Tukar Kelamin Party Of The Year

March 16, 2008 by antz  
Filed under Jakarta Undercover : Sex n' The City

Leave a comment
Popularity: 12% [?]

Vesta masygul kaum gay di kalangan jetset. Berdandan ala bintang sensual Hollywood dengan hadiah berlibur ke Hawai. Penyelenggaranya justeru wanita terhormat dari keluarga kaya raya. Sebenarnya pesta kaum gay sudah beberapa kali kami lihat dan saksikan.

Di diskotek di Jl MG, Jakarta Barat atau kafe LJ di Jakarta Selatan, secara rutin, walau-pun tanpa publikasi, pesta para laki-laki ‘kemayu’ itu berlangsung meriah. Di situlah, para lelaki homoseksual bertemu dan mencari pasangan. Di kafe LJ malah ada keunikan sendiri. Karena ternyata, pengunjung wanita tak kalah membludak dibanding laki-laki gay. Tapi kali ini, pesta sejenis justru diselenggarakan di rumah pribadi. Dan pemiliknya kami kenal sebagai wanita normal dan terhormat. Ny Erika (31), nama disamarkan, yang bergerak di ladang bisnis garmen dan mempunya beberapa butik elit di Jakarta. Suaminya, Bagus (39), seorang pengusaha dari kalangan pria keturunan yang membidangi bisnis ekspor-impor orderdil mobil. Punya wajah lumayan ganteng dan termasuk pria normal. “Ini pesta khusus dan terbatas, Gay Night Party 2002,” ujar Erika ketika kami konfirmasi-kan lewat telepon.

Tukar Kelamin.

Malam Sabtu, pukul 22.00 WIB, kami berada di Jl. DL, daerah pemukiman elit di kawasan GT. Tak jauh dari sini, terdapat sebuah rumah bergaya Romawi yang dikelilingi tembok setinggi 4 meter dan pintu gerbang kayu dengan ukiran gambar naga. Ruang tamu seluas 9 X 9 meter persegi disulap menjadi ballroom. Ada sekitar 20 tamu sudah berkumpul di bawah siraman lampu yang cukup terang. Tapi yang menarik, tamu wanita berdandan laki, sedangkan laki-laki berdandan wanita. Kalau saja mereka hanya kaum gay, boleh jadi lumrah. Tapi, Ny Erika, hampir tak kami kenali. Malam itu, wanita yang dikenal di kalangan selebritis sampai ibu-ibu pejabat itu tampil dengan busana khas laki-laki. Kemeja putih dipadu celana hitam dengan topi Charlie Caplin di kepala. Kumis tipis palsu menghias di atas bibirnya yang tanpa polesan lipstick. Tangan kanan mencengkeram sebilah tongkat, sementara tangan kiri memegang cerutu. Sedangkan suaminya, Bagus mengenakan kemben putih dengan kain melilit di sepanjang kaki. Bibirnya disepuh lipstick merah. Begitu juga dengan sejumlah tamu lain. “Malam ini kita ‘tukar kelamin’, he he,” celetuk Erika. “Kalau mau ikut, ada baju di kamar.”

Kami menggelegak. Inikah rupanya keunikan pesta ini. Tapi unik apanya? Di garden terrace memang sedikitnya ada 12 tamu wanita. Ah, bukan wanita murni. Mereka pria berbadan atletis tapi gaya bicaranya lemah gemulai. Semua berdandan layaknya wanita. Dan mereka pun mengenakan busana wanita yang serba gemerlap. Ada juga sedikitnya 5 orang wanita betulan berdandan laki-laki. Di antara sekian tamu undangan, kami tertarik dengan tiga tamu yang mengenakan busana khas bintang Hollywood. Erika mengenalkan tiga tamu sebagai Jojo (24), Raymond (26), Priambudi (29) dan Anton (25). Keempat pria itu di dunia model cukup populer. Jojo kerap muncul dalam beberapa peragaan fashion. Pria berkulit putih dan dalam kesehariannya selalu tampil trendy adalah salah satu mantan peraih predikat cover boy pada 1998. Namun sudah menjadi rahasia umum, kalau Jojo bukan pria yang punya perilaku seks normal. Ia termasuk kelompok pria gay. Gosip yang beredar tentang hubungan cintanya dengan salah seorang desainer terkenal, kerap menjadi perbincangan media masa maupun kalangan model. Dalam suatu kesempatan, sebelum pesta dimulai, Jojo sempat ‘curhat’ pada kami ihwal hubungannya dengan desiner terkenal itu. Katanya, ia lagi sedih lantaran hubungannya sudah tidak harmonis lagi. Bahkan terakhir, hubungan itu bubar. “Cowok gue kepelet sama lekong Blok M,” ungkapnya kesal. Gara-gara ‘lekong’ (baca=pria) itulah, lanjut Jojo, hubungannya berantakan. “Padahal, dibanding gue, dia tidak ada apa-apanya. Makanya, kalau gue bilang, lekong gue kena pelet,” tandasnya penuh percaya diri.

Sementara Priambudi sendiri selama kurang lebih tiga tahun menjadi asisten seorang desainer kenamaan. Pria berkulit hitam sawo matang dan berbadan atletis itu kini punya bisnis sendiri. Katanya, ia sudah hengkang dari ‘bos’nya dan memilih berjalan sendiri. “Sudah satu tahun ini, aku di Afrika,” akunya. Di negara itu, ujarnya, ia sibuk membuat acara fashion kelas internasional. “Bulan-bulan ini, aku lagi mempersiapkan/fashion kelas dunia. Nelson Mandela sendiri yang minta. Sekarang aku lagi liburan di Indonesia,” ungkapnya meyakinkan. Berbeda dengan Priambudi dan Anton. Pria keturunan itu, memang bukan model. Tapi dalam kesehariannya, mereka bergaul dengan beberapa pria model. Jojo dan Raymond adalah dua diantara teman-teman terdekatnya. Mereka dalam ke-sehariannya tetap berperilaku seperti laki-laki kebanyakan. Siapa sangka kalau dalam kehidupan yang sebenarnya, mereka adalah pria yang suka sesama jenis. Kalau diamati sekilas, badan mereka tegap dan berisi. Tidak tampak citra ‘gemulai’ layak-nya wanita. Wajah tampan dan selalu ber-usaha tampil prima. Yang membedakan barangkali dari cara mereka berbicara yang kadang-kadang begitu terdengar lembut dan gemulai. Apalagi kalau pembicaraan itu terjadi antara ‘gank’ mereka. Tapi malam itu, mereka berubah menjadi wanita. Yang berjenis kelamin pria menjadi wanita, sementara wanitanya menjadi pria. Jojo, Raymond dan Priambudi malah tampak seperti wanita betulan. Gaya dan penampilan mereka dalam keseharian yang memang lebih banyak mencerminkan jiwa kewanitaannya, makin lengkap begitu tubuhnya terbungkus gaun-gaun pesta. Sementara beberapa wanita yang berdandan ala pria, tak kalah hebohnya. Mereka berkumpul di ruang tamu yang sudah disulap menjadi mini ball-room di bawah siraman lampu terang.

Kontes Hollywood.

Pesta dimulai dengan dinner yang dilanjutkan dengan acara pembukaan botol white wine, red wine dan beragam jenis minuman beralkohol lain. Dengan diiringi musikmusik berirama RnB dan Classic Disco, mereka mulai menenggak minuman sampai tidak ada sisa botol yang tersisa. “Minum dulu yang banyak biar tambah pede,” ceplos Jojo. Erika dan suaminya yang bertindak sebagai tuan rumah, dengan ramah mempersilakan tamu sekaligus temantemannya itu untuk menikmati aneka suguhan yang dihidangkan. Selang sepuluh menit kemudian, dari arah pintu masuk muncul dua pasang priawanita. Erika memperkenalkan mereka sebagai adik-adiknya. Sama seperti dandanan Erika dan suaminya, dua pasangan itu berdandan terbalik. Si wanita mengenakan baju pria, sementara prianya dengan baju wanita. Mereka segera disambut tamutamu undangan lain dengan tawa meriah. Acara dinner plus minum-minum berlangsung sekitar satu jam. Mendekati pukul 23.00 WIB, Erika mengundang semua kontestan untuk berkumpul di ruang tamu.

Begitu terkumpul, kami menyaksikan pemandangan yang lain dari biasanya. Bayangan pertama kami selintas lalu ingat akanbeberapa ‘pria punya selera’ yang saban malam kerap menjajakan diri di ka-wasan Taman Lawang. Tapi, sama sekali mereka yang di sini tampil beda. Baju yang mereka kenakan rata-rata bermerek. Jojo mengenakan busana khas Solo. Kain melilit dengan kebaya, sementara di kepala ada gelungan dengan hiasan bunga melati layaknya puteri keraton. Bibirnya disepuh lisptick merah. Tangannya memegang sebuah kipas bermotif bunga-bunga. Di sudut lain tampak Raymond dengan busana ala Madona dalam film In The Bed With Madonna. Seksi karena ada beberapa bagian tubuh yang terbuka lebar. Priambudi berubah dengan dandanan ala penyanyi Cher. Gaun yang dikenakan ber-warna hitam lengkap dengan asesoris bulu panjang dan belahan lebar di punggung. Yang paling berani adalah Anton. Ia hanya mengenakan baju bikini serba hitam seperti yang dikenakan Demi More dalam film Striptease. Kulit kuning langsatnya tampak bersih tanpa cacat. Rambutnya dicat pirang dengan polesan lipstick hitam di bibir. Tamu-tamu undangan lain tak kalah beraninya. Ada yang berdandan persis Broke Shield. Seorang pria berkulit hitam yang berdiri tak jauh dari Jojo malah nekad meniru dandanan model Pamela Anderson dalam serial VIP. Entah bagaimana caranya, dua payudara pria itu tampak begitu menonjol di belahan baju warna pink yang ia kenakan. Suami Erika dan dua adik istrinya yang merubah kelamin menjadi wanita, tampak masih malu-malu. Erika sendiri bersama dua adiknya, ikut bergabung bersama kontestan.

Kontes terbagi menjadi dua. Pertama, mereka yang memilih untuk mengikuti lomba catwalk dan kedua, mereka yang lebih suka lipsing dengan membawakan lagu pilihan. Sebelum kontes dimulai, Erika lebih dahulu mengumumkan tiga juri yang akan menilai. Hadiah utama yang di-perebutkan malam itu adalah berlibur selama satu minggu ke Hawai. Bertepatan dengan jarum jam menunjuk pukul 23.15 WIB lomba catwalk dimulai. Mula-mula seluruh kontestan naik ke lantai satu. Lampu tetap dibiarkan menyala terang. Selang beberapa menit kemudian, satu per satu sekitar 12 kontestan mulai menuruni anak tangga dengan gaya dan aksi. Lagu-lagu populer seperti Mambo No.5, Bailamos, If You Had May Love, No Scrub dan Genie In The Bottle menjadi pengiring selama catwalk. Menyaksikan mereka berjalan, tak ubahnya seperti menonton fashion show betulan. Jojo yang memang berprofesi sebagai model, dengan manisnya menggerakkan kaki, menari, melenggok dengan indah. Kipas di tangannya sesekali mengudara bergerak dinamis. Begitu juga dengan kontestan-kontestan yang lain. Dua adik Erika bersama suaminya, ikut dalam sesi pertama ini. Dengan sedikit malu-malu, mereka berusaha tampil maksimal. Tentu saja mereka hanya sebagai peserta pelengkap. Aksi mereka yang tak lebih dari 2 menit itu, menjadi ‘lawakan’ segar.

Sesi kedua menjadi kontes yang paling heboh. Kali ini, pertunjukan dengan cara one man show. Mula-mula, Raymond tampil dengan diiringi lagu Take A Bow milik Madonna. Dengan tarian erotis, Raymond mengekspresikan gaya dan aksi Madonna ketika di atas panggung. Genit, liar dan berani. Menjelang akhir lagu, Raymond mulai mempreteli satu per satu baju yang melekat di badannya hingga tinggal bra dan celana dalam yang tersisa. Tamu yang datang bersorak histeris menyaksikan ulah Raymond. Tak kalah beraninya adalah aksi Priambudi. Dengan dandanan ala Cher, ia beraksi dan berakting dengan menyanyikan lagu Believe. Belahan menganga di punggung Priambudi tampak mengalir keringat. Aksesoris bulu yang melingkar di sekujur tubuhnya, dikipas ke kanan ke kiri. Bulubulu itu sebagian rontok dan beter-bangan di lantai marmer. Untuk membuat aksinya makin panas, ia membubuhi goyangannya dengan gerakan ala striptis yang vulgar. Tamu yang memenuhi ruang tamu berulang kali bersorak memberikan applaus panjang. Di tengah sorak yang menggema, Jojo maju ke tengah mendekati Priambudi sambil membawa segelas white wine. Dengan senyum cerah ia menyambut segela white wine itu dan meneguknya separuh. Dengan gelas di tangan, ia menuang sisanya ke beberapa bagian tubuhnya. Keringat dan wine bercampur jadi satu. Para tamu yang datang hanya membelakkan mata disertai tawa menyaksikan ulah Priambudi. Aksi Anton menjadi klimaks dari pesta gay itu. Dengan iringan lagu house-music, ia menari dengan gerakan dan liukan striptis. Badannya yang hanya dibalut bikini, tak ubahnya seperti penari-penari profe-sional yang bisa menyuguhkan ‘tarian syahwat’ di beberapa tempat hiburan ‘mesum’ di Jakarta. Dari balik bra yang dikenakan, ia mengeluarkan sebungkus cairan. Dengan perlahan dan gerakan genit, ia mulai mengoleskan carian minyak itu ke seluruh tubuh. Sesekali, tangannya dengan genit menarik celana mini yang membungkus auratnya. Tapi hanya sepa-ruh, pada gerakan berikut, ia kembali menarik celana mini itu pada posisi semula. Dan dengan berani, ia mendekati beberapa tamu, berjoget vulgar. Selama hampir sepuluh menit, Anton membuat tamu undangan lain, tak tahan untuk tidak berteriak. Beberapa tamu di antaranya, sampai terbengong-bengong.

Erica yang berkumpul bersama saudara-saudaranya, tak ada henti-henti tertawa lepas. Persis menginjak pukul 00.00 WIB, Erica meminta semua kontestan untuk berhenti beraktifitas. Mereka berkumpul membentuk lingkaran. Dipimpin Raymond, mereka berdoa di penghujung tahun 2001. “Meski hari ini, kita berdandan seperti ini, tapi kami yakin, Tuhan tidak melihat penampilan saja, tapi hati kita. Semoga kita bisa lebih bahagia dan sukses di tahun 2002.” Begitulah garis besar doa yang mereka panjatkan. Suasana haru itu tak berlangsung lama. Berikutnya, musik dan tawa meledak. Meski kontes telah usai dan tinggal menanti saat pengumuman pemenang, musik terus saja diputar dan semua tamu bergoyang. Pada saat itulah, dari arah pintu masuk, muncul penyanyi wanita kenamaan MA, yang sempat menelorkan lagu hit jenis pop di tahun 1998. Kehadiran MA disambut beberapa tamu kontestan. Rupanya, MA juga tak asing dengan Jojo, Raymond dan Anton. Ia pun segera ikut bergabung di tengah kerumunan tamu yang berubah ‘kelamin’ itu. Satu-satunya yang tidak merubah diri, ya MA. Maklum, katanya ia baru saja menyanyi di salah satu ‘kafe’ di Jakarta, jadi terpaksa ia masih mengenakan gaun pentas.

Untuk menyambut MA, Anton bersama Raymond mempersembahkan tarian ‘gila’ yang tak kalah vulgar. Menyaksikan gerak-gerik mereka, MA berulang tertawa terbahak hingga matanya basah. Pada saat Anton beraksi dengan tarian erotis, dua pria mengenakan celana dan kaos ketat muncul dari pintu masuk. Dua pria ber-wajah klimis itu langsung disambut Jojo, Priambudi dan Raymond. Ah, rupanya, dua pria itu ‘pacar’ tetap Anton dan Priambudi. Melihat ‘pacarnya’ datang. Anton mengendorkan aksinya. Keringat deras membasahi tubuhnya yang hanya terbalut beberapa helai baju. Ia menghampiri pacarnya dan memberikan ciuman mesra seperti yang biasa dilakukan pasangan muda-mudi yang lagi kasmaran. Tawa, musik dan denting minuman terus saja merangsak malam hingga dini menjelang. Anton tersenyum lega karena tiket ke berlibur seminggu di Hawaii berada di genggaman. Ia duduk bersama pacarnya di kursi sofa. Sementara Jojo, Raymond dan Priambudi, masing-masing mendapat uang cash Rp. 3 juta. “Lumayan, itung-itung buat ganti ongkos make-up dan baju,” sergah Priambudi.

Gay Jetset.

Dalam pesta gay itu, Jojo, Raymond, Priambudi, Anton dan beberapa gay yang lain, tampak begitu bebas mengekspresikan diri. Mereka begitu merdeka melakukan apa yang mereka inginkan. Kalau selama ini kaum gay kebanyakan menutup diri, maka yang kami saksikan malam itu benar-benar beda. Erika bersama suami dan adik-adiknya yang ratarata berperilaku seks normal, dengan senang hati membuka diri terhadap kelom-pok mereka. Dalam pesta itu, mereka diterima apa adanya. Mereka dibiarkan berekspresi tanpa melihat faktor perbedaan seksual. Tidak hanya itu, tamu-tamu lain yang notabene berperilaku seks normal, ikut bergabung bersama mereka dalam suasana pesta yang lepas dan penuh suasana keakraban. Dalam ukuran strata sosial, mereka termasuk dari keluarga the have. Malah boleh dibilang, dari segi kekayaan, orang tua mereka serba berkecukupan. Tidak heran, kalau Jojo, Raymond, Priambudi dan Anton tidak begitu susah dalam hal uang. Saban hari bermobil, makan dan minum di kafekafe elit dan mengenakan baju bermerek. Tapi dalam hal bergaul, mereka tetap memilih. Mereka lebih suka berada bersama kalangan yang punya perilaku seks senasib. Bukan soal berani apa tidak berani kalau sosok seperti Jojo lebih suka berada di ‘kelompok’nya sendiri. Begitu juga dengan Raymond, Priambudi dan Anton. Bagi Jojo, apa yang ia lakukan bersama teman-teman satu gank bukan ekslusif. “Kami bukan tidak tahu. Orang seperti kami ini belum sepenuhnya diterima semua kalangan,” ungkapnya. Menurut Jojo, di kultur Timur, gay itu masih dianggap aneh dan menyalahi norma. “Siapa yang ingin dilahirkan seperti gue. Kalau disuruh milih, gue juga pengen seperti pria-pria normal,” sambungnya.

Ungkapan senada juga dilontarkan Raymond dan Priambudi. Mereka mengakui kalau tanda-tanda menuju ke gay itu sudah ada sejak dulu. “Jadi, bukan karena ikut-ikutan,” sergahnya. Kalau ternyata, lanjut mereka, sampai kini, masyarakat belum bisa menerima kehadirannya, mereka hanya bisa pasrah saja. “Mau ngomong apa. Di sini, siapa yang berani mengaku gay secara blak-blakan. Paling satu dua. Karena bagaimanapun, di sini, gay belum diterima. Kami nggak mau juga dikucilkan,” tandas mereka. Pesta gay yang diadakan Erika itu, bagi mereka dianggap sebagai satu bentuk penghormatan dan penghargaan terhadap mereka. Bagaimanapun, timpal Anton, mereka juga makhluk Tuhan yang membutuhkan perlakuan yang sama. “Kalau orang seperti Erika, mau menerima kami, itu satu penghargaan besar buat kami,” tegasnya. Entahlah!. Bisa jadi, Erika adalah salah satu wanita kaya dan terhormat yang ‘bisa’ menerima kehadiran kaum gay. Atau ia sekadar ingin membuat pesta yang berbeda dari biasanya. Karena baginya, pesta hura-hura antar teman seprofesi dan sejawat, sudah biasa.

Popularity: 12% [?]

WP Text Ads Want visitors to your site? Buy an ad here.

Comments

This website uses IntenseDebate comments, but they are not currently loaded because either your browser doesn't support JavaScript, or they didn't load fast enough.

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!