplos Jojo. Erika dan suaminya yang bertindak sebagai tuan rumah, dengan ramah mempersilakan tamu sekaligus temantemannya itu untuk menikmati aneka suguhan yang dihidangkan. Selang sepuluh menit kemudian, dari arah pintu masuk muncul dua pasang priawanita. Erika memperkenalkan mereka sebagai adik-adiknya. Sama seperti dandanan Erika dan suaminya, dua pasangan itu berdandan terbalik. Si wanita mengenakan baju pria, sementara prianya dengan baju wanita. Mereka segera disambut tamutamu undangan lain dengan tawa meriah. Acara dinner plus minum-minum berlangsung sekitar satu jam. Mendekati pukul 23.00 WIB, Erika mengundang semua kontestan untuk berkumpul di ruang tamu.</p>
<p>Begitu terkumpul, kami menyaksikan pemandangan yang lain dari biasanya. Bayangan pertama kami selintas lalu ingat akanbeberapa &#8216;pria punya selera&#8217; yang saban malam kerap menjajakan diri di ka-wasan Taman Lawang. Tapi, sama sekali mereka yang di sini tampil beda. Baju yang mereka kenakan rata-rata bermerek. Jojo mengenakan busana khas Solo. Kain melilit dengan kebaya, sementara di kepala ada gelungan dengan hiasan bunga melati layaknya puteri keraton. Bibirnya disepuh lisptick merah. Tangannya memegang sebuah kipas bermotif bunga-bunga. Di sudut lain tampak Raymond dengan busana ala Madona dalam film In The Bed With Madonna. Seksi karena ada beberapa bagian tubuh yang terbuka lebar. Priambudi berubah dengan dandanan ala penyanyi Cher. Gaun yang dikenakan ber-warna hitam lengkap dengan asesoris bulu panjang dan belahan lebar di punggung. Yang paling berani adalah Anton. Ia hanya mengenakan baju bikini serba hitam seperti yang dikenakan Demi More dalam film Striptease. Kulit kuning langsatnya tampak bersih tanpa cacat. Rambutnya dicat pirang dengan polesan lipstick hitam di bibir. Tamu-tamu undangan lain tak kalah beraninya. Ada yang berdandan persis Broke Shield. Seorang pria berkulit hitam yang berdiri tak jauh dari Jojo malah nekad meniru dandanan model Pamela Anderson dalam serial VIP. Entah bagaimana caranya, dua payudara pria itu tampak begitu menonjol di belahan baju warna pink yang ia kenakan. Suami Erika dan dua adik istrinya yang merubah kelamin menjadi wanita, tampak masih malu-malu. Erika sendiri bersama dua adiknya, ikut bergabung bersama kontestan.</p>
<p>Kontes terbagi menjadi dua. Pertama, mereka yang memilih untuk mengikuti lomba catwalk dan kedua, mereka yang lebih suka lipsing dengan membawakan lagu pilihan. Sebelum kontes dimulai, Erika lebih dahulu mengumumkan tiga juri yang akan menilai. Hadiah utama yang di-perebutkan malam itu adalah berlibur selama satu minggu ke Hawai. Bertepatan dengan jarum jam menunjuk pukul 23.15 WIB lomba catwalk dimulai. Mula-mula seluruh kontestan naik ke lantai satu. Lampu tetap dibiarkan menyala terang. Selang beberapa menit kemudian, satu per satu sekitar 12 kontestan mulai menuruni anak tangga dengan gaya dan aksi. Lagu-lagu populer seperti Mambo No.5, Bailamos, If You Had May Love, No Scrub dan Genie In The Bottle menjadi pengiring selama catwalk. Menyaksikan mereka berjalan, tak ubahnya seperti menonton fashion show betulan. Jojo yang memang berprofesi sebagai model, dengan manisnya menggerakkan kaki, menari, melenggok dengan indah. Kipas di tangannya sesekali mengudara bergerak dinamis. Begitu juga dengan kontestan-kontestan yang lain. Dua adik Erika bersama suaminya, ikut dalam sesi pertama ini. Dengan sedikit malu-malu, mereka berusaha tampil maksimal. Tentu saja mereka hanya sebagai peserta pelengkap. Aksi mereka yang tak lebih dari 2 menit itu, menjadi &#8216;lawakan&#8217; segar.</p>
<p>Sesi kedua menjadi kontes yang paling heboh. Kali ini, pertunjukan dengan cara one man show. Mula-mula, Raymond tampil dengan diiringi lagu Take A Bow milik Madonna. Dengan tarian erotis, Raymond mengekspresikan gaya dan aksi Madonna ketika di atas panggung. Genit, liar dan berani. Menjelang akhir lagu, Raymond mulai mempreteli satu per satu baju yang melekat di badannya hingga tinggal bra dan celana dalam yang tersisa. Tamu yang datang bersorak histeris menyaksikan ulah Raymond. Tak kalah beraninya adalah aksi Priambudi. Dengan dandanan ala Cher, ia beraksi dan berakting dengan menyanyikan lagu Believe. Belahan menganga di punggung Priambudi tampak mengalir keringat. Aksesoris bulu yang melingkar di sekujur tubuhnya, dikipas ke kanan ke kiri. Bulubulu itu sebagian rontok dan beter-bangan di lantai marmer. Untuk membuat aksinya makin panas, ia membubuhi goyangannya dengan gerakan ala striptis yang vulgar. Tamu yang memenuhi ruang tamu berulang kali bersorak memberikan applaus panjang. Di tengah sorak yang menggema, Jojo maju ke tengah mendekati Priambudi sambil membawa segelas white wine. Dengan senyum cerah ia menyambut segela white wine itu dan meneguknya separuh. Dengan gelas di tangan, ia menuang sisanya ke beberapa bagian tubuhnya. Keringat dan wine bercampur jadi satu. Para tamu yang datang hanya membelakkan mata disertai tawa menyaksikan ulah Priambudi. Aksi Anton menjadi klimaks dari pesta gay itu. Dengan iringan lagu house-music, ia menari dengan gerakan dan liukan striptis. Badannya yang hanya dibalut bikini, tak ubahnya seperti penari-penari profe-sional yang bisa menyuguhkan &#8216;tarian syahwat&#8217; di beberapa tempat hiburan &#8216;mesum&#8217; di Jakarta. Dari balik bra yang dikenakan, ia mengeluarkan sebungkus cairan. Dengan perlahan dan gerakan genit, ia mulai mengoleskan carian minyak itu ke seluruh tubuh. Sesekali, tangannya dengan genit menarik celana mini yang membungkus auratnya. Tapi hanya sepa-ruh, pada gerakan berikut, ia kembali menarik celana mini itu pada posisi semula. Dan dengan berani, ia mendekati beberapa tamu, berjoget vulgar. Selama hampir sepuluh menit, Anton membuat tamu undangan lain, tak tahan untuk tidak berteriak. Beberapa tamu di antaranya, sampai terbengong-bengong.</p>
<p>Erica yang berkumpul bersama saudara-saudaranya, tak ada henti-henti tertawa lepas. Persis menginjak pukul 00.00 WIB, Erica meminta semua kontestan untuk berhenti beraktifitas. Mereka berkumpul membentuk lingkaran. Dipimpin Raymond, mereka berdoa di penghujung tahun 2001. &#8220;Meski hari ini, kita berdandan seperti ini, tapi kami yakin, Tuhan tidak melihat penampilan saja, tapi hati kita. Semoga kita bisa lebih bahagia dan sukses di tahun 2002.&#8221; Begitulah garis besar doa yang mereka panjatkan. Suasana haru itu tak berlangsung lama. Berikutnya, musik dan tawa meledak. Meski kontes telah usai dan tinggal menanti saat pengumuman pemenang, musik terus saja diputar dan semua tamu bergoyang. Pada saat itulah, dari arah pintu masuk, muncul penyanyi wanita kenamaan MA, yang sempat menelorkan lagu hit jenis pop di tahun 1998. Kehadiran MA disambut beberapa tamu kontestan. Rupanya, MA juga tak asing dengan Jojo, Raymond dan Anton. Ia pun segera ikut bergabung di tengah kerumunan tamu yang berubah &#8216;kelamin&#8217; itu. Satu-satunya yang tidak merubah diri, ya MA. Maklum, katanya ia baru saja menyanyi di salah satu &#8216;kafe&#8217; di Jakarta, jadi terpaksa ia masih mengenakan gaun pentas.</p>
<p>Untuk menyambut MA, Anton bersama Raymond mempersembahkan tarian &#8216;gila&#8217; yang tak kalah vulgar. Menyaksikan gerak-gerik mereka, MA berulang tertawa terbahak hingga matanya basah. Pada saat Anton beraksi dengan tarian erotis, dua pria mengenakan celana dan kaos ketat muncul dari pintu masuk. Dua pria ber-wajah klimis itu langsung disambut Jojo, Priambudi dan Raymond. Ah, rupanya, dua pria itu &#8216;pacar&#8217; tetap Anton dan Priambudi. Melihat &#8216;pacarnya&#8217; datang. Anton mengendorkan aksinya. Keringat deras membasahi tubuhnya yang hanya terbalut beberapa helai baju. Ia menghampiri pacarnya dan memberikan ciuman mesra seperti yang biasa dilakukan pasangan muda-mudi yang lagi kasmaran. Tawa, musik dan denting minuman terus saja merangsak malam hingga dini menjelang. Anton tersenyum lega karena tiket ke berlibur seminggu di Hawaii berada di genggaman. Ia duduk bersama pacarnya di kursi sofa. Sementara Jojo, Raymond dan Priambudi, masing-masing mendapat uang cash Rp. 3 juta. &#8220;Lumayan, itung-itung buat ganti ongkos make-up dan baju,&#8221; sergah Priambudi.</p>
<p><strong>Gay Jetset.</strong></p>
<p>Dalam pesta gay itu, Jojo, Raymond, Priambudi, Anton dan beberapa gay yang lain, tampak begitu bebas mengekspresikan diri. Mereka begitu merdeka melakukan apa yang mereka inginkan. Kalau selama ini kaum gay kebanyakan menutup diri, maka yang kami saksikan malam itu benar-benar beda. Erika bersama suami dan adik-adiknya yang ratarata berperilaku seks normal, dengan senang hati membuka diri terhadap kelom-pok mereka. Dalam pesta itu, mereka diterima apa adanya. Mereka dibiarkan berekspresi tanpa melihat faktor perbedaan seksual. Tidak hanya itu, tamu-tamu lain yang notabene berperilaku seks normal, ikut bergabung bersama mereka dalam suasana pesta yang lepas dan penuh suasana keakraban. Dalam ukuran strata sosial, mereka termasuk dari keluarga the have. Malah boleh dibilang, dari segi kekayaan, orang tua mereka serba berkecukupan. Tidak heran, kalau Jojo, Raymond, Priambudi dan Anton tidak begitu susah dalam hal uang. Saban hari bermobil, makan dan minum di kafekafe elit dan mengenakan baju bermerek. Tapi dalam hal bergaul, mereka tetap memilih. Mereka lebih suka berada bersama kalangan yang punya perilaku seks senasib. Bukan soal berani apa tidak berani kalau sosok seperti Jojo lebih suka berada di &#8216;kelompok&#8217;nya sendiri. Begitu juga dengan Raymond, Priambudi dan Anton. Bagi Jojo, apa yang ia lakukan bersama teman-teman satu gank bukan ekslusif. &#8220;Kami bukan tidak tahu. Orang seperti kami ini belum sepenuhnya diterima semua kalangan,&#8221; ungkapnya. Menurut Jojo, di kultur Timur, gay itu masih dianggap aneh dan menyalahi norma. &#8220;Siapa yang ingin dilahirkan seperti gue. Kalau disuruh milih, gue juga pengen seperti pria-pria normal,&#8221; sambungnya.</p>
<p>Ungkapan senada juga dilontarkan Raymond dan Priambudi. Mereka mengakui kalau tanda-tanda menuju ke gay itu sudah ada sejak dulu. &#8220;Jadi, bukan karena ikut-ikutan,&#8221; sergahnya. Kalau ternyata, lanjut mereka, sampai kini, masyarakat belum bisa menerima kehadirannya, mereka hanya bisa pasrah saja. &#8220;Mau ngomong apa. Di sini, siapa yang berani mengaku gay secara blak-blakan. Paling satu dua. Karena bagaimanapun, di sini, gay belum diterima. Kami nggak mau juga dikucilkan,&#8221; tandas mereka. Pesta gay yang diadakan Erika itu, bagi mereka dianggap sebagai satu bentuk penghormatan dan penghargaan terhadap mereka. Bagaimanapun, timpal Anton, mereka juga makhluk Tuhan yang membutuhkan perlakuan yang sama. &#8220;Kalau orang seperti Erika, mau menerima kami, itu satu penghargaan besar buat kami,&#8221; tegasnya. Entahlah!. Bisa jadi, Erika adalah salah satu wanita kaya dan terhormat yang &#8216;bisa&#8217; menerima kehadiran kaum gay. Atau ia sekadar ingin membuat pesta yang berbeda dari biasanya. Karena baginya, pesta hura-hura antar teman seprofesi dan sejawat, sudah biasa.</p>
<p>
<ul>
<li><a target="_blank" href="http://www.doktertomi.com" title="Free Inspirations, News, Guides, Tips and Tricks" target="_blank">Doktertomi.com</a> : Free Inspirations, News, Guides, Tips and Tricks</li>
<li><a target="_blank" href="http://www.botolempangan.info" title="Everything You Need To Know About Makassar" target="_blank">Makassar Today</a> : Everything You Need To Know About Makassar</li>
<li><a target="_blank" href="http://www.masterbiznet.com" title="Masternya Bisnis Internet" target="_blank">Masterbiznet.com</a> : Masternya Bisnis Internet</li>
<li><a target="_blank" href="http://www.workinthewebsite.com" title="News, Guides, Tips and Tricks on Website Monitization and Advertising" target="_blank">Work in The Website</a> : News, Guides, Tips and Tricks on Website Monitization and Advertising</li>
</ul>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center shr-bookmarks-bg-shr">
<ul class="socials">
		<li class="shr-blogger">
			<a href="http://www.blogger.com/blog_this.pyra?t&amp;u=http://www.doktertomi.com/2008/03/16/tukar-kelamin-party-of-the-year/&amp;n=Tukar+Kelamin+Party+Of+The+Year&amp;pli=1" rel="nofollow" class="external" title="Blog this on Blogger">Blog this on Blogger</a>
		</li>
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://www.doktertomi.com/2008/03/16/tukar-kelamin-party-of-the-year/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://www.doktertomi.com/2008/03/16/tukar-kelamin-party-of-the-year/&amp;t=Tukar+Kelamin+Party+Of+The+Year" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-myspace">
			<a href="http://www.myspace.com/Modules/PostTo/Pages/?u=http://www.doktertomi.com/2008/03/16/tukar-kelamin-party-of-the-year/&amp;t=Tukar+Kelamin+Party+Of+The+Year" rel="nofollow" class="external" title="Post this to MySpace">Post this to MySpace</a>
		</li>
		<li class="shr-technorati">
			<a href="http://technorati.com/faves?add=http://www.doktertomi.com/2008/03/16/tukar-kelamin-party-of-the-year/" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Technorati">Share this on Technorati</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Tukar+Kelamin+Party+Of+The+Year+-+http://b2l.me/bffrb&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Tukar+Kelamin+Party+Of+The+Year&amp;body=Link: http://www.doktertomi.com/2008/03/16/tukar-kelamin-party-of-the-year/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Vesta%20masygul%20kaum%20gay%20di%20kalangan%20jetset.%20Berdandan%20ala%20bintang%20sensual%20Hollywood%20dengan%20hadiah%20berlibur%20ke%20Hawai.%20Penyelenggaranya%20justeru%20wanita%20terhormat%20dari%20keluarga%20kaya%20raya.%20Sebenarnya%20pesta%20kaum%20gay%20sudah%20beberapa%20kali%20kami%20lihat%20dan%20saksikan.Di%20diskotek%20di%20Jl%20MG%2C%20Jakarta%20Barat%20atau%20kafe%20L" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

<p><img src="http://wptextads.s3.amazonaws.com/images/press/wpta-20x20.jpg" alt="WP Text Ads" border="0" /> <a rel="nofollow" href="http://www.doktertomi.com/wp-content/plugins/wptextads1/wpta.php?wpta_form=1&wpta_cmd=buy&wpta_id=1473" onclick="window.open('http://www.doktertomi.com/wp-content/plugins/wptextads1/wpta.php?wpta_form=1&wpta_cmd=buy&wpta_id=1473', 'nehemiah_window', 'width=550,height=530,scrollbars,resizable'); return false;">Want visitors to your site? Buy an ad here.</a></p><img src="http://www.doktertomi.com/?ak_action=api_record_view&id=1473&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.doktertomi.com/2008/03/16/tukar-kelamin-party-of-the-year/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seks Midnite Gadis-Gadis Burespang</title>
		<link>http://www.doktertomi.com/2008/03/14/seks-midnite-gadis-gadis-burespang/</link>
		<comments>http://www.doktertomi.com/2008/03/14/seks-midnite-gadis-gadis-burespang/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Mar 2008 07:01:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>antz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jakarta Undercover : Sex n' The City]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://doktertomi.com/2008/03/14/seks-midnite-gadis-gadis-burespang/</guid>
		<description><![CDATA[Sebagian pramusaji bar-karaoke bekerja dobel sebagai penjaja cinta profesional. Modus operandinya dilakukan usai jam kerja. Istilah ngetopnya Burespang. Ada juga Burescin dan Bureskor. Target utamanya, berburu Dollar! Selepas pukul 01.00 WIB dini hari, kawasan Melawai di wilayah Jakarta Selatan, ramai bak pasar malam. Puluhan taksi antri panjang menunggu penumpang, sementara mobil-mobil pribadi hilir mudik silih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fwww.doktertomi.com%2F2008%2F03%2F14%2Fseks-midnite-gadis-gadis-burespang%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=tahoma&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:23px"></iframe></div>
<p>Sebagian pramusaji bar-karaoke bekerja dobel sebagai penjaja cinta profesional. Modus operandinya dilakukan usai jam kerja. Istilah ngetopnya Burespang. Ada juga Burescin dan Bureskor. Target utamanya, berburu Dollar!</p>
<p>Selepas pukul 01.00 WIB dini hari, kawasan Melawai di wilayah Jakarta Selatan, ramai bak pasar malam. Puluhan taksi antri panjang menunggu penumpang, sementara mobil-mobil pribadi hilir mudik silih berganti keluar masuk pelataran parkir. Ada juga mobil-mobil jemputan yang standby menunggu di luar. Kawasan yang terkenal dengan tempat-tempat hiburan malam, terutama restoran plus karaoke khas Jepang, Cina dan Korea itu berhias bak perawan malam. Suara-suara manja beberapa gadis berbusana ketat terdengar di malam dini. Dari pintu klub DS, muncul tiga gadis cantik bersamaan. Mereka adalah Dona (24), Risca (23) dan Yanti (23), sebut saja begitu. Aha, mereka rata-rata berpenam-pilan seksi. Dona mengenakan rok mini dengan baju belahan di dada menonjol. Risca membalut betisnya dengan celana jins dan kaos bertali satu yang memperlihatkan perut dan pusar. Sementara Yanti mem-bungkus tubuhnya dengan kemben dan celana ketat. Sementar rambutnya dibiar-kan terurai jatuh menutup bahunya. Tentu saja mereka bukan remaja ABG yang baru saja dari kafe-kafe gaul. Atau sejumlah anak-anak gaul yang baru saja berajojing ria di lantai disko. Tidak sama sekali!. Mereka tak lain adalah gadis pramusaji yang saban malam menemani tamu di pub-karaoke. Tawa renyah menyembul. Tiga pria, rupanya sudah menunggu mereka di dalam mobil.</p>
<p>&#8220;Hallo? Kita langsung cabut saja ya?&#8221; Dona menjatuh diri di kursi mobil. Aneka mobil yang menjejali area parkir di kawasan Melawai itu amat beragam. Dari kelas mini bus sampai mobil mewah. Selain Dona, Risca dan Yanti, tampak juga puluhan gadis yang baru saja pulang kerja. Sebagian ada yang langsung masuk ke mobil jemputan, sebagian lagi tampak asyik bercengkrama di luar sambil menikmati aneka makanan yang ditawarkan penjaja kaki lima yang tersebar hampir di tiap sudut jalan. Mobil-mobil lain banyak juga yang hilir mudik. Penumpangnya rata-rata lelaki. Sorot mata mereka menebar pandangan. Dan ketika berpapasan dengan gadis-gadis cantik, terdengar suara tawaran mengajak. Ada juga yang keluar pub-karaoke dengan pasangannya dan langsung menuju mobil pribadi. Burespang &amp; Bureskor. Suasana pagi dini hari itu adalah gambaran sekilas tentang Burespang, kepanjangan bubaran restoran Jepang. Entah darimana istilah itu. Yang jelas, sebutan itu menjadi bahasa baku bagi kaum laki-laki yang hendak mencoba berpetualang di waktu malam mencari gadis-gadis cantik. Gadis-gadis cantik itu tentu saja berasal dari pub-karaoke. Bagi laki-laki petualang, gadis-gadis itu sudah tak asing kebanyakan punya profesi ganda. Pertama, ya sebagai lady-escort atau pramusaji restoran-karaoke. Kedua, sebagai wanita yang siap menerima transaksi seksual. Selama jam kerja, mereka bertugas melayani tamu yang datang dari belahan penjuru negara di Asia. Dari Jepang, Korea, Taiwan sampai Cina. Tentu saja, laki-laki pribumi pun tak ketinggalan menjadi tamu setia. Tugas utama mereka sebenarnya, hanya melayani tamu di sofa dan membuat mereka spend-money untuk minuman sebanyak-banyak. Selama menemani, mereka diperbolehkan untuk ikut makan dan minum selama dalam batas kewajaran. Artinya, jangan sampai ikutan mabuk bersama tamu.</p>
<p>Di kawasan Melawai dan Mangga Besar, mereka ini usai restoran tutup biasanya telah siap menunggu antrean mobil-mobil dari berbagai merek yang para lelaki di dalamnya siap mengajak mereka berkelana ke negeri passion. Para lelaki petualang itu punya bahasa slank yang memudahkan komunikasi di antara sesama &#8216;penderma&#8217; Dollar. Kalau Anda tahu apa itu &#8216;Burespang&#8217; dan &#8216;Bureskor&#8217;, berarti Anda sudah terbiasa mengajak gadis-gadis yang sore harinya bekerja sebagai waiter di restoran. Burespang adalah Bubaran Restoran Jepang, sedangkan Bureskor adalah Bubaran Restoran Korea. Nah kalau Burescin adalah Bubaran Restoran Cina. Artinya, Burespang adalah gadis-gadis pramusaji dari restoran Jepang yang setelah usai kerja masih nyambi kerja badaniah lainnya. Berbeda dengan para wanita pekerja seksual &#8216;asli&#8217; &#8211;yang pekerjaan profesionalnya memang menjajakan pelayanan seksual&#8211; para waiter ini bolehlah disebut amatiran atau tepatnya pekerja paruh waktu alias part timer. Maksudnya, tidak setiap malam mereka mencari atau bersedia memberi pelayanan ekstra itu. Karena itu, mencari cewek Burespang atau Bureskor tidak semudah mencari pekerja seks profesional yang full-timer yang setiap saat bisa diajak kencan semalam. Tidak setiap gadis yang keluar dari restokaraoke Jepang bisa diajak kencan. Pasalnya, dalam hal memilih pasangan, mereka selektif. Mereka tidak sembarang memilih tamu. Biasanya, mereka lebih suka tamu yang sudah dikenal dan akrab, lagi-pula sudah jadi member.</p>
<p>Bagi Dona, menjalani profesi sebagai waiter di pub-resto Jepang lebih gampang menjaring uang daripada di restoran biasa. Ini dirasakan benar oleh gadis yang merantau jauh dari Palembang itu. Menurutnya, ia pernah bekerja sebagai di resto-kafe. Pendapatan sebulan dari gaji plus tip tamu, akunya, tidak sampai Rp. 1 juta. &#8220;Padahal, duit segitu di Jakarta apalah artinya,&#8221; ceplos gadis yang gemar dengan baju-baju seksi itu. Nah, begitu ia bekerja di pub DS, ia mendapatkan uang lebih besar. DS yang saban malam selalu dipenuhi pria-pria ekspatriat dari Jepang, Korea dan Cina itu memang menjanjikan rezeki berlimpah. Menurutnya, tips yang diberikan tamu, jauh dari gaji per bulan. &#8220;Pinter-pinternya kita aja merayu tamu,&#8221; ungkapnya. Keuntungan ganda sering didapat di DS. Masalahnya, makin besar tamu mengeluarkan uang untuk makan dan minum, bonus yang diterimanya juga makin besar. &#8220;Tips tidak masuk hitungan kasir. Langsung masuk kantong pribadi dong, masak masuk &#8220;kantong&#8221; yang lain,&#8221; kilahnya, setengah bercanda.</p>
<p>Bagaimana dengan transaksi seks? Ia mengakui, tuntutan itu selalu ada. Tapi, ia tidak mesti menuruti keinginan semua tamu. Artinya, ia punya beberapa pertimbangan. Ujung-ujungnya sih ke duit juga. &#8220;Kalau mau bayar US$100-200, biar jelek, ya masak ditolak,&#8221; aku gadis berdada besar ini. Namun ranjang memang bukan segalagalanya. Dengan sedikit berargumen ia mengatakan, transaksi cinta baru ia akan lakukan kalau kebutuhan hidup makin meningkat. &#8220;Ya nggak harus ranjang melulu. Toh, di karaoke kalau kita pinter, dapatnya gede juga,&#8221; tandasnya. Lain lagi dengan Risca. Gadis kelahiran Jakarta, 24 tahun itu, termasuk primadona di MJ, pub-karaoke di Melawai. Meski tidak terlalu tinggi, hanya 162 cm, tapi ia memiliki tubuh seksi dan wajah yang selintas mirip Cina keturunan. Karuan saja, Risca punya member-guest yang lumayan banyak. &#8220;Kebanyakan dari Korea dan Jepang,&#8221; ungkapnya. Dengan terus terang ia mengakui, selama menjalani tugas sebagai lady escort yang tugasnya tak ubahnya seperti pramusaji, tak jarang ia juga sering menerima job luar. Artinya, setelah jam kerja ia siap menerima ajakan kencan. &#8220;Asal sesuai permintaan kenapa tidak?&#8221; sergahnya, menantang.</p>
<p>Punya wajah cantik cukup menguntungkan Risca. Terbukti tak jarang ia diajak tamunya ikut bepergian ke luar negeri. Baru-baru ini saja misalnya, ia diajak ke Singapura selama tiga minggu. Dan selama itu, ia dibayar per hari sesuai dengan tarif yang ia minta. &#8220;Satu hari saya minta US$100. Ya, itungitung hasil semalam kalau bekerja di MJ,&#8221; akunya. Di MJ sendiri statusnya hanya freelancer. Jadi, ia tidak mesti masuk tiap hari. Di MJ, dia dibawahi seorang mami, yang mengontrol jam kerja dan operasinya sehari-hari. &#8220;Seenaknya saja. Kecuali kalau memang sudah ada yang boking, jadi mesti datang. Jaga langganan,&#8221; tukas gadis berambut pendek ini.</p>
<p><strong>Pemburu Dollar.</strong></p>
<p>Semua orang sudah paham kalau restoran adalah tempat makan dan minum. Karaoke adalah tempat bernyanyi sambil nonton teve. Tetapi kalau resto dan karaoke digabung &#8211;apalagi kalau itu adalah resto-karaoke Jepang, Korea atau Cina&#8211; konotasinya bisa berbeda. Tidak hanya makan, minum dan ber-nyanyi, tapi dalam prakteknya juga bisa memperoleh jasa berlebih. Pelayanan seksual. Namanya juga bisnis, restoran tentu tak bisa hidup tanpa pelayan. Tetapi restokaraoke Jepang, Korea, Cina ini, benarbenar akan ditinggalkan pelanggan kalau tak menyediakan waitress-plus. Dan boleh jadi, omset yang diraup oleh para waiter ini tak kalah tingginya dengan yang resmi didapat pihak restoran. Keberadaan mereka boleh jadi masuk dalam kategori &#8216;prostitusi&#8217; terselubung. Resminya, mereka ini tugasnya hanya menemani tamu sitting, tak hanya menemani ngobrol tapi juga &#8216;merayu&#8217; untuk terus menerus minum. Yang tidak resmi, ya pelayanan seksual itu tadi. Aktivitas resto-karaoke ini mulai marak dan sejak pukul 21.00 WIB. Sementara para waiter itu sendiri sudah mulai masuk kerja pukul 19.00.</p>
<p>Waktu bekerja di resto Jepang, Korea dan Cina ini, memang berbeda dengan waktu kerja restoran biasa yang sejak sore sudah buka. Status para &#8216;waiter plus&#8217; ini tidak selalu terdaftar sebagai pegawai atau karyawan restoran. Antara waiter yang terdaftar di Depnaker dan yang riil bekerja di restoran tersebut bisa berbeda jauh jumlahnya. Kebanyakan freelancer. Seperti Yanti, ia cuma mendaftar kepada manajer resto. Setelah sedikit petunjuk, ia langsung menjalani pekerjaan. Kalau ia merasa oke, selanjutnya bisa terus menerus &#8216;bekerja&#8217; di resto tersebut. Hebatnya, di tengah krisis yang sampai saat ini belum juga berakhir, penghasilan mereka tidak berkurang. Bahkan meningkat, akibat perbedaan nilai kurs. Maklum, sebagian besar pendapatan mereka memang dalam Dollar atau mata uang asing lainnya, terutama Yen dan Won. Bagaimana tidak kalau mayoritas tamu mereka adalah pengusaha asal negara-negara Timur Jauh atau ekspatriat lainnya. Sekali-sekali, seperti biasa, dapat rombongan pelaut dari negeri-negeri Macan Baru Asia itu.</p>
<p>Peredaran Dollar di beberapa restokaraoke sangat deras. Chaca (24), waiter resto-karaoke Korea MSK di kawasan Melawai misalnya, yang tinggal di sekitar Depok, dari profesinya sudah bisa membeli rumah, tanah, sampai mobil pribadi. Yanti malah ke mana-mana menggenggam ponsel genggam dan pulang pergi diantar supir. Uang yang dikeruknya dalam semalam bisa ratusan Dollar. Kalau pun uang itu diberikan dalam bentuk Rupiah, jumlahnya bisa mencapai ratusan ribu bahkan jutaan rupiah. Beberapa waiter-plus menyebutkan, penghasilan mereka lebih dari cukup. Adek (20), waitress di resto Jepang LL, penghasilannya memang naik turun, tidak sama setiap malam. &#8220;Karena duit itu diperoleh dari besarnya tips yang diberikan tamu,&#8221; tandasnya. Lajang yang tinggal di kawasan Slipi ini menyebutkan, tugas intinya hanya menemani tamu dan membuatnya minum sebanyak-banyaknya. Dan selama bekerja, akunya, ia kerap kali mendapatkan tips dollar. &#8220;Rata-rata sih US$50-100. Pernah sih ada yang ngasih sampai US$300,&#8221; jawabnya. US$100 saja kalau dikurskan dengan Rp. 10.000, ya Rp. 1 juta,&#8221; jelasnya.</p>
<p>Apa yang dikatakan Adek, tidak beda dengan keterangan Ivon (25), teman kerjanya. Janda beranak satu yang masih sintal ini mengaku rata-rata uang tip yang masuk ke dompetnya sebesar Rp. 200-500 ribu. &#8220;Ya beberapa kali pernah dapat di atas Rp. 500 ribu,&#8221; sambungnya sambil tersenyum manja. Ehm! Dan kata Ivon, jumlah itu biasanya diberikan oleh tamu reguler yang sudah akrab. &#8220;Duitnya lebih sering Dollar. Yen, Wong, jarang-jarang. Kalau seperti sekarang, ya untung gede juga,&#8221; tambahnya, lagi-lagi sambil tertawa dan mencubit Di resto-karaoke HL di Ancol, menurut penuturan Susi (21), peredaran uang di sini lebih besar. Dalam semalam ia bisa menemani tiga sampai lima tamu. Rata-rata tip Dollar yang ia terima antara US$100-200 Dollar. &#8220;Ya, pinter-pinter aja nyenengin tamunya,&#8221; akunya blak-blakan. Jadi, sebatas menemani makan-minum tamu di resto? &#8220;Ya, tidak!&#8221; aku Eka (19), waiter di resto Korea MJ, kawasan Melawai, yang menjadi teman seprofesi, Risca. Menurut penuturan Eka, pekerjaan pokoknya memang menemani tamu di dalam resto. Tapi setelah itu, ya terserah perjanjian antara kedua belah pihak. &#8220;Kalau bayarannya gede, kenapa tidak?&#8221; tukasnya.</p>
<p><strong>Top Three.</strong></p>
<p>Kalau Anda termasuk kebanjiran dolar dan ingin &#8216;berderma&#8217; kepada para wanita yang serba seksi dan bahenol, ke mana harus mencari mereka? Paling gampang adalah menuju restoran plus karaoke. Di mana saja lokasi restoran yang menyediakan full service ini? Paling tidak ada tiga lokasi utama yang saban hari tak pernah sepi dari serbuan para lelaki ekspatriat teman-teman anda. Kawasan Kemang? Bukan. Kemang boleh menjamur dengan kafe-kafenya, bahkan diklaim sebagai gudangnya ekspatriat (baca: barat). Tetapi Kemang tidak banyak menjanjikan pelayanan istimewa. Apalagi yang disebut istimewa itu kalau bukan wanita pramuseks. Yang paling terkenal di kawasan Selatan tentu saja kawasan Melawai atau Blok M, kemudian ada di Mangga Besar (Kota) dan yang paling ujung, ke kawasan Ancol.</p>
<p>Aktivitas kawasan Melawai ketika malam dan siang, sangat jauh berbeda. Di siang hari, Melawai dipenuhi pedagang yang menjual aneka ragam produk. Tetapi ketika bulan merangkul bumi, Melawai terasa lebih bergairah dan meriah. Tak kurang dari sepuluh restoran-karaoke yang di dalamnya dipenuhi wanita pekerja seksual. Beberapa terletak dekat toserba Golden Truly. Yang lainnya tersebar di dekat bekas diskotik sepatu roda, atau bersebelahan dengan Bank BCA. Siang hari, sebagian besar resto ini cuma buka beberapa jam di sekitar waktu lunch. Setelah itu tutup sampai maghrib. Menjelang pukul 19.00 WIB pun, baru satu-dua tamu datang. Akan tetapi di akhir waktu dinner, tamu malah ramai datang berbarengan. Sambil supper, mereka ditemani &#8216;pelayan restoran&#8217; sambil berkaraoke ria. Ajaibnya, meski berstatus waiter, namun mereka bisa saja meninggalkan restoran untuk pergi bersama tamu, entah ke mana. Atau menghabiskan malam dan dini hari di restokaraoke, lalu begitu resto tutup, waiter itu bertandang ke tempat tertentu bersama tamu yang sedari tadi ditemaninya.</p>
<p>Dari sisi fisik, sebagian resto-karaoke ini tak ubahnya restoran biasa. Malah ada yang bangunannya seperti ruko. Akan tetapi sebagian yang lain serba gelap, tak mirip sama sekali dengan restoran yang biasanya serba terbuka. Bukan hanya ber-kaca gelap, tapi pintu pun selalu tertutup. Seakan-akan tidak menerima tamu. Satu-satunya penanda bahwa itu adalah resto adalah pengumuman dalam bahasa Jepang atau Korea. Interior resto-karaoke ini umumnya agak belepotan. Tidak seperti umumnya kafe yang konsep tata-ruangnya jelas dan tunggal, resto-karaoke ini biasanya serba gado-gado atau norak. Sedangkan restokaraoke yang kebanyakan menerima tamu asal Jepang, Korea, Hongkong dan Taiwan, biasanya memajang pernik-pernik khas kultur Jepang atau Cina, seperti lukisan vertikal serba bambu. Lucunya, meski di depan kelihatan sebagai resto Jepang atau Korea, hiasannya berkultur Cina. Karakter resto-karaoke yang serba gelap dan semi tertutup ini juga menjamur pula di kawasan Mangga Besar. Kadang-kadang, ada penanda lain yang menggampangkan anda untuk menuding apakah resto-karaoke itu menyediakan wanita pekerja seksual atau tidak. Satu-dua resto tersebut memasang pengumuman di depan pintu masuk. Biasanya dalam bahasa Inggris, disertai bahasa Jepang atau Mandarin. &#8220;You must be over 21 years!&#8221;</p>
<p>Ketertutupan resto-karaoke ini juga sudah jamak di kawasan Ancol. Hanya saja, biasa-nya tulisan karaoke yang terpampang di dinding luar, sengaja dibuat dari lampu neon berwarna cemerlang yang terus menerus berkedap-kedip sepanjang malam hingga dini hari. Berbeda dengan tiga tempat tersebut, resto-karaoke di kawasan Pluit jauh lebih terbuka. Siang hari, biasanya mereka juga buka seperti biasa dan dengan pengunjung yang tak kalah ramainya. Kadang-kadang, resto-karaoke ini, di siang hari, malah menjadi tempat makan sekeluarga. Beberapa resto malah menjadi favorit, karena hidangannya memang enak. Kebanyakan resto-karaoke di Pluit ini untuk mereka yang berbahasa mandarin, entah memang ekspatriat atau pengusaha asal Taiwan, Hongkong, Makao, Cina atau ya pengusaha yang tinggal sekitar Pluit sendiri. Restokaraoke ini ada yang sengaja membatasi jam beroperasinya. Bagaikan jam malam. Tetapi, kalau hasrat sudah menggenang, jam malam pun diterabas. Ya kan?</p>
<p>
<ul>
<li><a target="_blank" href="http://www.doktertomi.com" title="Free Inspirations, News, Guides, Tips and Tricks" target="_blank">Doktertomi.com</a> : Free Inspirations, News, Guides, Tips and Tricks</li>
<li><a target="_blank" href="http://www.botolempangan.info" title="Everything You Need To Know About Makassar" target="_blank">Makassar Today</a> : Everything You Need To Know About Makassar</li>
<li><a target="_blank" href="http://www.masterbiznet.com" title="Masternya Bisnis Internet" target="_blank">Masterbiznet.com</a> : Masternya Bisnis Internet</li>
<li><a target="_blank" href="http://www.workinthewebsite.com" title="News, Guides, Tips and Tricks on Website Monitization and Advertising" target="_blank">Work in The Website</a> : News, Guides, Tips and Tricks on Website Monitization and Advertising</li>
</ul>


<div class="shr-bookmarks shr-bookmarks-expand shr-bookmarks-center shr-bookmarks-bg-shr">
<ul class="socials">
		<li class="shr-blogger">
			<a href="http://www.blogger.com/blog_this.pyra?t&amp;u=http://www.doktertomi.com/2008/03/14/seks-midnite-gadis-gadis-burespang/&amp;n=Seks+Midnite+Gadis-Gadis+Burespang&amp;pli=1" rel="nofollow" class="external" title="Blog this on Blogger">Blog this on Blogger</a>
		</li>
		<li class="shr-comfeed">
			<a href="http://www.doktertomi.com/2008/03/14/seks-midnite-gadis-gadis-burespang/feed" rel="nofollow" class="external" title="Subscribe to the comments for this post?">Subscribe to the comments for this post?</a>
		</li>
		<li class="shr-facebook">
			<a href="http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=http://www.doktertomi.com/2008/03/14/seks-midnite-gadis-gadis-burespang/&amp;t=Seks+Midnite+Gadis-Gadis+Burespang" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Facebook">Share this on Facebook</a>
		</li>
		<li class="shr-myspace">
			<a href="http://www.myspace.com/Modules/PostTo/Pages/?u=http://www.doktertomi.com/2008/03/14/seks-midnite-gadis-gadis-burespang/&amp;t=Seks+Midnite+Gadis-Gadis+Burespang" rel="nofollow" class="external" title="Post this to MySpace">Post this to MySpace</a>
		</li>
		<li class="shr-technorati">
			<a href="http://technorati.com/faves?add=http://www.doktertomi.com/2008/03/14/seks-midnite-gadis-gadis-burespang/" rel="nofollow" class="external" title="Share this on Technorati">Share this on Technorati</a>
		</li>
		<li class="shr-twitter">
			<a href="http://twitter.com/home?status=Seks+Midnite+Gadis-Gadis+Burespang+-+http://b2l.me/bdx5x&amp;source=shareaholic" rel="nofollow" class="external" title="Tweet This!">Tweet This!</a>
		</li>
		<li class="shr-yahoomail">
			<a href="http://compose.mail.yahoo.com/?Subject=Seks+Midnite+Gadis-Gadis+Burespang&amp;body=Link: http://www.doktertomi.com/2008/03/14/seks-midnite-gadis-gadis-burespang/ (sent via shareaholic)%0D%0A%0D%0A----%0D%0A Sebagian%20pramusaji%20bar-karaoke%20bekerja%20dobel%20sebagai%20penjaja%20cinta%20profesional.%20Modus%20operandinya%20dilakukan%20usai%20jam%20kerja.%20Istilah%20ngetopnya%20Burespang.%20Ada%20juga%20Burescin%20dan%20Bureskor.%20Target%20utamanya%2C%20berburu%20Dollar%21Selepas%20pukul%2001.00%20WIB%20dini%20hari%2C%20kawasan%20Melawai%20di%20wilayah%20Jakarta%20Selatan%2C%20rama" rel="nofollow" class="external" title="Email this via Yahoo! Mail">Email this via Yahoo! Mail</a>
		</li>
</ul>
<div style="clear:both;"></div>
</div>

<p><img src="http://wptextads.s3.amazonaws.com/images/press/wpta-20x20.jpg" alt="WP Text Ads" border="0" /> <a rel="nofollow" href="http://www.doktertomi.com/wp-content/plugins/wptextads1/wpta.php?wpta_form=1&wpta_cmd=buy&wpta_id=1466" onclick="window.open('http://www.doktertomi.com/wp-content/plugins/wptextads1/wpta.php?wpta_form=1&wpta_cmd=buy&wpta_id=1466', 'nehemiah_window', 'width=550,height=530,scrollbars,resizable'); return false;">Want visitors to your site? Buy an ad here.</a></p><img src="http://www.doktertomi.com/?ak_action=api_record_view&id=1466&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.doktertomi.com/2008/03/14/seks-midnite-gadis-gadis-burespang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
