Until Drop Party Super Madame

March 13, 2008 by antz  
Filed under Jakarta Undercover : Sex n' The City

Leave a comment
Popularity: 1% [?]

Sebuah diskotek berkelas Internasional. Tersedia ruangan VIP untuk mereka yang ingin privacy. Entah dengan menenggak ecstasy atau jatuh dalam pelukan ’super madame’ berwajah khas Mandarin hingga dini hari. Dentuman musik full-house itu terus saja menghentak di dalam ruangan yang kapasitasnya muat untuk 5.000 orang. Sabtu malam, pemandangan layaknya pagelaran musik yang digelar secara apik segera tergambar. Sekitar 2-3 ribu pengun-jung berdesak-desak sambil menikmati sajian musik full-house yang berdentum memekakkan telinga. Dentuman musik itu akan lebih terasa begitu berada di tengah area dance floor. Toh, ratusan pengunjung yang berjoget, tetap asyik. Sambil terus menggoyang-goyang-kan kepala mereka melewatkan malam.

Padahal, orang normal mendengar dentuman musik yang meraung-raung dijamin pengang. Saking kerasnya, dada bisa berguncang. Toh, ratusan pengunjung yang stay-in, seperti tak menghiraukan. Mereka terus saja larut mengikuti gelom-bang irama. Sementara suasana di sekitar bar dan puluhan meja bundar yang dipajang mengelilingi area dance floor, ratusan pasang mata tak kalah asyiknya. Sambil mengamati polah tamu lain, mereka bergoyang di tempat duduk. Itu memang bukan pesta yang dirancang khusus dengan tema spesial. Tapi lebih merupakan rutinitas dari kehidupan malam di klub diskotek LM, Jakarta Barat. Lantaran suasana LM yang nyaris tak pernah sepi pengunjung, dan mereka pada umumnya selalu larut dalam gebyar suasana yang meriah, pantas kalau disebut pesta. Goyangan mereka nyaris seperti orang yang lupa daratan. Bahkan, beberapa tamu nekad mendekati sound-system yang meraung-raung keras.

Pesta yang terjadi di arena dance-floor yang luasnya mencapai setengah lapangan bola itu, meriah namun tidak murah. Tiap pengunjung mesti bayar cover charge Rp. 35 ribu per orang. Itu hanya untuk biaya masuk saja. Belum lagi harga minuman yang di atas rata-rata dan obat penyerta untuk larut dalam musik. Pesta tidak saja berlangsung di area dance floor. Di lantai satu, tepatnya di beberapa ruangan khusus, puluhan tamu pun menikmati aneka suguhan malam di LM, malah dengan pelayanan plus. Ruangan yang jumlahnya mencapai 25 buah penuh oleh tamu. Lamat terdengar canda manja beberapa gadis, bercampur dengan suara serak seorang laki-laki yang tengah menyanyi. Di ruang lain, tampak beberapa pasangan berjoget sambil memandang lepas ke bawah. Ruangan dengan jendela terbuka itu memudahkan tamu untuk melepas pandangan ke seluruh sudut lantai dance floor.

Special Room.

Pesta itu baru berjalan semarak ketika malam menjemput melewati pukul 22.00 Wib. Kami sengaja mengendarai mobil dengan kecepatan pelan di bawah 60 km per jam. Dari arah kafe GD di kawasan Senayan, kami melaju ke arah Jl. Gajah Mada di wilayah Jakarta Barat. Mudah sekali mencari LM karena lokasinya berada di pusat kota. Malah, berada di sentral bisnis dan hiburan Jakarta. Hampir di sepanjang jalan dimana terletak LM, di situ berjajar beberapa tempat hiburan malam. Pintu masuk secure parking dijejali antrean mobil. Gedung LM memang menyatu dengan beberapa counter perbelanjaan. Di atas jam 21.00 WIB kebanyakan sudah tutup. Jadi bisa ditebak, antrean mobil itu memang hendak ke LM. Persis di bawah logo LM, petugas valey yang jumlahnya tak lebih dari 10 orang itu tampak keteter me-layani tamu yang datang tak pernah henti. Kami naik lift menuju top roof bersama beberapa tamu lain. Mereka kebanyakan bermata sipit. Kalaupun ada wajah pri-bumi, paling-paling jumlahnya tidak seberapa. Beberapa sekuriti berbaju safari berjaga di pintu masuk. Tiap tamu mesti membeli cover charge sebesar Rp. 35 ribu.

Suasana meriah.

Logo LM dengan warna emas tampak menyala di bawah siraman lampu. Logo keemasan itu dipahat di tembok bercat cream dan di sisi kanan-kiri dihias patung. Ruangan LM layaknya gedung pertunjukan dengan balkon melingkar. Interiornya khas meditarian. Di beberapa sudut ruangan dihias dengan patung-patung besar. Salah satunya patung besar berbentuk kepala singa yang diletakkan di sudut kanan atas ruangan. Tangga naik ke lantai satu terbuat dari besi hitam dengan lantai warna cokelat semu hitam. Lampu-lampu berkilat warna-warni dalam ukuran besar menyorot ke seluruh ruangan. Sebelum berangkat, kami sudah janji dengan salah seorang eksekutif muda, sebut saja Ronald, 29 tahun, anak seorang pengusaha retail yang punya outlet hampir di seluruh Indonesia. Kami sengaja memilih meja yang dekat dengan pintu masuk, sedikit menjauh dari area dance floor yang sesak oleh tamu dan musik yang meraungraung. Kurang dari lima belas menit, Ronald muncul di pintu masuk. Beberapa sekuriti tampak memberi salam hormat.

Rupanya, bujangan yang doyan nongkrong di kafe dan mal itu selepas jam kerja itu cukup familiar di kalangan LM. Bersama Ronald, kami langsung menapaki tangga menuju lantai satu. Rupanya, ia sudah pesan ruangan VIP. Kami disambut langsung oleh manager floor dan langsung diantar ke ruangan. Ruangan VIP itu lebarnya tak lebih dari 10 X 10 meter persegi dilengkapi dengan kamar mandi, perlengkapan meja-kursi dan dua buah televisi 24 inci. Ruangan VIP inilah, yang menjadi daya tarik LM, selain suguhan musik dan ekslusifnya interior dalam. Bagi para triper mania, berada di area dance floor mengikuti tiap bait irama yang merangsak masuk lewat telinga barangkali lebih menantang dan enjoy. Sebagian besar memang lebih suka berjejal di area dance floor. Namun, mereka yang suka privacy, disediakan ruangan khusus. Layaknya sebuah gedung pertunjukan, ruangan khusus itu berada persis di atas area dance floor. Begitu masuk, waiter wanita langsung memberi daftar menu makanan dan minuman.

Tak lama setelah pesanan itu tersedia di meja, seorang wanita berblazer hitam muncul dengan sopan.” Apa lagi ini?” pikir kami. Ah, ternyata wanita itu seorang “mami”. Ia menawarkan beberapa gadis yang bisa menemani kami selama di ruangan VIP. Ronald hanya mengangguk dan wanita itu pergi. Rupanya, Ronald termasuk istimewa makanya dengan anggukan saja, wanita itu sudah mafhum. Sambil menunggu, kami menikmati hidangan malam sea food khas masakan Cina dan mendengarkan lagu-lagu pop melankolis di layar televisi. Sementara di televisi yang satu lagi kami disuguhi tontonan fashion show langsung dari Paris. 0 0 0 Mandarin Girl. Wanita itu datang membawa sepuluh wanita. Kami sedikit terkejut karena yang dibawa hampir berwajah Mandarin. Hanya tiga diantaranya yang berwajah khas Melayu. Mereka berdiri berjajar di depan sambil tersipu-sipu tapi tetap mengembang senyum. Ketika Mami memperkenalkan nama satu per satu, masing-masing meng-angguk.

Beberapa di antaranya malah memberi senyum manis pada Ronald. Tampak sekali kalau mereka sudah saling kenal sebelumnya. Semua mengenakan busana serba hitam. Ada yang mengenakan rok mini dipadu dengan baju U Can See atau celana ketat dengan kaos dan jaket kulit. Setengah bercanda, Ronald meminta kami memilih. Kami hanya tertawa dan menyerahkan semua urusan padanya. la berbisik pada wanita yang menjadi mami mereka. Lima orang segera keluar dari ruangan dan lima lainnya tinggal di tempat. Kelima-limanya bermata sipit. Kami kaget juga ketika Ronald mem-booking lima orang, padahal kami hanya bertiga. Rupanya, dua temannya lagi akan menyusul. Ya, sudah jadilah kami mulai membuat pesta kecil-kecilan. Bernyanyi, minum dan bercanda layaknya sepasang kekasih yang sedang dilanda asmara. Dua teman Ronald muncul juga. Keduanya langsung bergabung dan memilih pasangan masing-masing. Tiga diantara gadis yang menemani kami malam itu bernama Carol (22), Aling (24) dan Icha (24), sebut saja begitu. Dua lainnya, kami tak begitu ingat.

Selama berada di ruang VIP, kami terlibat duduk satu sofa dengan Carol dan Aling. Sementara Ronald dan dua temannya asyik dengan pasangan mereka. Pesta kecilan-kecilan segera digelar. Dari nyanyi bareng sampai menenggak alkohol. Ekspresi kemanjaan, rayuan, yang semuanya penuh daya goda tump ah dari Icha Cs. Ya, apalagi yang mereka harapkan kalau tidak berusaha mendapat tip dalam jumlah besar. Maklum, tarif per jam mereka untuk menemani tamu tak lebih dari Rp. 75 ribu. Darimana lagi mereka mengeruk uang kalau tidak dengan mengeluarkan rayuan maut disertai tingkah menggoda. Beberapa percakapan kecil yang kami lakukan dengan Carol dan Aling rupanya sarat informasi. Terutama ihwal dominasi gadis Cina yang menjadi ladies-night LM. Kami jadi tahu kalau jumlah teman satu profesi mereka mencapai angka 100. Penasaran, kami iseng-iseng mendekati Ronald dan menanyakan apakah di LM juga disediakan ruang display. Tapi dia menggelengkan kepala. Ia mengatakan, kalau ingin tahu lebih jauh soal LM terutama wanitanya, ia akan memanggil salah satu mami dari wanita-wanita itu. Kami mengiyakan.

Dan tak kurang dari lima menit, wanita yang tadi mengantar Carol dan Aling serta ketiga temannya datang. Kepada wanita itu, Ronald hanya mengatakan, kalau kami ingin melihat koleksi wanita LM dan pelayanan lain. Tampaknya, Ronald benar-benar member guest VIP. Terbukti, tanpa berkeberatan, wanita itu langsung mengiyakan. Kami turun tangga menuju area dance floor. Jam sudah lewat pukul 00.00 WIB. Suasana makin riuh. Gemuruh musik full house benar-benar memekakkan telinga. Kami terpaksa melewati kerumunan tamu yang berjubel di sana-sini. Setelah melewati bar, kami menemukan pintu masuk bertuliskan selain karyawan dilarang masuk. Begitu terkuak, astaga, pemandangan yang tampak tak lain puluhan wanita dalam busana serba hitam. Ada yang asyik bercanda, tertawa. Ada juga yang menikmati sajian acara di layar televisi. Yang membuat kami terkejut, mereka banyak yang berwajah khas Mandarin. Tentu saja, wajah Melayu ada, tapi jumlahnya tidak begitu banyak.

Dalam taksiran kami, saat itu sedikitnya ada 40 wanita. Sebagian besar memang sedang menjalankan tugas. Maklum, malam Minggu jadwal bokingan penuh. Kami hanya bisa melihat mereka dari jarak sekitar 3 meter. Di dalam ruangan yang luasnya sekitar 12 X 12 meter persegi itu, memang tidak skat penghalang. Jadi pandangan dengan leluasa bisa mengamati gerak-gerik mereka. Kedatangan kami tentu saja dalam perkiraan mereka isti-mewa, karena tidak semua tamu bisa langsung memilih pasangannya dengan bertandang ke ruangan khusus itu. Tentu saja kami tidak bisa berlama-lama berada dalam ruangan khusus itu. Aktifitas transaksi boking berjalan dari menit ke menit. Berulang kali kami berpapasan dengan beberapa orang mami yang mengantar anak didiknya. Sekali jalan, satu mami bisa membawa 4-5 orang. Akhirnya kami putuskan untuk kembali ke ruang VIP bersama Ronald Cs. Ruangan utama LM makin malam makin penuh sesak. Untuk berjalan saja, tamu mesti melewati kerumunan tamu. Mau tidak mau, terjadi adu gesek yang berkesinambungan antara tamu yang satu dengan tamu lain. Pemandangan itu berjalan terus menerus.

Pemandangan yang tampak malam itu tak ubahnya seperti pesta. Ratusan orang menggoyangkan kepala sekeras-kerasnya larut dalam musik. Pria wanita berbaur jadi satu. Bisa dibayangkan, ratusan manusia dalam keadaan fly, kebanyakan on karena ecstasy, sebagian lagi mabuk alkohol, menyatu dalam satu area dan berjoget bersama. Masuk ke lorong di lantai satu, kami menemukan suasana yang berbeda. Sepanjang lorong, tampak beberapa tamu berjejer di pagar besi. Sementara di ruangan VIP yang penuh, terdengar suara-suara tamu pria wanita yang tengah berpesta. Untuk bisa menggunakan ruangan itu pada hari-hari weekend mesti reservasi sehari sebelumnya. Tidak heran, kalau malam itu semua kamar sudah terisi. Beberapa tamu, ada juga yang mengadu untung dengan boking di tempat. Artinya, ia menunggu tamu lain keluar hingga gilirannya tiba.

Beberapa ruang khusus itu, main stream pelayanan yang diberikan lebih spesial. Ruang VIP sebelah kiri dan kanan rupanya puny a ciri pelayanan yang ber-beda. Ruang sebelah kiri yang langsung menghadap ke area dance floor menjadi ruang khusus untuk on kelas VIP. Tamu bisa langsung menyaksikan polah ribuan tamu yang berjoget di dance floor dari jendela yang dibiarkan terbuka. Musik house tak kalah menyentak terdengar. Di ruang inipun, tamu bisa memilih pasangan wanita yang telah disediakan LM. Mereka juga bisa diajak untuk menik-mati surga gedhek ke awang-awang bersamasama. Pemandangan yang kami saksikan selintas malam itu, memperlihat-kan semangat pesta pria wanita yang sudah terbelenggu obat-obat setan. Tak perlu rasanya kami ceritakan secara detail, bagaimana tamu pria yang memboking gadis-gadis bermata sipit berpesta pora. Sementara di ruang sebelah kanan, ruang VIP lebih difokuskan untuk tamu yang ingin bersantai dengan ditemai wanita cantik dan suguhan minuman yang memabukkan. Dan itulah yang dilakukan Ronald Cs.

Begitu kami kembali ke ruangan mereka, aroma alkohol bercampur dengan polah tingkah yang menjurus ke adegan cinta kecil-kecilan berulang kali terjadi. Berulang kali kami menahan nafas menyaksikan polah Ronald Cs bersama tiga pasangan wanitanya. Sedikitnya terdapat tiga botol wine dan sebotol tequila serta dua botol Chivas Regal tergeletak di meja. Pantas saja, mereka sudah tak begitu sadar. Bait lagu yang mereka nyanyikan hanya sebagai pelengkap aksesoris pesta. Di banding Ronald Cs, ketiga wanita itu boleh dibilang masih cukup sadar. Maklum, tugas mereka selain mengeruk tips sebesarbesarnya juga sebisa mungkin membuat tamu spend-money untuk minuman. Carol dan Aling untungnya tidak begitu larut dengan kegilaan Ronald Cs dan pasangannya. Rupanya, mereka setia menunggu kedatangan kami kembali. Dan percakapan panjang menjadi kegiatan yang kami lakukan hingga menjelang subuh. Di sudut lain, terjadi aktivitas lain yang biasa dilakukan layaknya kekasih kalau tengah bertemu dan melepas rindu.

Service Plus.

Dari percakapan kami dengan Carol dan Aling, kami mendapatkan banyak informasi. Wanita-wanita yang ada di LM pada prisipnya punya tugas yang tidak jauh beda dengan ladies night yang ada di tempat-tempat hiburan malam lain. Selain melayani tamu bak raja semalam, mereka juga punya satu pelayanan khusus. Di SD yang lokasinya tidak begitu jauh dengan LM misalnya, di ruangan VIP selain fasilitas karaoke, tamu bisa mendapatkan pelayanan lain berupa transaksi cinta di tempat. Juga pelayanan tarian striptease live dari ladies night yang diboking. Semua wanitanya, menawarkan jasa pelepas dahaga malam yang sama. Atau di diskotek ME yang juga menyediakan ruangan VIP untuk berkaraoke. Para wanitanya selain menyuguhkan pelayanan istimewa tapi juga menawarkan paket pelesir ke tempat tidur. Tentu saja tidak dilakukan langsung di tempat, tapi dibawa keluar. Begitu juga dengan DG, ka-wasan Kota Tua dan KB, kawasan Sudirman, yang wanitanya juga menyuguhkan tarian syahwat standar internasional.

Di LM lain lagi. Pelayanan striptis, tidak ada. Tapi, gadis-gadis LM siap menemani tamu on sampai pagi. Tidak hanya itu, kelebihan lainnya adalah mereka didominasi wajah-wajah sipit alias gadis Cina. Pelayanan seksual memang tidak diberikan langsung di tempat. Tapi bukan berarti mereka menolak ajakan plesir cinta di lain lokasi. Pada jam-jam kosong, mereka biasa menerima tawaran mar dari tamu-tamu LM. Carol sendiri mengaku, kalau dalam seminggu ia hanya bekerja empat hari. Tiga hari lain, ia memilih stand-by di kontrakannya di sebuah rusun semi apartemen di kawasan BC, Kota. Nah, selama hari off itu, akunya, ia biasa menerima tawaran lain yang sifatnya lebih khusus. “Kalau nggak menemani tamu dinner, paling-paling diajak pergi ke luar kota,” akunya. Kebanyakan, tamu yang membokingngnya adalah member-guest LM. Beberapa tamu lain adalah pelanggan setia di mana dulu ia bekerja. Gadis yang mengaku sebagai WNI keturunan kelahiran Jakarta itu mengatakan, kalau profesi sebagai ladies-night itu sudah cukup lama ia tekuni.

Pada awalnya ia bekerja di pub-karaoke MJ sebagai singer. Bukan penyanyi dalam arti yang sebenarnya, tapi sebagai peneman tamu yang ingin bernyanyi di ruang karaoke. “Tapi belakangan tamunya makin sepi. Kebetulan ada tempat baru, aku pindah,” ujarnya. Lama di MJ, gadis berambut lurus sebahu dengan kulit kuning langsat itu, mengaku hanya mau menemani tamu yang satu ras dengan darahnya. Kecuali ada tamu-tamu special yang menjanjikan lembaran lima puluh ribuan. Toh, lambat laun kebiasaan itu berubah lantaran tamu MJ yang datang amat beragam. Jumlah WNI keturunan dengan pribumi sebanding. Mau tidak mau, pada akhirnya ia menerima bokingan dari pria manapun. Setelah ia pindah ke LM, tamu setianya banyak juga yang menjumpainya. Meski dengan tarif yang sedikit mahal, tamutamunya itu seperti tidak ada masalah. Lantaran makin hari kebutuhan sehari-hari meningkat, ia mulai melayani order plus yang lebih menjanjikan uang banyak. Namanya juga tamu. Permintaan dari mereka pun amat beragam.

Menurut Carol, pelayanan yang diminta tamu terkadang banyak yang nyleneh. Tidak semua ingin berhubungan cinta, ada juga, katanya, yang hanya ingin ditemani makan malam. “Apa saja lah, yang penting duitnya jelas,” sergahnya. Begitu juga dengan Aling. Dunia yang ia tekuni sekarang ini sudah tak asing lagi dengan kehidupan sehari-hari. Pasalnya, ia bersama keluarganya hidup di tengah kawasan yang dipenuhi aneka tempat hiburan yang menyuguhkan aneka pelayanan, dari yang biasa sampai luar biasa. Gadis yang bercita-cita jadi model itu terpaksa menjadi ladies-night karena kebutuhan keluarganya yang tinggal di kawasan Mabes, makin meningkat. Awalnya, ia hanya ikut teman-temannya yang sudah lama berkecimpung di dunia malam. Biasanya, teman-temannya yang sudah banyak mempunyai tamu langganan yang ingin ditemani pergi ke satu tempat. Dari ke diskotek, karaoke sampai bermain judi. Nah, dari merekalah, awal mula Aling mulai menjelajah kehidupan malam. Bukan apaapa, menemani orang berduit bermain judi atau pergi ke diskotek relatif lebih enak karena biasanya mereka tidak begitu memusingkan urusan seks.

Dan sejak pertama order itu datang, ia sudah mempertegas diri tidak melayani urusan yang satu itu. Dari kerja sambilan itu, Aling mengaku mulai mendapat pendapatan lebih. Unsur uang jualah yang akhirnya membuat gadis bertinggi 169 cm itu memutuskan terjun secara profesional. Meski hanya tamatan sebuah SMU, toh pergaulan luas menjadikannya sosok matang, terutama dalam hal komunikasi. Terbukti, ia mudah bersosialisasi dengan tamu yang multi ras. Pertamakali ia bekerja di klub SR, Mabes. Statusnya seperti juga Carol sebagai ladyescort untuk pria yang berkaraoke. Hampir dua tahun ia bekerja di SR, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk freelance di beberapa tempat. Dua diantaranya, ME dan DG. Dengan freelance, ia lebih leluasa bergerak karena ia relatif sudah punya langganan tetap. “Kalau tamu ingin karaoke di satu tempat, biasanya telepon dulu. Terus, saya dijemput,” tandasnya. Sampai akhirnya salah satu temannya mengajak bergabung di LM. Iming-iming tempat ekslusif dengan gaji yang lumayan besar, membuat Aling tergoda untuk menerima.

Dan pada pertengahan 1999 lalu, ia resmi menjadi salah seorang lady-escort LM. Tentu saja Aling yang sekarang bukan sosok yang dulu. Sebagai profesional, ia mengatakan, siap memperlakukan tamu sebagai raja. Artinya, segala titah akan ia jalankan selama dalam tarap perjanjian bisnis yang jelas. Tentu saja, pelayanan yang diberikan di LM, sebatas menemani on atau tamu berkaraoke. Di luar LM? Ia menerima order untuk pelayanan yang sifatnya sangat privat. Tapi itu pun tidak sembarang tamu, tapi tamu yang sudah ia kenal sebelumnya. Dan satu order yang pantang ia terima adalah menari striptis. “Saya terus terang nggak punya keberanian untuk yang satu itu. Yang lain sih, boleh-boleh saja asal bayaran cocok,” kilahnya. Sementara kami terus bertukar cerita, Ronald Cs makin menggila. Entah sudah berapa gelas alkohol masuk ke perut mereka. Ketiga teman Carol dan Aling yang menemani mereka, nyaris kehilangan kontrol diri. Padahal, jam sudah menunjuk pukul 03.00 WIB dini hari. Toh, musik masih saja meraung di LM. Dan tamu-tamu sudah bermandikan keringat dingin. Pria dan wanita sama-sama basah dan kehilangan kendali.

Ah, terkadang kami juga bingung apa yang sebenarnya mereka cari? Kesenangan semu yang tiada ujung pangkalnya. Namun itu menjadi santapan sehari-hari hiburan malam di Jakarta yang nyaris tiada pernah sepi dengan pengunjung yang kesepian. Entah sepi dari apa? Kami juga tak mengerti.?

Popularity: 1% [?]

WP Text Ads Want visitors to your site? Buy an ad here.

Comments

This website uses IntenseDebate comments, but they are not currently loaded because either your browser doesn't support JavaScript, or they didn't load fast enough.

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!